Dosen Killer

Dosen Killer
Part 49 | Adnan Pov


__ADS_3

Akhirnya pagi pun tiba. Aku sudah menunggu sekali agar cepat pagi karena aku sangat tidak sabar untuk pulang.


Sebelum pulang aku mengabari rumah dengan menggunakan telepon kantor mengingat handphone yang mati.


Telepon rumah yang angkat mbok, mbok bilang afifah sudah di rumah sakit jadi aku memutuskan untuk ke sana.



\# Rumah Sakit



Aku tiba di rumah sakit tapi ada satu kejadian yang di luar dugaan ku. Aku melihat Delisa dia tampak sedang tidak seimbang untuk berjalan.



Aku membantu dia dan ternyata karena ku membantu dia mulai lah ke salah pahaman ini terjadi.



Awalnya aku membantu Delisa untuk berjalan dan mengenai kertas itu memang punya Delisa.



Kenapa harus sama aku?


Karena aku yang awalnya ingin membantu saja dan aku memang berniat mengasih surat itu tapi semua di luar dugaan kan.



Malah terjadi ke salah pahaman yang mengharuskan aku mengejar afifah dan lupa ngasih surat itu.



" Kejar dia Nan." Ucap Delisa


"Makasih Del, sorry jadi enggak bisa nungguin nih." Ucap aku yang merasa enggak enak.


Segera aku kejar Afifah namun Afifah sudah naik taksi lebih dulu aku langsung berlari ke parkiran mengambil mobil.


Ketika sampai di rumah aku mencari afifah di kamar tapi nyatanya dia tidak ada.



" Mbok. "



" Iya den, ada apa?. " Tanya mbok



" Fifah mana?. " Tanya ku balik ke mbok sum.



" Non di kamar tamu den. "



" Kamar tamu?. " Tanya ku



" Iya den. "



" Kalau gitu aku ke sana dulu iya mbok, makasih. " Ucapku yang langsung ke kamar tamu.



Aku berusaha mengetuk pintu kamar nya tapi tak di buka kan juga. Baiklah aku kasih waktu mungkin Fifah butuh sendiri dulu.



Pagi hari


Esok pagi nya ketika ketika aku baru saja pulang dari masjid, aku berpapasan dengan Afifah.


Dia keluar dengan penampilan baju tidur nya dan dengan mata sembab nya. Aku sangat bersalah sekali sama dia.


Aku mengamati dia yang sedang mengambil sehelai roti tanpa menegur ku sama sekali.

__ADS_1


Aku menahan tangan nya ketika dia hendak pergi.


" Apa lagi mas? Udah lah mas Fifah capek." Ucap nya, dia hendak menutup pintu kamar nya.


" Aku bisa jelasin semuanya." Ucap ku.


" Jelasin? apa lagi yang akan kamu jelaskan ke aku?. " Ucapnya yang tidak memandang ku sama sekali.


" Dengarkan aku dulu BISA KAN!!." Ucap ku dengan nada tinggi.


" Lho ko mas marah. " Ucap dia yang masih santai.


" Oke kasih ku waktu untuk menjelaskan. " Ucap ku yang mengatur emosi ku agar tidak meledak lagi.


" Fifah capek mau tidur. " Ucap dia.


" Apa yang kamu diliat gak benar DAN KAMU SUDAH MENYIMPULKAN SAJA DULU!!!. " Ucap ku yang meninggikan nada suara ku dan mungkin terlihat sedikit membentak dia.


" LHO KO MAS NGEBENTAK FIFAH MAS JUGA DAH BOHONG SAMA AFIFAH. " Ucap dia yang terbawa emosi terbawa dan mulai menaikan volume nya.


" Mas salah mas minta maaf." ucap ku.


" Hah maaf telat mas."


" KAMU BISA DENGERIN AKU ENGGAK, AKU MAU JELASIN TAPI KAMU GA MAU DENGERIN. EGOIS KAMU FAH!!." Ucap ku yang terbawa emosi lagi karena dia berucap seperti itu.


" MAS CUKUP YA FIFAH CAPEK FIFAH NUNGGU INI MAS DARI KEMARIN DAN APA YANG FIFAH DAPET HAH?! KEBOHONGAN DARI MAS. MAS BILANG FIFAH EGOIS BUKANNYA MAS YANG EGOIS YA MENINGGALKAN AFIFAH DENGAN CARA KEBOHONGAN DAN SEKARANG MAS DENGAN SEENAK NYA BILANG ITU. " Ucap nya.


Aku tak percaya dan baru pertama kali aku melihat afifah se marah ini.


Suasana saling terbawa emosi jadi aku memilih untuk aku mengalah dan aku mencoba mengatur emosi ku.


" Oke maaf mas salah maaf juga tadi mas sudah bentak kamu tadi, sekarang ku mohon untuk balik ke kamar ." Ucap ku yang memohon agar dia kembali ke kamar.


" Mas Afifah mohon untuk biarkan fifah tidur di sini sampai nanti fifah bisa memaafkan diri ku sendiri." Ucap nya yang menolak untuk balik ke kamar dan memilih untuk tidur di kamar tamu sementara waktu.


" Fah, mas mohon. " Ucap ku yang terus memohon agar Afifah bisa balik ke kamar.


" Mas kasih fifah kesempatan atau fifah keluar dari rumah ini. " Ucap nya.


" Oke oke mas akan izin kan kamu tidur di sini malam ini. " Ucap ku yang mengalah dan memberi dia waktu untuk tidur disini agar semuanya sama-sama tenang.


Aku keluar kamar dan menutup pintu nya lalu kembali ke kamar ku.



Esok hari nya ini kejadian saat afifah melihat surat itu.



Jadi pagi itu aku sedang di ruang kerja mengambil dokumen untuk ku kerjakan di kamar saja tapi ketika ku balik kamar aku mendapati afifah yang sedang berdiri dan memegang surat itu.



" Fah. " Panggil ku


Dia hanya menatap ku saja.



" Kamu lagi ngapain disitu. "Tanyaku



Aku melihat dia menghapus air mata lalu dia berdiri sambil menaruh kertas itu di atas kasur.



" Eum cuman mau ambil charger saja ketinggalan. " Ucap nya yang pura-pura tersenyum.



Senyum yang sangat aku tidak suka, senyum di atas tangis yang pasti rasanya sakit sekali.



Dia pun melangkah untuk keluar kamar tapi aku segera menahan nya.



" Mas bisa jelasin ke kamu. " Ucap ku.


__ADS_1


" Jelasin apa mas? engga ada yang perlu mas jelasin ke aku. " Ucap dia yang sudah tak mau mendengarkan penjelasan ku.



" Soal ini. " Ucap ku yang mengambil kertas nya dari atas kasur dan mengangkatnya.



" Engga perlu di jelasin. " Ucap nya.



" Mas engga pernah\_\_\_." Ucapan ku terpotong.



" Cukup iya mas, fifah tidak mau dengar dan tidak mau tau soal apapun yang mas jelasin soal surat itu. " Ucap nya.



" Permisi. " Ucap ku yang langsung keluar dari kamar tamu dan berjalan kembali menuju ruang kerja tapi sebelumnya aku mengambil laptop ku yang ku taruh dikamar.



Malam ini aku memilih untuk tidur di ruang kerja saja karena percuma saja kalau aku tidur dikamar tapi tak ada afifah.



tok tok tok


Aku mendengar suara ketukan pintu, aku mencoba untuk menyadarkan diri ku terlebih dahulu.


" Hey kamu Fah, ada apa?. " Tanya ku


" Ditunggu sama mbok buat sarapan. " Ucap nya yang sangat cuek sekali.


" Oh iya bentar aku cuci muka dulu. " Ucap ku.


Selesai cuci muka ku kembali lagi dan ternyata afifah tidak ada di depan pintu jadi aku turun kebawah sendiri.


Aku turun untuk makan hanya menggunakan baju tidur saja karena emang baru bangun tidur dan tadi hanya cuci muka dan gosok gigi saja.


Aku tersenyum ke arahnya dan ku lihat dia tersenyum balik.


Ternyata semarah apapun afifah dia tetap melayani ku.


Selesai makan aku menuju ruang tamu tamu disitu aku mencoba menghubungi delisa agar bisa menjelaskan langsung apa yang terjadi ke afifah.


Aku melihat dia ke arahku untuk mengambil handphone nya. Ketika dia ingin melangkah pergi segera tangannya ku tahan tapi ternyata di tepis oleh nya.


Dia berjalan menuju kolam renang. Aku pun menghampiri dia.


" Hei lagi apa?." Ucap ku tapi tidak dapat respon dari nya.


" Fah kasih aku waktu buat jelasin semuanya." Entah kenapa aku spontan mengucap itu.


" Baik jelasin, aku harap kejujuran yang akan mas katakan. " Ucap nya.


" Maafkan mas waktu itu tidak mengabari kamu, tapi mas waktu itu memang ke kantor dan saat itu Delisa telepon ke aku, dia minta tolong karena dia panik. " Jelas ku.


Dia diam saja bahkan dia sangat jutek sekali


" Soal surat itu. " Ucap ku


" Itu punya delisa tapi aku berani bersumpah bukan aku yang menghamili delisa dan aku hanya menemani saja karena dia sangat panik enggak tau harus menghubungi siapa selain aku. " Sambung ku.


" Udah? Boleh ku bicara sekarang?. " Tanya nya


Aku yang sekarang gantian diam


" Lebih memilih menemani delisa ketimbang istrinya, istrinya menunggu kabar dari mu. " Ucap nya yang sangat pedas sekali.


" Mas minta maaf. Mas tau mas salah. " Ucapku.


" Ku harap yang tadi mas ucap itu kejujuran karena aku tidak suka sama orang yang suka bohong. " Ucap nya.


" Izinkan aku sendiri dulu mas. " Sambung nya.


Baiklah setelah itu dia kembali ke kamar dan aku mencoba menghubungi delisa dan mengatur rencana agar kita bisa ketemu sama afifah.


Biar masalah selesai.


Kalau gitu aku serahkan ke author untuk buat part lanjutannya dari segi delisa.

__ADS_1


Babay kalian doakan aku iya agar masalah ku dan afifah selesai.


__ADS_2