
Keesokkan harinya,pagi pagi sekali Kenzo meninggalkan Gladis lalu pergi menuju apartement milik Aera. Kenzo menekan tombol password pintu apartment Aera namun pintu tersebut tidak kunjung terbuka. Kenzo sangat ketakutan,ia sungguh sangat takut Aera akan pergi lagi. Kenzo memberanikan diri menekan tombol bel tak lama kemudian pintu terbuka dan terlihat seorang lelaki tampan keluar dari apartement milik Aera.
"Haissshhh,,,baru mau tidur ada saja yang mengganggu." Oceh lelaki itu sembari bersandar di daun pintu.
"Maaf mengganggu waktu anda tuan,saya Kenzo pemilik apartement ini sebelumnya." Ucap Kenzo sopan.
"What?? Jangan bercanda, apartement ini saya beli dari seorang wanita." Ucap lelaki itu.
"Iya,dia kekasih saya. Bisakah saya masuk kedalam untuk mengambil beberapa barang?" Ucap Kenzo.
"Tidak,tidak. Didalam kekasihku sedang tidur. Biar aku ambilkan barang barangmu." Ucap lelaki itu.
"Baiklah,saya menunggu disini." Ucap Kenzo.
Lelaki itupun masuk kembali ke dalam apartement,tak lama kemudian dia keluar membawa sebuah koper dan kotak besar.
"Ini barang yang di tinggalkan pemilik lama. Katanya nanti akan ada yang datang mengambil." Ucap Lelaki itu.
"Terimakasih tuan,maaf mengganggu waktu anda." Ucap Kenzo dan berlalu meninggalkan apartement Aera.
Kenzo berjalan menuju basement sembari menarik koper miliknya. Dia tidak menyangka akan seperti ini,dia terlalu memakai egonya hingga melupakan perasaan Aera. Tapi,saat ini dia tidak dapat menjelaskan semuanya kepada Aera tentang permasalahannya karena ia tidak ingin Aera kembali dalam bahaya.
Sesampainya dikantor,Kenzo membuka kotak tersebut dan berisi foto foto kebersamaannya dengan Rara semasa kuliah dulu. Kenzo tersenyum sembari mengusap wajah polos Rara saat kuliah.
"Aku kangen kamu Ra!" Gumam Kenzo.
Beberapa hari kemudian, Kondisi Allisya semakin hari semakin memburuk,Allisya semakin depresi dan selalu mengunci diri di dalam kamar membuat Shera dan Leon sangat khawatir terhadap kondisi putri mereka yang biasanya sangat ceria.
"Gimana ma kondisi Al?" Tanya Kenzo yang saat itu pulang ke rumah bersama Gladis.
"Mama sama papa gak tahu apa masalah kalian? Tapi mama sama papa benar benar tidak ingin melihat Allisya seperti ini. Papa takut ini bisa memicu kondisi bipolar yang di derita Allisya." Ucap Leon melirik tajam kepada Gladis membuat Gladis salah tingkah.
"Biar Gladis yang coba bujuk Allisya." Ucap Gladis lalu mengetuk pintu kamar Allisya.
"Al,ini aku Gladis." Ucap Gladis lembut.
__ADS_1
"Diam kalian semua! Aku gak akan keluar dan kamu. Kamu yang menggoda kak Kenzo hingga kak Kenzo meninggalkan Rara dan anaknya." Teriak Allisya dan itu membuat Leon dan shera terkejut langsung menatap tajam ke arah kenzo.
Kenzo semakin bingung untuk menjelaskan semuanya kepada orangtuanya. Leon menarik Kenzo ke ruang bacanya.
"Jelaskan ke papa maksud ucapan Allisya!" Ucap Leon dengan tatapan tajam kepada Kenzo.
"Kenzo gak ngerti apa maksud Al." Ucap Kenzo.
"Kamu gak usah berdalih di hadapan papa." Ucap Leon meninggikan intonasi suaranya.
"Oke oke. Kenzo ngaku. Kenzo pernah tidur bersama dengan Rara tapi setelah itu Rara pergi ke luar negeri. Bisa jadi anak itu bukan anak Kenzo kan." Ucap Kenzo.
"Kamu yakin itu bukan anak kamu?" Tanya Leon meyakinkan Kenzo.
"Ya,,yakin pa." Ucap Kenzo kikuk.
"Papa gak mau punya anak yang gak bertanggung jawab. Apalagi sampe bikin adiknya sendiri depresi seperti ini. Ini kesalahan kamu zo bukan kesalahan Al. Kenapa harus Al yang mengalami ini?" Tanya Leon menyudutkan Kenzo.
"Kenzo gak salah pa." Ucap Kenzo teguh pada pendiriannya.
"Selamat malam Tante. Saya sahabat kak Al. Nama saya Aera." Ucap Aera memperkenalkan diri.
"Selamat malam,silakan masuk." Ucap shera dengan wajah terpaku kagum pada wajah Aera.
"Siapa ma?" Tanya Leon menghampiri shera.
"Temannya Al nih pa." Ucap Shera.
"Selamat malam om. Saya Aera,boleh bertemu dengan Al?" Tanya Aera.
"Aduh maaf ya Aera. Tapi udah seminggu ini Allisya gak mau bertemu siapapun. Makan pun harus di tinggalkan di depan pintu kamar" Ucap Leon.
"Boleh Aera coba ketemu Al gak?" Tanya Aera.
"Silakan!" Ucap Shera tersenyum karena ia berharap Aera bisa membujuk agar Allisya keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Aera menggendong Kwan lalu berjalan menuju kamar Allisya bersama shera dan Leon.
"Kak Al,ini aku Aera." Ucap Aera sembari mengetuk pintu kamar Allisya.
Tak lama kemudian terdengar suara kunci kamar dan tak lama Allisya muncul dari balik pintu dengan wajah pucat dan mata sembab. Allisya langsung menarik Aera masuk kedalam kamarnya.
Kamar Allisya nampak berantakan semua buku buku berserakan di lantai.
"Kak Al,kenapa jadi seperti ini?" Tanya Aera sembari duduk di sudut ranjang Allisya.
"Aku kecewa sama kak Kenzo. Aku benci sama Gladis. Aku merasa bersalah sama kamu dan Kwan." Ucap Allisya sembari duduk dan memeluk kedua lututnya.
"Kak Al lihat,aku baik baik saja begitupun dengan Kwan. Kenapa kak Al harus merasa bersalah?" Tanya Aera.
"Karena kak Kenzo gak bertanggung jawab sama kamu dan Kwan." Ucap Allisya.
"Kenapa kak Kenzo harus bertanggung jawab?" Tanya Aera sembari meletakkan Kwan yang sudah tertidur.
"Karena kak Kenzo sudah menghamili kamu dan membiarkan Kwan hidup tanpa ayah." Ucap Allisya.
"Hahaha. Jadi seperti itu." Ucap Aera tertawa.
"Kenapa?" Tanya Allisya bingung.
"Aku emang sempat hamil anak kak Kenzo. Tapi saat itu aku kecelakaan dan bayi itu meninggal saat aku hamil sekitar 8 bulan. Sementara Kwan adalah anak dari sahabatku. Orangtuanya meninggal karena kecelakaan." Ucap Aera.
"Kamu keguguran?" Tanya Allisya terkejut.
"Iya, dan kata dokter setelah itu akan sulit buat aku hamil lagi. Beruntung saat itu aku sudah mengadopsi Kwan. Jadi aku tidak merasa kesepian." Ucap Aera sembari tersenyum.
"Kamu gapapa? Kak Kenzo nikah sama Gladis?" Tanya Allisya.
"Gapapa, karena kalo kak Kenzo nikah sama akupun. Aku belum tentu bisa memberikan dia keturunan." Ucap Aera sembari tersenyum.
Setelah berbincang bincang,malam itu Aera tidur bersama dengan Allisya. Sementara didepan kamar Allisya,Leon dan shera mencuri dengar semua percakapan didalam.
__ADS_1