Direktur Iblis Itu Jodohku

Direktur Iblis Itu Jodohku
PART 13


__ADS_3

Kevin masuk kedalam ruang kerja Leon dengan wajah khawatir.


"Ada apa pak Leon?" Tanya Kevin.


"Kevin,buat surat pemecatan untuk Della dan Hani." Ucap Leon membuat Kevin terkejut.


"Kok tiba tiba? Bukankah semua baik baik saja?" Ucap Kevin masih dengan wajah bingung.


"Aku tidak bisa menerima mereka bekerja lagi,karena mereka bisa melukai istriku kapan saja." Ucap Leon dengan wajah khawatir.


"Aku rasa Shera bukan wanita lemah yang akan kalah jika bertengkar dengan wanita wanita itu." Ucap Kevin tersenyum bangga setelah melihat CCTV.


Dari semua karyawan hanya Kevin yang mengetahui status Shera yang sebenarnya karena Kevin adalah sahabat baik Leon.


"Tapi tetap saja itu membuat aku khawatir." Ucap Leon.


"Kapan terakhir kali aku melihat kamu khawatir seperti ini? Kalau tidak salah saat wanita itu pergi." Ucap Kevin membuat raut wajah Leon berubah.


Keesokkan harinya Hani mendapat surat pemberhentian hubungan kerja dari WID corp. Della duduk di kursi kerjanya dengan wajah pucat.


'Tiba tiba Hani di pecat tanpa pemberitahuan dan kenapa aku tidak di pecat? Apa mungkin Kak Leon sekarang sudah sadar jika akulah orang yang dia cintai?' Pikir Della seketika membuat wajahnya langsung semangat.


Sementara itu ruang kerja Leon,Shera sedang duduk di kursi kebesaran milik Leon sementara Leon sedang bersimpuh di hadapan Shera.

__ADS_1


"Kenapa kamu seenaknya pecat karyawan?" Tanya Shera dan membuat Leon mendongakkan wajahnya.


"Ya kan mereka sudah membahayakan kamu!" Ucap Leon sembari menundukkan wajahnya merasa bersalah.


"Leon,ini cuma masalah sepele! Kamu tidak tahu dampak kedepannya seperti apa? Bagaimana kalau gosip soal aku selingkuhan kamu itu jadi tambah melebar?" Ucap Shera dan Leon baru terpikirkan akan hal buruk itu.


"Aku minta maaf!" Leon menyesal akan keputusannya.


Hari ini mereka akan pergi ke Singapore untuk menjemput kedua anak Shera.


"Selamat siang nyonya Asher." Seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan Shera dan Leon.


"Selamat siang nyonya Thalia. Dimana kedua anakku?" Shera heran karena biasanya saat ia datang Chika akan mendorong kursi roda Rey.


"Jadi,sebulan lalu ada seorang wanita datang kesini membawa sebuah berkas tes DNA yang menyatakan bahwa Chika adalah putri kandungnya." Shera terkejut dengan berita yang ia dapatkan ini.


"Wanita itu membawa paksa pergi Chika,saya tidak bisa menghalaunya karena beliau adalah ibu kandung Chika." Nyonya Thalia berbicara dengan nada penyesalan.


"Mohon maaf nyonya Thalia,jika memang wanita itu adalah ibu kandung Chika,saya juga tidak bisa menyalahkan anda. Saya akan ikhlas melepaskannya. Lalu sekarang dimana Rey?" Shera khawatir kepada putranya karena dia pasti sangat kehilangan Chika.


"Rey ada di kamarnya,setelah kepergian Chika dia menjadi pendiam dan enggan untuk bersosialisasi kembali." Nyonya Thalia menunjukkan jalan menuju kamar Rey.


Seorang lelaki kecil berusia lima tahun sedang duduk di kursi roda miliknya sembari menatap keluar jendela dengan sedih. Shera menghampiri putranya itu dengan pelan lalu perlahan memeluk tubuh dingin itu dan seketika Rey menoleh kepada Shera dan meneteskan air mata.

__ADS_1


"Mami,kak Chika pergi. Rey tidak bisa menjaga kak Chika dengan baik seperti yang mami suruh." Rey benar benar seorang yang bertanggung jawab.


"Kak Chika pergi bersama mama kandungnya,Rey tidak boleh sedih. Karena kak Chika sudah bahagia bisa bertemu dengan keluarganya." Shera tersenyum mengusap pucuk kepala putranya.


Sementara itu Leon di belakang Shera sangat terkejut melihat wajah Rey yang sedikit mirip dengannya.


"Apa mami akan meninggalkan Rey juga saat mami sudah bertemu dengan keluarga mami?" Rey sangat takut jika dia harus hidup sendirian.


"Tidak,mami kesini untuk menjemput Rey pulang ke rumah. Oh iya,mami lupa memperkenalkan seseorang." Shera menarik tangan Leon membuat Leon terkejut.


"Ini papi Rey,namanya papi Leon. Kita akan tinggal di Indonesia bersama." Seketika senyum manis terlukis di wajah Rey dan kehangatan membuncah di hatinya.


Siang itu Leon dan Shera menemani Rey bermain dan setelah Rey tertidur Leon mengajak Shera keluar dari kamar Rey.


"Mengapa kamu mengadopsi anak yatim piatu?" Leon benar benar penasaran alasan di balik Shera yang mengadopsi anak di usia muda.


"Saat awal aku pindah ke Singapore,semua Tidak berjalan sesuai dengan apa yang aku rencanakan. Kesulitan mencari pekerjaan membuat aku harus bekerja part time di sebuah minimarket. Bekerja Sore dan pulang dini hari di tambah aku tinggal di daerah kumuh karena disana harga tempat tinggal sangat murah. Hari itu aku pulang dini hari seperti biasa dan entah sedang sial atau bagaimana aku justru bertemu dengan sekelompok penjahat yang sedang menghadang sebuah mobil mewah. Lelaki tua pemilik mobil itu tidak bisa apa apa saat itu,aku dengan berani berteriak memanggil bantuan dan tiba tiba sebuah peluru melesat ke arahku. Setelah sadar aku berada di rumah sakit dan mereka bilang aku akan sulit untuk memiliki anak. Itu sebabnya aku mulai adopsi Chika dari panti asuhan." Tak sadar butiran air turun di pipi Shera. Leon benar benar tidak menyangka bahwa Shera menjalani kehidupan yang sulit di Singapore.


"Kamu hebat,sangat hebat. Aku bangga bisa memiliki wanita hebat seperti kamu." Leon tersenyum sembari mengusap air mata di pipi Shera.


"Sekarang kamu tahu aku tidak akan bisa memberikan keturunan kepada kamu. Aku tidak akan memaksa kamu untuk bersama aku." Shera menyerah atas mimpinya untuk memberikan keluarga lengkap kepada Rey.


"Aku tidak akan meninggalkan kamu. apapun yang terjadi aku akan tetap berada di samping kamu." Leon tersenyum lalu mengecup kening Shera.

__ADS_1


Malam harinya mereka kembali ke Indonesia membawa Rey bersama mereka. Rey sangat senang naik pesawat dan terus saja berceloteh.


__ADS_2