
"Maaf ya pak Ray! Anak saya salah mengenali anda sebagai papanya." Ucap Shera sembari tersenyum walau sejujurnya dia sangat kesal karena Ray merebut ponselnya.
"Tidak masalah Bu Fanya, lagipula anak anda sangat tampan mirip pula dengan saya." Ucap Ray bangga sementara Shera menatapnya dengan tatapan jijik.
'Cihh,,maksudnya dia itu tampan? pede gila.' batin Shera.
"Ngomong ngomong pak Ray tau saya punya anak darimana?" Tanya Shera kembali ke pembahasan awal.
"Sebenarnya,,aduh macam mana ya saya nak cakap?" Ucap Ray dengan logat Melayunya.
"Pak Vincent meminta saya untuk mendekati Bu Fanya karena status kita sama." Celetuk Ray membuat Shera melongo.
"Maaf ya pak Ray! terkadang Vincent itu memang bodoh. jangan di dengar omong kosong macam itu. Suami saya masih hidup jadi saya tidak mungkin menikah dengan orang lain." Ucap Shera sembari menjauh dari Ray.
"Iya Bu Fanya not problem." Ucap Ray dengan wajah kecewa.
"Baiklah pak Ray, saya permisi karena ini sudah jam pulang saya." Ucap Shera sembari berdiri dari duduknya.
"Maafkan saya Bu Fanya jadi menunda waktu pulang Bu Fanya." Ucap Ray dengan raut wajah tidak enak.
"Iya,tidak masalah,saya permisi pak Ray!" Ucap Shera sembari meninggalkan ruang meeting.
Sementara itu Ray masih duduk disana melamun.
"Bu Fanya siapa kamu sebenarnya? mengapa saya merasa nyaman di dekat anda?" Gumam Ray sembari menekan dadanya.
tring,,tringg
Suara ponsel membuat buyar semua lamunan Ray. Ray memeriksa ponselnya namun bukan ponsel miliknya yang berbunyi dan seketika ia menangkap benda pipih tak jauh dari dirinya yaitu di tempat dimana Shera duduk tadi.
"Bu Fanya ini bisa bisanya meninggalkan ponsel disini." Ucap Ray sembari melihat layar ponsel Shera disana terlihat foto Shera dan Leon saat Shera hamil 4 bulan.
drrtrt,,drrrttr
__ADS_1
tiba tiba sebuah telepon dari nomor tidak di kenal masuk kedalam ponsel shera. tanpa di sengaja Ray menjawab telepon itu dan meletakkan telepon di telinganya.
"Bu Shera, saya mendapat info keberadaan pak Leon, setahun lalu markas rahasia pak Leon meledak tetapi disana tidak di temukan jasad pak Leon kemungkinan pak Leon selamat dan saat ini saya mendapat info jika ada orang yang melihat keberadaan pak Leon di Malaysia." Ucap orang tersebut tanpa memastikan siapa yang menerima teleponnya.
"Bu,,Bu Shera,, anda masih disana?" Ucap orang tersebut.
Leon memutuskan sambungan telepon tersebut. karena ia merasa tidak seharusnya dia mengetahui hal tersebut.
"Bodoh bodoh! Bisa bisanya aku meninggalkan ponsel di ruang meeting." Ucap Shera sembari berjalan cepat menuju ruang meeting.
"Bu Fanya anda meninggalkan ponsel anda di ruang meeting." Ucap Ray yang saat itu sudah keluar dari ruang meeting.
"Terimakasih pak Ray." Ucap Shera sembari meraih ponselnya.
"eemm,Bu Fanya mohon maaf tadi saya tidak sengaja menerima telpon di ponsel anda. orang itu mengatakan dia mengetahui keberadaan pak Leon di Malaysia." Ucap Ray menyampaikan info tersebut.
"Malaysia?" Gumam Shera
"mlMaaf pak Ray saya harus segera pulang dan terimakasih sudah menyampaikan informasinya." Ucap Shera sembari tersenyum ceria dan meninggalkan Ray.
'senyum Bu Fanya manis banget' bathin Ray.
Malam hari di sebuah rumah mewah di salah satu kompleks elite.
"Kenapa jadi terbayang Bu Fanya terus ya? tapi tadi orang di telpon memanggil Bu Fanya dengan panggilan Shera?" Ray melamun di hadapan komputer di dalam ruang kerjanya.
Ray pun iseng mengetikkan nama Fanya dan tak lama muncul beberapa data. namun data yang dia inginkan tidak ada disana. lalu dia mengetik nama Shera dan hasilnya lebih mengejutkan bahwa disana banyak sekali data orang bernama Shera ini tetapi tatapan Ray tertuju pada sebuah artikel Singapura.
SHERANITA ATMADJA MENGHILANG.
"Memang dia segitu terkenalnya di Singapura sampai di buat artikel begitu." Ucap Ray sembari melihat melihat yang lainnya.
Ray membaca sebuah artikel lainnya tentang Sheranita atmadja dimana artikel tersebut menyebutkan jika data Sheranita atmadja menghilang dari internet membuat semua perusahaan besar bingung.
__ADS_1
"Sumpah ini wanita pasti jenius sebab tuh dia di cari banyak orang." Comment Ray sembari mengusap dagunya.
"Jadi teringat pasal Bu Fanya. ia hanya accounting tetapi bisa mendapat hak manager sekaligus direktur." Ucap Ray memikirkan Shera.
"Penasaran sangat aku dengan Bu Fanya ini." Ucap Ray lalu setelah itu dia menelpon salah satu anak buahnya.
"Tolong cari tahu tentang Fanya karyawan perusahaan batu bara yang akan bekerja sama dengan perusahaan kita." Ucap Ray di telpon.
Tak lama kemudian masuklah seorang lelaki kedalam ruang kerja Ray.
"Bagaimana?" tanya Ray.
"Nama Fanya Cecilia,usia 27 tahun seorang single parents,memiliki anak bernama Kenzo berusia kurang lebih satu tahun,,,"
"Maksud saya asal dia darimana?" Potong Ray saat asistennya menjelaskan hal yang tidak penting.
"Fanya Cecilia masuk perusahaan batu bara 7 bulan lalu dan langsung mendapat posisi manager pemasaran, tentang asal usulnya tidak di temukan tuan." Ucap anak buah Ray.
"Baiklah,kamu boleh keluar!" Ucap Ray.
'Bu Fanya membuatku penasaran saja. Bagaimanapun rasanya nyaman sekali berada disisinya walau baru jumpa rasanya berbeda saat saya bersama Gea.' bathin Ray.
Keesokkan harinya Shera berangkat kantor agak siang dari biasanya karena pagi tadi Kenzo menangis tidak ingin di tinggal dan finally Kenzo di bawa ke kantor.
Shera memasuki gedung perusahaan ketika tiba tiba terdengar suara tidak enak.
"Kenzo sayang,aunty coming!" Teriak Kiki dari dalam.
"Bu direktur selamat pagi!" Ucap Shera sopan.
"Gak perlu formalitas?" Ucap Kiki sembari mengusap pipi Kenzo.
"Bu direktur mohon jaga sikap anda." Bisik Shera seketika Kiki melihat ke segala arah dan banyak yang memperhatikannya.
__ADS_1
"emm ehemm, kembali bekerja!" Ucap Kiki tegas.
Sherapun langsung membawa Kenzo ke ruang kerjanya saat Kiki masih sibuk memperbaiki image.