Direktur Iblis Itu Jodohku

Direktur Iblis Itu Jodohku
PART 21


__ADS_3

Shera meletakkan Kenzo ke dalam box bayi.


"Zozo main disini ya! Mama kerja dulu." Ucap Shera sembari mengusap kepala Kenzo.


Shera pun kembali ke meja kerjanya menghadapi komputer dan memeriksa beberapa berkas sembari tetap mengawasi pergerakan Kenzo di dalam box bayinya.


Tok,,tok


"Masuk!" Jawab Shera dan menyembullah kepala kecil Chacha.


"Ngapain kamu nongol gitu?" Tanya Shera menatap Chacha tajam.


"Maaf Bu! hehehe,saya lagi cari pak Ray." Ucap Chacha sembari masuk ke dalam ruang kerja Shera.


"Kenapa nyarinya ke ruangan saya?" Tanya Shera tidak suka.


"Gimana ya ngomongnya? Karena pak Ray bilang ada disini." Ucap Chacha membuat Shera mengalihkan pandangannya dari tumpukan berkas.


"Jadi kamu pikir saya menyembunyikan pak Ray kamu?" Ucap Shera ketus membuat Chacha mati kutu.


"Tidak Bu,bukan seperti itu. Tapi emang saya dapat pesan dari pak Ray kalo pak Ray sedang di ruang kerja ibu." Ucap Chacha.


"Kamu lihat! Disini hanya ada saya dan Kenzo. gak ada orang lain lagi, bisa jadi pak Ray terlambat." Ucap Shera kembali fokus pada berkas berkasnya.


"Bisa jadi memang seperti itu ya Bu?" Ucap Chacha sembari menggaruk kepala yang tidak gatal.


"Sudah sana kamu kembali ke ruangan kamu!" Ucap Shera.


Setelah itu Shera merapikan berkas berkas karena itu adalah berkas data perusahaan yang akan di serahkan kepada Vincent. Shera menggendong Kenzo dan berjalan menuju ruang kerja Vincent.


"Zozo mau kemana?" Tanya Kiki begitu melihat Shera keluar dari ruangannya.


"ah Bu direktur sungguh kebetulan yang menyenangkan." Ucap Shera sembari tersenyum penuh arti.


"Ada apa nih?" Tanya Kiki menatap Shera ngeri.


"Titip Zozo sebentar saya harus laporan ke ruang direktur." Ucap Shera sembari menyerahkan Zozo kepada Kiki.


"Dengan senang hati." Ucap Kiki sembari mengambil Kenzo dari Shera.


Sherapun berjalan menuju ruang direktur.


"Anda mengenal saya?"


"Tentu saya mengenal anda, jika saya tidak mengenal anda,saya tidak akan melindungi istri dan anak anda"


Shera pun berdiri di depan pintu ruang direktur karena mendengar pembicaraan di dalam.


'sial! jiwa kepo gue meronta ronta lagi.' bathin Shera mencoba fokuskan pendengarannya.


'tapi kan gak boleh nguping.' bathin Shera berdebat.


Sherapun memberanikan diri mengetuk pintu.


tok,,tok


"Masuk!" Terdengar suara Vincent.


Sherapun masuk kedalam ruang direktur dan melihat Vincent sedang duduk sendiri sambil memeriksa berkas.


'perasaan tadi gue denger nih orang ngobrol deh tapi kok taunya dia sendirian.' bathin Shera kebingungan sembari melihat sekeliling ruang Vincent.

__ADS_1


"Ada apa Fanya?" Tanya Vincent saat mendapati Shera melihat sekeliling.


"emm,anu pak ehh ini berkas laporan bulan ini." Ucap Shera seperti orang linglung.


"Kamu kenapa?" Tanya Vincent.


"Saya titipin Kenzo ke Bu Kiki, jadi khawatir." Ucap Shera mengelak.


"Yasudah sana kamu kembali ke ruang kerja kamu!" Ucap Vincent.


"Baik pak." Jawab Shera lalu melangkah keluar dari ruang kerja Vincent.


Sherapun keluar dari ruangan Vincent, sementara itu didalam ruangan Vincent.


"Untung dia gak curiga." Ucap Vincent menghembuskan nafas panjang.


"Siapa yang datang?" Tanya orang tersebut.


"Dia itu karyawan terbaik disini." Ucap Vincent.


"Apakah itu Bu Fanya?" Tanya orang tersebut yang tak lain adalah Ray.


"Haish,, kalian itu bener bener mirip ya." Keluh Vincent.


"Jadi siapa sebenarnya Bu Fanya ini?" Tanya Ray penasaran.


"Maaf pak Ray, saya tidak bisa memberitahu siapa itu Bu Fanya." Ucap Vincent dengan nada menyesal.


"Kenapa?" Tanya Ray semakin penasaran.


"Seseorang sudah menyuruh saya untuk merahasiakan itu semua agar Bu Fanya tidak dalam bahaya." Ucap Vincent.


"Emm apa,Bu Fanya itu orang terkenal? Oleh sebab itu dia bisa dalam bahaya?" Lanjut Ray penasaran.


"Tidak,tidak. Bu Fanya cuma wanita biasa tetapi suaminya adalah orang yang berbahaya yang banyak membuat perusahaan pesaing ketakutan dan Bu Fanya adalah kartu As sebuah perusahaan besar." Ucap Vincent.


"Baiklah. Maafkan soal rasa penasaran saya ini!" Ucap Ray sopan.


"Baiklah pak Ray. itu tidak masalah." Ucap Vincent.


"Saya permisi dulu harus bertemu Bu Fanya untuk membahas kerjasama." Ucap Ray lalu berdiri.


"Silakan!" Ucap Vincent mempersilakan Ray.


Diruang kerja Shera, ia sedang duduk di lantai sembari menemani Kenzo bermain.


"Pekerjaan mama sudah selesai,sekarang tinggal main sama Zozo saja." Ucap Shera sembari mengusap usap kepala Kenzo.


tok,,tok


"Masuk!" Ucap Shera.


"Permisi Bu Fanya!" Ucap Ray sopan.


"ahh,pak Ray." Jawab Shera sembari bangkit dan menyalami Ray.


"Maaf mengganggu waktunya." Ucap Ray.


"Pa,,pa,papa." Oceh Kenzo membuat Ray menatap ke arah Kenzo.


"Maafkan Kenzo ya pak Ray." Ucap Shera sembari mengangkat Kenzo. "Silakan duduk pak Ray!" Ucap Shera mempersilakan Ray untuk duduk.

__ADS_1


"Jadi seperti ini Bu Fanya, tentang kerjasama yang kemarin." Ucap Ray memulai pembicaraan mereka.


"Apa anda tertarik?" Tanya Shera antusias.


"pa,,pa,,papa." Oceh Kenzo dengan lengan yang terangkat.


"Zozo,itu bukan papa!" Ucap Shera menarik kembali lengan Kenzo.


"Berikan Kenzo kepada saya!" Ucap Ray mengambil inisiatif dan Shera pun memberikan Kenzo kepada Ray.


"Terimakasih pak Ray." Ucap Shera.


"Baiklah,mari kita bahas soal kerjasamanya." Ucap Ray.


"Baik pak Ray, jadi apa pak Ray memiliki persyaratan yang belum kami penuhi?" Tanya Shera membuka proposal yang sudah di tanda tangani oleh Ray.


"Tidak tidak, saya tidak meminta syarat apapun." Ucap Ray.


Merekapun membahas tentang kerjasama perusahaan mereka selama satu jam dan selesai setelah menandatangani kontrak.


"Ah, sepertinya Zozo tidur." Ucap Ray saat merasakan kepala Kenzo bersandar di lengannya.


"Aduh,,aduh,,maaf pak Ray!" Ucap Shera sembari mengambil Kenzo dan langsung meletakkan Kenzo di box bayi.


Shera tersenyum menatap wajah tidur Kenzo, tiba tiba sepasang tangan kekar memeluk perut Shera.


"Pak Ray tolong lepas!" Ucap Shera mencoba melepaskan pelukan Ray.


"Tunggu sebentar! ini sangat nyaman." Bisik Ray membuat wajah Shera merona.


'Tenang,tenang. Dia bukan Leon.' pikir Shera.


"Anu pak Ray,ini gak baik pak Ray. saya punya suami dan kita tidak ada hubungan apa apa." Ucap Shera.


"Kata pak vVncent suami Bu Fanya sudah meninggal." Ucap Ray sembari menyandarkan dagunya di bahu Shera.


"hiks,,hiks" Ray terkejut saat mendengar suara tangis Shera.


"Bu Fanya, are you oke? Im sorry." ucap Ray sembari menuntun Shera untuk duduk di sofa. Ray pun memberikan tissu kepada Shera.


"huft,,huft,, tenang tenang gak boleh nangis." Ucap Shera kepada diri sendiri.


"Sudah merasa lebih baik?" Tanya Ray,seketika Shera menolehkan kepalanya menatap Ray.


"Aku kangen kamu,aku capek, kamu kemana aja?" Oceh Shera sembari mengusap wajah Ray.


"Maaf!" Tiba tiba kata itu meluncur begitu saja dari mulut Ray.


Shera terkejut lalu menjauhkan diri dari Ray.


"Maafkan saya pak Ray! saya terlalu merindukan suami saya." Ucap Shera sembari mengusap air matanya.


"ahh iya tidak papa Bu Fanya." Ucap Ray canggung.


Ray pun bangun dan mendekati Shera.


Cup


Ray mengecup kening Shera membuat Shera terkejut.


"Terimakasih atas waktu Bu Fanya! saya permisi." Ucap Ray dan hanya di jawab anggukan kepala oleh Shera.

__ADS_1


__ADS_2