Direktur Iblis Itu Jodohku

Direktur Iblis Itu Jodohku
MIIN 28


__ADS_3

"Wah mami cantik sekali!" Mata Kwan berbinar menatap Aera yang sedang mencoba menggunakan gaun berwarna tosca.


"Mami perfect!" Puji Juro yang sedang mencoba tuxedo miliknya.


"Kalian membuat mami malu." Semburat merah nampak di pipi Aera.


Kwan dan Juro pun tertawa melihat tinggal mami mereka yang seperti remaja. Tak lama kemudian Kenzo keluar dari salah satu ruangan menggunakan tuxedo berwarna senada dengan gaun milik Aera.


"Apa yang kalian tertawa kan?" Kenzo duduk di sisi Kwan sembari melihat Juro dan Aera mencoba pakaian mereka.


"lihatlah wajah mami,dia tersipu malu jika di sebut cantik." Kwan menunjuk wajah Aera yang memerah.


"Mami kalian sudah cantik sejak dulu." Wajah Aera semakin memanas setelah mendengar ucapan Kenzo dan tampak Kenzo mengerlingkan mata kanannya.


"Benar-benar genit." Seketika Kwan dan Juro tertawa sementara penata busana hanya bisa menahan tawa mereka melihat tingkah keluarga ini.


"Papi bisakah setelah ini kita pergi makan? Kwan sangat lapar." bisik Kwan kepada Kenzo membuat Kenzo melirik putrinya itu.


"Baiklah,Kwan boleh pilih dimana Kwan akan makan." Kenzo berbisik sembari mengacak rambut putrinya.


"Kakak,lihat aku!" Juro berkacak pinggang di hadapan Kwan dan Kenzo menunjukkan tuxedo berwarna tosca yang ia pakai.


"Juro sangat tampan dan kurang tinggi." puji sekaligus ledekan di keluarkan oleh Kwan membuat Kenzo menahan tawa sementara Juro menggembungkan kedua pipinya.


"Juro sangat tampan,mami suka Juro." Aera datang dan merangkul bahu kecil Juro.


"Mami,kakak sebut aku pendek!" Adu Juro kepada Aera.

__ADS_1


"Kakak tidak sebut Juro pendek ya! Hanya kurang tinggi." bela Kwan tak mau kalah.


Aera hanya bisa menutupi wajahnya,lelah melihat mereka berdua selalu bertengkar setiap hari.


"Kamu sangat cantik!" bisik Kenzo yang tiba tiba memeluk Aera dari belakang.


"Aku tidak percaya kita bisa berkumpul bersama seperti ini." Aera menoleh kepada Kenzo dan tersenyum lalu melihat kedua anaknya yang masih bertengkar prihal pendek dan kurang tinggi.


"Terimakasih untuk semuanya,kamu tidak hanya memberikan aku seorang putra,kamu juga memberiku seorang putri yang cantik dan cerdas." Kenzo mengecup pucuk kepala Aera melihat kedua anaknya yang masih bertengkar.


Setelah berakhirnya pertengkaran Kwan dan Juro mereka memutuskan untuk segera pulang karena hari mulai gelap dan tak lupa pergi makan bersama,setelah kenyang Kwan dan Juro tertidur lelap di dalam mobil karena lelah setelah seharian fitting baju.


Hari ini adalah hari yang mendebarkan bagi Aera,karena hari ini ia akan menikah dengan lelaki idamannya.


"Kwan berharap papi dan mami akan terus hidup bahagia sampai Kwan,Juro dan adik-adik bisa membahagiakan mami dan papi." Aera sangat terharu dengan ucapan Kwan.


"Mami,papi,dan Juro sangat sayang Kwan. bagaimanapun Kwan sudah menemani mami selama ini." Aera mengecup kening Kwan berharap gadis kecil nya berhenti menangis.


Setelah acara bersedih itu,Kwan menggandeng telapak tangan Aera untuk keluar dari ruang make up. Aera melangkah perlahan mengimbangi langkah kecil Kwan. Tak jauh dari sana tampak Kenzo yang sedang berdiri menantinya.


Tangan kecil Kwan terulur menggapai telapak tangan kasar milik Kenzo lalu meletakkan telapak tangan Aera di atas telapak tangan Kenzo.


"Kwan berharap mami dan papi bisa bersama sampai Kwan dan adik-adik dewasa dan menikah nanti." Kwan mencium punggung tangan Kenzo dan Aera bergantian lalu tersenyum dan melepaskan pegangannya.


Acara hari ini berakhir setelah mereka makan malam bersama. Aera mengantarkan Kwan dan Juro ke kamar tidur mereka masing masing.


Saat ini Aera sedang duduk di depan cermin rias sembari membersihkan wajahnya yang masih menyisakan bekas make up.

__ADS_1


"Sedang memikirkan apa?" Tanya Kenzo yang saat ini sudah berdiri di belakang Aera dengan handuk di atas kepalanya.


"Ngga,cuma capek saja." Aera menghembuskan nafas panjang.


"Ada yang kamu pikirkan?" Kenzo sangat khawatir dengan kondisi Aera.


Aera berdiri lalu berjalan menuju ranjang berukurang king di dalam kamarnya itu.


"Rara benar benar sedih saat Kwan berkata prihal adik adik,bahkan ia tidak mengetahui jika aku tidak bisa memberinya adik selain Juro." Aera mengusap perut ratanya.


"Rara jangan sedih,kak Kenzo sudah cukup memiliki Rara,Kwan dan Juro. Ada atau tidaknya adik buat mereka itu tidak masalah untuk kak Kenzo,karena kondisi Rara saat ini karena kebodohan kak Kenzo dulu." Kenzo bertekuk lutut di hadapan Aera sembari menggenggam kedua telapak tangan Aera.


"Rara berharap suatu saat nanti Rara bisa memberikan seorang adik untuk mereka." Aera menatap langit langit kamar agar air matanya tidak terurai jatuh.


"Hari ini kan Rara sudah lelah,sekarang kita istirahat dulu saja." Kenzo membaringkan tubuh Aera di atas ranjang dan ia sendiri berbaring disisi lain ranjang sembari memeluk Aera.


Kenzo mendekap erat tubuh Aera berharap Aera tidak terlalu sedih memikirkan prihal tadi.


"Kwan,Juro berhenti bertengkar!" Teriak Aera dari arah dapur.


Kwan dan Juro duduk di kursi makan dengan sikap yang kembali tenang. Kenzo turun hanya mengenakan celana pendek dan kaus lalu menghampiri Kwan dan Juro di meja makan.


"Apa kalian kena omel mami kalian lagi?" tunjuk Kenzo ke arah Kwan dan Juro bergantian sembari tertawa kecil.


"Kakak yang mulai duluan." Adu Juro sembari melirik kesal kepada Kwan sementara Kwan tidak memperdulikannya.


Ini adalah adegan setiap pagi yang Kenzo rasakan sejak seminggu lalu,sejak Kwan dan Juro tinggal bersama. Sebelumnya Kwan meminta untuk sekolah asrama agar tidak mengganggu keluarga Aera dan Kenzo tetapi Aera dan Kenzo menolak tegas pemikiran dewasa gadis kecil mereka ini. Hasilnya setiap pagi Kwan dan Juro akan saling bertengkar entah prihal sarapan atau hanya karena kecerobohan mereka masing-masing. Biasanya setelah mereka bertengkar Aera akan berteriak dan sekaligus membangunkan tidur nyenyak Kenzo.

__ADS_1


__ADS_2