
Barun menghentikan langkahnya kemudian fokus mendengarkan apa yang sedang di jelaskan oleh asistennya itu. Raut wajahnya berubah menjadi sangat serius.
"Ya sudah, hentikan terlebih dahulu produksi hari ini. Saya minta tolong kamu untuk cek semuanya. Sepertinya saya tidak akan ke kantor hari ini, tapi kalau waktu ada waktu luang akan saya usahakan. Bye."
Setelah memutuskan sambungan telepon, pria itu menghampiri ketiga orang yang sedang berkumpul.
"Kau sampai sini pukul berapa, Mosev?" tanya Barun lalu bersalaman dengan sepupunya itu.
"Pukul tujuh pagi. Tadi aku sempat mampir sebentar ke toko pakaian milik temanku, dan ... " Mosev menunjukan sebuah paper bag. "Aku tergiur dengan diskon yang di berikan olehnya, dan aku membeli empat kaos untuk kita semua."
Ketiga orang yang ada di hadapan Mosev saling bertukar pandang.
"Apa kau yakin akan menyuruh nenek juga memakai kaos ini?" tanya Barun mengerutkan alisnya yang tidak habis pikir akan kelakuan sepupunya itu.
"Ya, kenapa tidak? benak kan Nek?" Kali ini pertanyaan Mosev tertuju pada nenek.
"Hahahaha ... kau ini ada-ada saja. Persis seperti ayahmu!" timpal nenek sambil tergelak dengan tawanya. Sebab kelakuan Mosev persis seperti keponakannya.
"Jangan lupa dipakai ya Nek!" kata Mosev mengingatkan nenek lagi.
"Hahaha, iya kau tenang saja," jawab nenek dengan mata yang sudah berkaca-kaca karena sejak tadi tidak berhenti tertawa.
"Oh iya, kau jadi ke kantor Barun?" tanya Sabhira lalu mendekatkan dirinya pada sang suami.
"Iya," jawab Barun singkat. Namun raut wajah Sabhira murung kembali.
"Ya sudah kau sarapan saja dulu," kata gadis itu lalu berbalik badan dan berjalan menuju ruang makan.
"Hei, Barun! kenapa Sabhira jadi murung seperti itu?" tanya Mosev yang mulai penasaran.
"Dia hanya ingin ditemaniku ke acara festival jajanan, tapi aku sedang sibuk," jawab Barun dengan santai kemudian berjalan menuju ruang makan, karena Sabhira mulai menyiapkan sarapan di atas piringnya. Nenek dan Mosev pun mengikuti.
"Benarkah? wah itu sangat seru sekali sepertinya!" Seru Mosev sambil duduk di salah satu kursi yang kosong. Matanya melirik ke arah gadis yang masih sibuk melayani Barun. "Sabhira, bagaimana kalau aku yang mengantar kau pergi ke acara itu? pasti menyenangkan bukan daripada kau pergi sendiri?" ajak Mosev yang terlihat sangat bersemangat.
Gadis itu masih terdiam setelah mendengar ajakan Mosev. Tanpa sepengetahuannya pula, Barun memperhatikan wajah Sabhira dengan seksama.
"Semoga saja Sabhira menolak ajakan Mosev," ucap Barun yang berharap dalam hatinya.
__ADS_1
"Baiklah, ayok!" jawab Sabhira yang tiba-tiba dengan suara lantang layaknya gayung bersambut.
Barun seketika menoleh ke arahnya dengan tatapan yang sulit diartikan oleh Sabhira. "Kau!" ucapnya dengan rahang yang langsung mengeras serta dadanya pun mulai kembang kempis.
Karena amukannya tidak ingin menjadi bahan tontonan orang-orang di meja makan. Barun menarik napas dalam lalu dihembuskan amat berat.
"Mosev, titip istriku selama ada di festival itu dan ... " Barun mengeluarkan dompet serta mengambil salah satu kartu debit berwarna hitam dari dalamnya. "Ini kalian gunakan untuk jajan apapun yang kalian suka di sana," lanjut pria itu seraya memberikan kartunya pada Sabhira.
Gadis itu pun menerimanya dengan senang hati.
"Ku harap kau bisa bijak menggunakan kartu itu," pungkas Barun yang kemudian memasukkan dompetnya kembali ke dalam saku celana. Ia pun segera menyelesaikan sarapannya.
"Baik, Tuan," jawab Sabhira sambil tersenyum sumringah.
...----------------...
Setelah selesai sarapan, Barun beranjak dari duduknya.
"Kau sudah ingin berangkat sekarang?" tanya nenek saat melihat Barun telah berdiri.
"Iya, Nek. Sedang ada masalah di produksi. Aku harus pergi ke perusahaan sekarang," jawab Barun sambil membenarkan jasnya.
Sabhira yang masih menikmati sarapannya, langsung ikut beranjak karena melihat ponsel milik suaminya tertinggal di atas meja makan. Dengan segera gadis itu memberikannya pada sang suami.
"Tuan, ponselmu tertinggal," kata Sabhira membuntuti Barun sampai di ruang tamu.
Pria itu menghentikan langkahnya yang tadi sempat terburu-buru lalu berbalik badan. "Mana?" tanyanya dingin. Sikap itu sengaja ia tunjukkan untuk menutupi rasa malunya.
Sabhira pun memberikannya pada sang empunya. "Ini, jangan sampai tertinggal lagi. Hati-hati di jalan," katanya. Namun Barun hanya tersenyum simpul lalu berbalik badan lagi.
Hembusan napas panjang dikeluarkan begitu saja oleh Sabhira ketika Barun telah keluar dari mansion. Ia pun kembali ke meja makan.
...----------------...
Satu jam kemudian, Sabhira dan Mosev telah sampai di festival jajanan yang ada di pusat kota.
"Wah ramai sekali!" seru Sabhira dengan wajah yang berseri-seri.
__ADS_1
"Iya, sudah lama sekali aku tidak pulang ke negera ini. Ternyata sudah banyak yang berubah ya!" timpal Mosev. Ingatannya akan zaman sebelum ia pergi ke luar negeri menjadi bandingannya dengan masa kini.
"Oh ya? selama ini kau tinggal dimana Mosev?" tanya Sabhira yang ingin tahu.
"Amerika. You know? Sepuluh tahun di sana tapi aku tidak bisa melupakan bahasa negara ini yang telah ku tanam sejak lahir," jawab Mosev membuat Sabhira takjub.
"Hebat sekali! lalu makanan apa yang kau suka? mungkin kita langsung saja berkeliling. Siapa tahu ada yang lezat!" seru Sabhira lagi.
"Aku sih random, semua makanan aku suka. Kalau kamu?" tanya Mosev yang kali ini keduanya mulai berjalan menelusuri setiap tenda yang berisi aneka jajanan itu.
"Sama. Karena aku suka sekali makan," jawab Sabhira terkekeh, namun matanya tetap meneliti satu per satu jajanan di masing-masing tenda.
"Baiklah itu artinya kita satu server!" kata Mosev sambil tergelak dengan tawanya.
"Hahaha iya kamu benar!" sahut Sabhira. Keduanya sangat bekerja sama dengan baik.
...----------------...
Hingga tanpa terasa, hari sudah semakin sore. Para pengunjung festival semakin ramai bahkan hampir memadati ruang untuk pejalan kaki.
Sabhira yang kini tengah membeli minuman, tiba-tiba kehilangan Mosev yang tertutupi oleh orang-orang yang keluar masuk. Terbesit ada kecemasan dalam dirinya.
"Duh, Mosev kemana ini? ramai sekali. Aku tidak bisa melihat keberadaannya. Bagaimana kalau aku sampai tersesat?" Sabhira bermonolog sambil merumat-rumat kedua tangannya.
Setelah mendapatkan minuman yang diinginkan, gadis itu berjalan kembali. Namun arahnya bukan keluar tempat acara, melainkan masuk semakin dalam hingga sampai di sebuah tanah lapang dengan banyak sekali tenda di sana.
Mungkin tepatnya hampir mirip dengan pemukiman kumuh. Gadis itu menoleh ke sekeliling. Dia tidak tahu dimana dia sekarang.
Sementara Mosev yang berada di halaman parkir terus mondar mandir mencari keberadaan Sabhira. Pasalnya kartu debit yang diberikan Barun ada padanya, sebab yang terakhir menggunakan adalah dirinya.
"Waduh aku kehilangan Sabhira! kalau sampai Barun tahu, bisa-bisa habislah aku dicincang seperti tetelan sama dia ... Sabhira kau dimana sih! aku cemas sekali." Mosev bermonolog.
To be continue ...
...****************...
Selamat malam. Kali ini aku mau kasih kalian rekomendasi novel yang bagus dong tentunya. Datangnya dari karya Trias Wardani, berjudul Belenggu Hasrat Tuan Muda. Jangan lupa mampir ya teman-teman 😊
__ADS_1