
Selepas sholat subuh aku langsung turun ke dapur menyiapkan sarapan.
Semenjak perut ku sakit kemarin entah kenapa selera makan ku hilang jadi aku buat teh manis saja.
" Kamu sudah siap?. " Tanya Mas Adnan.
" Iya mas. " Ucapku sedikit lemas.
" Kamu enggak apa-apa?. " Tanya Mas Adnan.
Aku hanya menggelengkan kepala saja.
" Iya sudah yuk mas jalan sekarang. " Ucapku.
" Mbok Fifah jalan iya, assalamu'alaikum. " Pamit ku berbeda dengan mas adnan sudah pergi lebih dulu ke garasi.
\# Kampus
Aku tidak lupa sebelum turun untuk terlebih dulu mencium tangan mas Adnan.
Aku menyusuri lorong menuju kelas.
" Assalamu'alaikum Afifah. " Ucap Anum yang membuat aku kaget yaitu dia memeluk ku dari belakang.
" Wa'alaikumsalam Anum, astagfirullah. " Ucapku.
Tiba-tiba Mas Adnan lewat di samping ku
" Pagi pak. " Sapa Anum ketika Mas Adnan berhenti tepat di samping kita.
" Pagi, loh kalian belum masuk memangnya tidak ada mata kuliah?. " Tanya Mas Adnan.
" Eum ada ko pak ini juga kita mau masuk ke dalam. " Ucapku.
" Kalau gitu kita pamit pak, Assalamu'alaikum." Ucapku yang langsung menarik tangan Anum.
" Kamu kenapa?. " Tanya Anum.
" Aku? emang nya aku kenapa?. " Tanya ku balik.
" Kamu pucat sekali. " Ucap Anum.
Aku tidak menjawab karena keburu dosen mata kuliah hari ini masuk.
Aku pun tidak sadar kalau aku tertidur.
" AFIFAH AFSANI!. " panggil dosen itu.
" Fah. " Panggil Anum yang berusaha membangunkan aku.
Aku pun kaget dan terbangun.
" Ada apa iya Pak?. " Tanyaku.
" Ada apa ada apa sehabis jam ini kamu menghadap ke ruangan saya. " Ucap dosen itu.
Aku cuman menghembuskan nafas lelah.
" Baik sampai di sini saja pembahasannya untuk Afifah saya tunggu di ruangan segera. " Ucapnya langsung berlalu pergi.
*baiklah*,
Aku segera menuju ruangan dosen, aku melewati ruangan Mas Adnan dan duduk di hadapan dosen itu.
Selama dosen itu berbicara aku hanya mendengarkan iya memang salah ku tapi tiba-tiba pintu ruangan mas adnan terbuka dan iya benar sekali mas adnan keluar dari ruangan dia menengok ke arahku.
Aku hanya bisa menunduk saja.
Selesai mendengar nasihat itu dosen baru ku ingin melangkahkan kaki tiba-tiba handphone ku bergetar.

Baiklah aku masuk kembali dan masuk ke dalam ruangan Mas Adnan.
"Fifah." Panggil Mas Adnan.
__ADS_1
" Kenapa kamu bisa seperti tadi?. " Tanya Mas Adnan, aku hanya menunduk.
" Dan lihat ini. " Ucap Mas Adnan menyerahkan lembar nilai ke aku.
" Aku mendapat laporan dari dosen lain terus aku harus lihat seperti tadi, ada apa Fifah?. " Tanya Mas Adnan.
" JAWAB SAYA. "
" AFIFAH AFSANI JAWAB SAYA!. "
Mas Adnan meninggikan suaranya sungguh aku terkejut sekali.
" Kalau ditanya di jawab PAHAM!. "
" Maaf pak. " Ucapku.
" Maaf maaf dan maaf kamu pikir dengan kata maaf bisa merubah semuanya terutama nilai mu. " Ucap Mas Adnan.
" Kalau gini kamu harus ikut remedial untuk memperbaiki semuanya, MENGERTI?!. " Ucap Mas Adnan.
" Mengerti pak. " Ucapku.
" Iya sudah kalau gitu silahkan keluar. " Ucap Mas Adnan.
Aku langsung berlari menuju kamar mandi menumpahkan semua nya terutama air mata ku.
Setelah ku rasa cukup aku mengambil handphone ku menanyakan keberadaan Anum.

Aku sampai di masjid terlebih dahulu.
" Wa'alaikumsalam Num iya sudah yuk kita sholat keburu telat. " Ucap ku.
Selepas sholat aku melihat mas adnan sedang memakai sepatu nya dan aku pun sama.
Tiba-tiba kepala ku pusing banget tapi aku terus memaksakan diri untuk bangun dan sehabis itu aku tidak tahu apa-apa tapi aku merasa Anum memanggil namaku, samar-samar juga aku mendengar suara Mas Adnan.
" Aku dimana?. " Tanya ku saat melihat ruangan yang tak asing untuk ku, ruangan yang serba putih ini.
" Di rumah sakit. " Ucap Mas Adnan yang bangkit dari duduk nya dan berjalan ke arah ku.
Aku tak ingat apa yang terjadi sama, pokoknya tadi semuanya gelap sekali.
" Memang nya aku kenapa mas?. " Tanya ku.
" Maag kamu kambuh, aku tanya sama kamu kenapa bisa maag kambuh seperti ini. " Ucapnya.
" Aku enggak tau mas lagian aku udah engga apa-apa ko. " Ucapku.
" Engga apa-apa gimana kata dokter maag kamu yang menyebabkan kamu dehidrasi dan tekanan darah kamu sedikit tinggi, jadi kamu harus dirawat disini selama 3 hari sampai kondisi kamu memungkin kan untuk pulang. " Ucapnya.
" Tapi mas. "
" Engga ada tapi tapian Fah. " Ucapnya
Aku memilih diam daripada aku harus menjawab dan memperburuk suasana lagi.
" Loh mas engga balik ngajar?. " Tanya ku.
" Bagaimana aku bisa balik sedangkan istriku sakit seperti ini. " Ucapnya yang duduk di sofa sambil menatap layar laptop nya.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu membuat aku merasa senang sekali tapi aku dan mas adnan belum membaik masalah satu belum selesai dan ada lagi masalah baru, entah lah ini semua kapan selesai.
*tok tok tok*
" Assalamu'alaikum. "
Aku menengok kearah pintu dan mendapati bunda yang datang kesini.
" Wa'alaikumsalam. " Jawab ku sama mas adnan.
" Makasih bunda sudah membawakan baju Adnan sama Fifah, sini biar Adnan yang taruh. " Ucap Mas Adnan yang segera mengambil tentengan tas yang berisi baju ku sama Mas Adnan.
" Kamu kenapa bisa sampai kaya gini nak?. " Tanya Bunda sedikit khawatir.
" Mungkin Fifah capek sama tugas kuliah aja bun. " Ucapku berbohong karena sejujurnya aku sakit seperti ini karena memikirkan masalah aku sama Mas Adnan yang tak kunjung usai.
" Walah nak tugas ya tetap tugas tapi kesehatan mu tetap dijaga dong jangan seperti ini, kamu seperti ini sama aja menyiksa dirimu sendiri. " Ucap Bunda.
" Maaf bunda mungkin Fifah terlalu semangat dengan kuliah supaya mengejar pelajaran yang kemarin tertinggal." Ucapku.
" Adnan di jaga atuh Afifah nya. " Ucap Bunda.
" Ih bunda Mas Adnan tuh sangat perhatian sama Afifah. " Ucap ku sedikit membela Mas Adnan karena aku enggak mau Mas Adnan di salahkan atas penyakit ku.
Aku bisa merasakan kalau Mas Adnan kini memandangi aku tapi aku memilih menunduk.
" Iya sudah Adnan Afifah eum bunda enggak bisa lama-lama disini ayah kan sudah mau pulang jadi bunda pamit iya. " Ucap Bunda.
" Bunda. " Panggilku.
" Iya?. "
" Fifah mau meluk bunda. " Ucapku.
" Sini sayang. " Ucap Bunda yang langsung merentangkan tangan nya dan memeluk ku.
" Fifah kangen momen begini. " Ucapku. Tanpa sadar air mata ku mengalir
" Eh jangan nangis dong kan bunda sudah meluk kamu nih. " Ucap bunda yang menghapus air mata ku.
Aku melihat ke arah Mas Adnan dan segera ku hapus air mata ku.
Aku lemah sekali saat ini. Kemana Afifah yang periang seperti dulu.
" Dah ah jangan nangis malu tuh sama suami mu, iya sudah bunda pamit. " Ucap bunda.
" Sampai salam Adnan ke ayah iya bun maaf untuk semuanya. " Ucap Mas Adnan.
" Iya Nak nanti bunda sampai kan. " Ucap Bunda.
" Assalamu'alaikum. " Bunda pun langsung ke luar dari ruangan.
Aku lemas sekali dan berusaha memejamkan mata tapi tidak bisa.
" Kamu kenapa?. " Tanya nya tapi aku malah diam entah kenapa aku muak saat ini dan iya aku ingin bersikap cuek ke Mas Adnan aja entahlah aku kenapa.
" Aku nanya loh. " Ucap nya.
" Aku mau istirahat. " Ucap ku yang sudah capek akan Mas Adnan karena semua ucapan yang dia keluarkan selalu membentak ku tanpa bisa halus.
Aku memejamkan mata ku tapi aku merasakan Mas Adnan menaikkan selimut ku untuk menutupi sebagian tubuh ku.
" *selamat istirahat aku tau kamu sangat lelah sekali, semoga besok kondisi mu membaik iya*."
Ucap Mas Adnan yang masih bisa ku dengar.
__ADS_1
Mas Adnan kadang buat ku meleleh tapi kadang juga buat aku muak dengan sikap nya aku paling enggak suka saat Mas Adnan sudah meninggikan suaranya.