Direktur Iblis Itu Jodohku

Direktur Iblis Itu Jodohku
PART 43


__ADS_3

Leon membopong tubuh molly yang sudah tidak sadarkan diri,dengan tergesa gesa Leon langsung membawa molly ke ruang IGD.


Leon,Kenzie dan Wilson menunggu di depan ruang IGD dengan gelisah.


"puas kamu sekarang? bukan hanya menghancurkan masa depan putriku,kau bahkan membuat hidupnya dalam bahaya" ucap Wilson.


"paman Wilson, sekarang bukan saatnya anda untuk menyalahkan Kenzie" ucap Leon menengahi.


Tak lama kemudian dokter keluar dengan wajah gelisah.


"bagaimana keadaannya dok?" tanya Kenzie khawatir.


"kondisinya kritis,hanya ada satu yang bisa selamat" ucap dokter.


"apapun yang terjadi,saya ingin anda menyelamatkan keduanya" ucap Kenzie final.


"tapi,," ucap dokter terpotong saat leon di hadapannya.


"Lakukan yang terbaik dok untuk menyelamatkan keduanya" ucap Leon tenang.


"jika seperti itu kami akan melakukan SC kepada pasien agar bayi dan pasien tetap selamat" ucap dokter tersebut.


"lakukan apapun" ucap Kenzie dengan wajah berharap.


Tiga hari kemudian,molly siuman dan melihat seluruh orang yang dia cintai ada disana menjaganya. Tapi dia tidak menemukan lelaki itu,apa hatinya sekeras batu hingga tidak datang mengunjungi molly.


"nyari siapa?" bisik shera membuat molly terkejut.


"anak aku gimana kak?" tanya molly menatap shera.


"sebentar lagi juga di antar kesini sama suster" ucap shera.


Tak lama kemudian seorang suster mendorong box bayi berwarna biru. Lalu menyerahkan bayi tersebut kepada molly,setelah itu Suster tersebut langsung meninggalkan ruangan molly.


"cantik kan zo?" ucap molly kepada Kenzo.


"cantik" jawab Kenzo sembari tersenyum.


Molly melihat gelang pasien di tangan putrinya dan melihat nama cantik disana.

__ADS_1


"Abigail Chavali Z? siapa yang kasih nama ini? bagus banget" tanya molly sembari tersenyum.


"Ayahnya yang kasih nama" ucap shera membuat molly terkejut.


"dimana manusia itu?" tanya molly.


Leon pun menghampiri molly dan duduk di salah satu kursi di sisi brangkar.


"Hari itu setelah memastikan kondisi kamu stabil dan putri kamu berhasil di lahirkan dengan selamat,dia hendak pergi tapi tiba tiba dia pingsan dan kata dokter yang menanganinya ada pembekuan darah di otaknya sampai sekarang dia masih koma." ucap Leon dengan wajah melas.


Molly sangat khawatir dengan keadaan Kenzie tetapi dia tidak mau orang orang mengira molly mencintai Kenzie.


Seminggu kemudian molly sudah ada di rumah dan merawat putri kecilnya Chacha. Hari ini molly akan menitipkan Chacha pada shera karena molly akan pergi mengunjungi Kenzie,kemarin molly mendapat kabar jika Kenzie belum juga siuman dan bahkan detak jantungnya semakin lemah. Setelah menitipkan Chacha pada shera,molly pun pergi menuju rumah sakit.


Sebuah ruang VIP terbaring tubuh Kenzie dengan wajah pucat dan lengan kaku.


"hai,apa kabar?" bisik molly kepada Kenzie setelah meletakkan tas lengannya di sofa.


"Kenapa belum bangun? kamu gak mau lihat putri kecilmu?" bisik molly sembari menggenggam lengan Kenzie.


"kau tau tidak, aku sebenarnya males sekali datang kesini seperti ini setiap Minggu sekali. Jika bukan kak Leon yang menyuruh, aku benci ngobrol sendiri seperti ini seperti orang bodoh" ucap molly menahan tawanya.


"Cepat sadar ya tunanganku" bisik molly lalu mencium kening Kenzie.


molly pun keluar dari ruangan Kenzie dan seulas senyum muncul di wajah Kenzie yang memejamkan matanya. Tak lama kemudian pintu ruang rawat Kenzie kembali terbuka,Kenzie pikir itu pasti molly yang balik lagi karena ada barangnya yang tertinggal.


Bughhh


"Gak usah pura pura" ucap Leon memukul pelan perut Kenzie.


"ekh,,kak Leon" ucap Kenzie sambil nyengir.


"senang ya di temanin sama TUNANGANNYA" ledek Leon membuat wajah Kenzie merona.


"apa sih kak Leon, kan aku juga baru tahu hal itu kemarin" ucap Kenzie.


"aku mau kamu secepatnya nikahin molly" ucap Leon serius.


"tapi kan aku lagi begini, mana bisa begitu. lagipula molly juga belum benar benar mencintai aku,masih ada rasa terpaksa" ucap Kenzie dengan wajah lesu.

__ADS_1


"aku akan buat skenario baru" ucap Leon dengan senyum penuh makna.


Tengah malam,molly terbangun karena chacha menangis. Dengan mata lima Watt molly pun menyusui chacha sembari bersandar di sandaran ranjang.


Ting,tong,,, (suara bel rumah)


"siapa yang bertamu malam malam begini" oceh molly tidak memperdulikannya.


Leon membukakan pintu rumah dan melihat Tania dengan wajah sembab dengan air mata.


"molly, ada Tante Tania nih nyari kamu" ucap shera sembari mengetuk pintu kamar molly.


"molly lagi nyusuin chacha kak" ucap molly dari dalam kamar.


Tak lama kemudian Tania,shera,dan Leon sudah berada di kamar molly.


"ada apa sih?" tanya molly bingung.


"chacha,maafkan nenek ya sayang. ayah kamu harus pergi lebih dulu" ucap Tania sembari mengusap kepala kecil chacha.


"maksud Tante apa sih?" tanya molly kesal.


"kondisi Kenzie tidak juga membaik, kemungkinan besok semua peralatan akan di cabut dan kami sudah mengikhlaskan kepergiaannya" ucap Tania sembari menangis.


"ini baru seminggu loh Tan,katanya kak Kenzie bakal di operasi" ucap molly.


"jika kondisinya stabil dokter baru bisa memulai operasi tapi sampai sekarang kondisinya masih sangat lemah dan mungkin tidak ada harapan lagi. Tante minta maaf sama molly sama chacha, semoga setelah kepergian Kenzie kalian bisa memulai hidup baru kalian" ucap Tania berurai air mata.


"molly gak percaya, Tante bilang Kenzie bakal sadar dan Kenzie akan menikahi aku. tapi kenapa sekarang Tante malah menyerah" ucap molly kesal dan air mata mulai membasahi pipinya.


"Kamu mau menikah dengan Kenzie?" tanya Tania.


"Iya aku mau" ucap molly seketika.


"Baiklah besok kalian akan menikah" ucap Tania langsung meninggalkan kamar molly.


molly masih terisak saat Tania meninggalkannya hingga ia tidak menyadari ucapannya.


"kak shera,molly harus gimana?" tanya molly sembari terisak.

__ADS_1


"molly tidurin dulu chacha gih, terus molly istirahat. Kan besok molly mau menikah" ucap shera sembari tersenyum.


__ADS_2