Dipersunting Tuan Barun

Dipersunting Tuan Barun
BERUJUNG PANAS


__ADS_3

"Lalu, kapan kontes itu akan di mulai?" tanya Mosev yang semakin penasaran. Begitu pun dengan nenek.


"Aku baru saja mendaftarkan Sabhira tadi siang. Lusa dia harus ke perusahaan modeling untuk verifikasi data serta persiapan masuk asrama. Sabhira akan menjalani masa karantina selama satu minggu full. Namun ia masih tetap bisa pulang ke mansion, karena itu khusus aku yang minta selaku produser acara kontes model tersebut. Meski demikian, selama masa karantina berlangsung Sabhira tetap harus mengikuti peraturan yang ada."


Kedua orang yang diajak bicara oleh Barun akhirnya paham. Sebab mereka sangat tahu se-posesif apa Barun pada orang yang dicintainya.


"Apa ada pertanyaan lagi?" tanya Barun lalu terkekeh. "Aku berasa sedang diwawancara oleh wartawan," lanjutnya.


"Tidak ... " Nenek kemudian melihat ke arah jam dinding sambil berdiri. "Sudah malam, waktunya kalian tidur sana. Aku juga sudah mengantuk," kata nenek memberi komando, kemudian melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar.


"Oke, Nek!" seru Barun dan Mosev bersamaan. Tanpa saling berbicara lagi, keduanya pun pergi ke kamar mereka masing-masing.


...----------------...


Barun membuka pintu kamar dan tak lupa ditutupnya kembali. Pria itu mencari keberadaan istrinya ke sekeliling kamar.


"Sabhira!"


Namun tidak ada sahutan dari orang yang dipanggil. Tak disangka orang yang sedang Barun cari, sedang berada di pinggir kolam renang.


"Sedang apa dia di sana malam-malam begini?" tanya Barun bermonolog. Matanya memperhatikan Sabhira dari jauh.


Seulas senyum pun mengembang dari kedua sudut bibirnya.


"Oh ternyata dia benar-benar sedang olahraga," gumam pria itu sambil mengulum bibir karena menahan tawa. Sebab ia tidak ingin mengganggu konsentrasi Sabhira yang sedang fokus dengan gerakannya.


Dari mulai melakukan gerakan tangan ke atas, bawah, kanan dan kiri. Selanjutnya dilakukan bersamaan dengan gerakan kaki. Akan tetapi, ketika Sabhira mengangkat kaki kiri lalu ditekuk ke dalam dan ditempelkan pada bagian lutut kaki kanan, keseimbangannya mudah goyah.


Namun Sabhira tetap mencobanya hingga tubuhnya merasa seimbang. Setelah berkali-kali mencoba, akhirnya berhasil. Barun yang awalnya merasa was-was, ikut tersenyum bahagia saat melihat Sabhira bisa melakukannya.


Setelah merasa cukup seimbang, kini gerakan itu dipadukan dengan mengangkat kedua tangan ke atas lalu menyatukan kedua telapak tangan tepat di atas kepala.


Satu detik ... masih aman.

__ADS_1


Dua detik ... lumayan masih aman.


Tiga detik ... mulai goyah. Barun pun mulai resah karena Sabhira takut jatuh tersungkur ke kolam.


Empat detik ... semakin goyah. Wajah Sabhira pun sangat gugup.


Lima detik ... Sabhira akan terjatuh ke kolam, dengan cepat Barun berlari lalu meraih kedua tangan istrinya.


Sontak napas Sabhira pun kian memburu. Apalagi detak jantungnya yang cukup cepat seolah merasa darah dalam nadinya mengalir begitu deras.


Perlahan Barun menurunkan tangan Sabhira dan menaruhnya di samping kanan dan kiri. Tidak tinggal diam, wajah pria itu ditenggelamkan ke leher sang istri.


Sabhira bersusah payah menelan ludahnya. Terlebih saat kedua tangan Barun perlahan membelai lembut dari telapak tangan sampai bahu. Meskipun tidak saling bersentuhan langsung karena terhalang hoodie dengan bentuk lengan panjang, tapi bagi Sabhira itu sangat terasa.


"Kau harus tanggung jawab karena telah berhasil membuat jantungku hampir saja copot ... " ucap Barun seraya menghembuskan napasnya yang terasa hangat di leher Sabhira. Namun gadis itu tidak mampu berkata-kata karena bulu halus di sekujur tubuhnya mulai berdiri dan merasa merinding.


Tiba-tiba Barun menghentikan aktifitasnya. Sabhira pun dengan cepat tersadar. Niat gadis itu ingin menghindar, tapi rupanya kakinya mengenai kaki Barun. Alhasil dirinya lagi-lagi hampir terjatuh. Dengan cepat pula, Barun langsung meraih pinggangnya dan mencoba untuk menahan tubuh Sabhira.


"Dua kali. Ku tunggu kau di kamar!" titah Barun lalu melepaskan tangannya dari pinggang Sabhira dan memastikan kalau gadis itu sudah berdiri dengan seimbang. Lalu Barun pun pergi ke kamar.


Akan tetapi setibanya di kamar, Sabhira tidak menemukan Barun di sana. Ia memilih untuk menutup pintu kaca itu kembali. Setelah itu gorden kamarnya.


Walaupun baru sempat olahraga sebentar, tapi tubuh Sabhira sampai berkeringat. Karena malas untuk berganti pakaian, gadis itu duduk di sofa sambil bersandar serta meluruskan kakinya.


"Sejuknya," gumamnya lalu memejamkan mata.


Tanpa disadari olehnya, Barun yang baru keluar dari kamar mandi hanya menggunakan lilitan handuk yang menutupi area pinggang sampai lutut. Pria itu kemudian berjalan mendekati Sabhira yang sepertinya ... "Hoookhyuuu, hoookhyuuu." Gadis itu tertidur.


"Ck!" Barun berdecak. "Selalu saja begini," gerutunya lalu berjalan ke lemari dan mengambil pakaian untuk Sabhira serta dirinya.


Pria itu mulai menggantikan pakaian Sabhira terlebih dahulu. Pikirannya kacau saat melihat tubuh molek nan mulus terpampang nyata di depannya.


Sorot matanya pun mulai sayu. Pria itu menginginkan sesuatu yang sangat ia ingin rasakan lagi.

__ADS_1


"Sabhira, I want you ... " Wajahnya sengaja di dekatkan disamping telinga Sabhira. Lalu meniupkan udara tepat di area lubang telinga. Gadis itu menggeliat dengan suara des ahan yang sempat terdengar oleh Barun. Tentunya hal itu membuat sebuah senyuman mengembang dari kedua sudut bibirnya.


Sabhira membuka kedua matanya lalu tersentak kaget karena tidak memakai pakaian sama sekali. "Apa yang ingin kau lakukan, Tuan?" tanyanya merasa gugup. kedua matanya reflek terpejam. Ingatan akan pele cehan itu kembali tergambar dibenaknya.


"Pergi! jangan sentuh aku! ... " Sabhira berusaha keras mendorong Barun supaya menyingkir dari hadapannya. "Aku kotor!" bentaknya di depan wajah pria itu.


"Aku suamimu!" Barun tak kalah meninggikan suaranya sambil mencekal kedua tangan Sabhira. "Katakan padaku, dimana mereka menyentuh bagian tubuhmu? biar aku yang akan menghapusnya." Seketika suara pria itu menjadi sangat lembut.


Sabhira tidak menjawabnya. Matanya memerah serta berkaca-kaca. Gadis itu kemudian hendak bangun. Namun dengan cepat, Barun menyerangnya memberi sebuah pagutan yang sangat rakus. Awalnya Sabhira berontak, karena terkejut.


"Percaya padaku. Maka aku akan menyembuhkan lukamu," ucap Barun di sela pagutannya.


Kini permainan yang diberikan oleh Barun mulai bertempo lambat dan juga lembut. Semakin lama, Sabhira pun terbuai.


"Sudah cukup nyaman?" tanya Barun sebelum melanjutkan permainannya kembali. Sabhira mengangguk sebagai jawaban.


"Aku ... mencintai ... mu." Barun berhasil melesatkan senjatanya hanya dalam satu tekanan penuh.


"Ahmmmhh ... " Lenguhan pun tak bisa tertahan oleh Sabhira.


"Apakah sakit?" tanya Barun lagi. Pria itu memastikan kalau Sabhira baik-baik saja.


"Tidaaakhhhh," jawab Sabhira yang secara bersamaan Barun mulai memberi hentakkan pada daerah intinya.


Keduanya saling terhanyut dalam setiap denyutan dan sentuhan satu sama lain. Hingga akhirnya dalam kurun waktu dua jam lamanya, mereka pun ambruk bersama setelah pelepasan itu terjadi.


Karena malam yang mulai larut, setelah bersih-bersih serta memakai pakaiannya kembali, mereka pun akhirnya pergi ke alam mimpi saling berpelukan.


To be continue ...


...****************...


Melelahkan pasti mereka itu. Yuk santai dulu, kita mampir ke karya yang wajib kalian baca juga yaitu dari Melisa yang berjudul Annisa Istri Kecilku.

__ADS_1



__ADS_2