
#Molly POV
Saat orang lain berjalan menuju altar dengan gaun pengantinnya, justru aku berjalan cepat sepanjang koridor setelah mendengar kondisi Kenzie semakin kritis. Aku tidak ingin kehilangannya sungguh, Tuhan aku mohon berikan yang terbaik untuk kami.
Aku membuka ruang rawat Kenzie disana sudah ada keluargaku dan keluarga Kenzie. aku melihat wajah Kenzie tidak sepucat biasanya,mungkin karena make up dan ia memakai jas berwarna putih sangat pas dengan postur tubuhnya. Disana aku melihat matanya terbuka,aku bahagia akhirnya dia siuman tapi matanya masih terlalu lemah. Dia tersenyum memandangku,aku balas senyumnya.
Saat orang lain menikah didalam gedung mewah dengan decor milyaran,aku justru menikah di ruangan rawat rumah sakit tanpa decor, tanpa pesta ,tanpa tamu undangan. Pengucapan janji suci pernikahan kami sangat khidmat lalu setelah acara selesai semuanya langsung kembali ke rumah sementara aku masih duduk disisi brangkarnya.
"Terimakasih" ucap Kenzie lemah lalu matanya kembali tertutup.
Sebenarnya ada rasa takut saat matanya menutup,aku takut jika matanya tidak akan pernah terbuka lagi. aku sungguh takut jika ia sungguh meninggalkan aku dan chacha. Aku buang semua pikiran negative itu dan aku pergi ke toilet,membersihkan make-up serta mengganti gaun pengantin dengan kaos biasa. Payudaraku terasa sakit karena chacha di bawa pulang oleh mama Tania. Aku duduk bersandar di dinding menahan nyeri pada payudaraku. Aku lupa membawa alat pompa ASI milik chacha. Aku pun berdiri dan sekali lagi membasuh wajahku. Aku merasa ada sepasang tangan hangat yang memelukku,aku menoleh dan melihat wajah Kenzie dibahuku.
"ngapain kamu kesini? sana kembali ke ranjang kamu. nanti kamu mati disini bikin susah aku" kesalku kepadanya karena aku sungguh takut ia benar benar mati.
Tiba tiba Kenzie menggendong tubuhku ke atas wastafel.
"apa aku terlihat seperti orang sakit?" tanya Kenzie membuatku menggeleng. "jika seperti itu maka kita harus melakukan ritual malam pertama kita" ucap Kenzie tiba tiba meraup bibirku.
'aahhh,,rasa ini,rasa yang sangat aku rindukan' batinku menikmati perlakuan Kenzie.
Kenzie mengangkat kaos yang ku pakai dan ia dengan cepat melepaskan pengait bra yang kupakai.
__ADS_1
"apakah ini sakit?" tanya Kenzie sembari memegang lembut payudaraku.
"sudah lebih dari empat jam aku tidak memberikan ASI kepada chacha,, aahhhhh" lenguhku saat Kenzie tiba tiba menghisap payudaraku.
'aaahhhhhh,,,,uuuhhhhhhh' hanya itu yang keluar dari mulutku menikmati permainan Kenzie.
Kenzie hendak menarik turun celanaku. aku menghentikan kegiatannya itu.
"belum bisa" ucapku kepada Kenzie.
"kenapa?" tanya Kenzie dengan pandangan penuh nafsu.
"karena belum selesai masa nifas" jawabku lalu Kenzie memahami maksudku.
"eeemmm aaaahh" desah Kenzie saat batangnya menyentuh bokong milikku.
"apa kamu baik baik saja?" tanyaku khawatir.
"aku tidak pernah baik baik saja jika sudah berhadapan dengan kamu" ucap Kenzie menciumi telinga dan tengkuk ku.
"aahhhh ziee" desahku merasakan nikmatnya permainan lidah Kenzie.
__ADS_1
Akupun membalikkan tubuhku,menatap mata cokelat milik Kenzie yang sama dengan mata milik chacha.
"Terimakasih mau menerimaku" ucap Kenzie sembari mencium keningku.
"aku tidak akan mau menikah dengan kamu jika mereka tidak berkata jika kau akan segera mati. aku sungguh ingin mencari lelaki yang lebih tampan dan lebih muda darimu,kau lebih cocok menjadi pamanku daripada suamiku" ucapku dengan tersenyum meremehkannya.
"tapi pada kenyataannya aku adalah suami tercintamu" ucap Kenzie sembari tersenyum dan sungguh senyumnya itu bisa memikat hati puluhan gadis di London.
"Minggu depan aku mulai kuliah,kamu bantu aku menjaga chacha ya" ucapku saat mengingat agenda kuliahku.
.
.
.
.
.
The End
__ADS_1
Cerita molly sampai sini aja. jangan kebanyakan nanti malah banyak yang komplain karena keluar jalur.