
Hari semakin larut,Juro dan Kwan sudah tidur di kamar mereka masing masing. Saat ini di sebuah kamar tampak Aera sedang menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenzo sembari lengan Kenzo mengusap lembut kepala Aera.
"Jadi Juro anakku?" Ucap Aera mendongakkan kepala menatap wajah Kenzo.
"Anak kita Rara." Kenzo menyubit kecil hidung Aera.
"Bukannya anak kita sudah meninggal?" Terdengar suara Aera ragu bertanya hal itu.
"Awalnya juga kak Kenzo mengira seperti itu,karena pertama usia kandungan Rara saat itu baru delapan bulan di tambah kecelakaan dan setelah itu Rara pendarahan hebat. Kak Kenzo benar benar kacau saat itu,dokter menyuruh kak Kenzo untuk memilih menyelamatkan Rara atau calon bayi kita. Ahhh,,pokoknya Juro bisa selamat itu karena keajaiban. Kak Kenzo memilih untuk menyelamatkan Rara karena buat kak Kenzo Rara lebih berarti soal anak kita bisa dapat lagi nanti." Kenzo terus mengusap rambut Aera.
"..dokter bilang mereka akan berusaha menyelamatkan Rara,tapi tiba tiba kak sun minta untuk menyelamatkan kalian berdua apapun yang terjadi nanti. Kak Kenzo sempat cekcok beberapa saat dengan kak sun tapi pada akhirnya kak sun yang menang,kak Kenzo benar benar sudah stres semua kemungkinan muncul di kepala kak Kenzo. Bagaimana kalo Rara yang pergi? Bagaimana kalo calon anak kita pergi? Bagaimana kalo kalian selamat tapi ada yang kurang? Kak Kenzo benar benar takut banget. Tapi gak lama kak Kenzo dengar suara tangisan bayi,Rara tahu gak? Saat itu entah perasaan apa? Kak Kenzo benar benar merasa bersyukur karena bayi kita selamat dan itu karena perjuangan Rara.." Kenzo memeluk tubuh Aera.
"..setelah itu Rara di nyatakan koma,kak sun bilang dia akan menjaga anak kita. Kak Kenzo serahkan Juro kepada kak sun dan meminta kak sun merahasiakan hal ini dari Rara karena kak Kenzo gak mau kalo Rara sama Juro dalam bahaya,bahkan kak Kenzo menyuruh kak sun buat tinggal di pedalaman yang gak bisa di lacak. Kak Kenzo meninggalkan Juro dan setelah itu kak Kenzo mencoba mendekati Gladis agar dia lupa kepada Rara ataupun mencari tahu keberadaan Juro. Kak Kenzo baru tahu ternyata perempuan kalo sudah cemburu lebih menyeramkan dari monster!" Kenzo terkekeh membuat Aera mendongakkan kepalanya sembari menatap sebal kepada Kenzo.
__ADS_1
"Jadi menurut kak Kenzo,Rara menyeramkan kalo cemburu? Oke begitu,Rara gak akan cemburu!" Final Aera membuat Kenzo gelagapan.
"Bukan seperti itu Rara,kak Kenzo sih gak mau bikin Rara cemburu karena Rara kalo sudah ngambek itu langsung kabur bertahun tahun. Bikin kangen!" Kenzo mengecup pipi Aera membuatnya merah merona.
"Sudah akh,Rara mau tidur!" Aera menarik selimut menutupi tubuhnya dan entah karena memang sudah terlalu lelah karena saat ini hampir pagi,Aera langsung terlelap dan pergi ke alam mimpinya.
Pagi hari saat Aera bangun dari mimpi indahnya ia tidak menemukan Kenzo disisinya,bergegas ia keluar kamar karena waktu sudah sangat terik untuk di sebut pagi hari. Aera tidak menemukan Kenzo bahkan Kwan dan Juro pun tidak ada. Aera berjalan ke arah dapur dan mendapati sarapan buatan Kenzo beserta secarik kertas.
Jangan mencari kami,aku pergi bersama anak anak
Hari mulai sore,Kenzo tidak membalas ataupun menjawab pesan dan teleponnya begitupun dengan Kwan,dia bahkan meninggalkan ponselnya di kamar. Aera semakin gelisah,ia duduk di dekat jendela memandang ke bawah arah pintu masuk gedung apartement,ia melihat Juro dan Kwan turun dari sebuah mobil dan berlari masuk gedung apartement bersama seorang wanita.
Pintu apartement terbuka dan Aera menatap wanita cantik di hadapannya.
__ADS_1
"Mami,kenalkan ini adalah mamanya Juro!" Ucap Kwan seketika seperti ribuan tombak menusuk dada Aera. Ia mencoba tersenyum dan menyapa wanita itu walaupun dadanya terasa sakit.
"Kwan,Juro masuk ke kamar kalian dan mandi!" Ucap Aera sembari tersenyum lalu mempersilakan wanita itu masuk kedalam apartementnya.
Aera menyuguhkan teh hangat lalu setelah itu suasana menjadi canggung,bukan Aera tidak ingin menegur wanita itu tetapi Aera sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia mamanya Juro? Berarti Kenzo menipunya? Begitulah pikiran yang terus hinggap di kepala Aera. Tak lama kemudian Kwan dan Juro datang ke ruang keluarga.
"Tadi kita pergi bersama mamanya Juro ke toko perhiasaan." Ucap Kwan dengan ceria.
"Oh,kenapa Kwan gak bawa ponsel?" Tanya Aera sembari tersenyum.
"Emm,Kwan lupa." Jawab Kwan sembari mengusap tengkuknya.
Aera paham betul dengan putrinya,dia tidak mungkin lupa pada ponsel jika tidak di suruh meninggalkan dia tidak akan meninggalkan ponsel.
__ADS_1
"Mami Kwan,papi dan mama Juro mau menikah. Juro senang banget!" Ucap juro menggambarkan raut wajah bahagia.
"Juro senang dong?" Aera tersenyum miris karena sebelumnya ia sangat senang saat Kenzo berkata Juro adalah putra mereka tapi ternyata bukan putranya hanya putra Kenzo bersama wanita ini.