Dosen Killer

Dosen Killer
Part 68 | Kegiatan Bumil dan Pakmil


__ADS_3

Ya hari demi hari aku seperti biasa. Aku seperti ibu hamil pada umumnya.


Usia kehamilan ku sudah menginjak 6 bulan aku sangat tidak sabar menunggu dede lahir.


Pagi ini Mas Adnan sudah pergi Ke kampus dan kemungkinan dia akan kekantor. Ya Mas Adnan jadi super sibuk sekarang.


Sebenarnya kesal sih aku Mas Adnan lebih memilih Kertas-kertas nya ketimbang aku. Aku cemburu tapi mungkin Mas Adnan lagi sibuk dengan urusan nya.




Hari sudah sore tak terasa. Aku sedang duduk dibalkon kamar menikmati senja yang perlahan hilang.



Aku ber sholawat sambil memegang perut ku. Katanya sih di usia Kandungan aku yang sekarang janin sudah bisa merespon suara dengan baik.



Setelah beberapa menit aku bersholawat adzan maghrib sudah berkumandang aku langsung bergegas kekamar mandi mengambil wudhu.



Aku menunaikan sholat maghrib. Selepas sholat aku merapikan mukena menaruh nya dimeja. Aku duduk ditempat tidur sambil mengecek sosial media.



"Assalamu'alaikum." Ucap Mas Adnan yang baru masuk kamar.



"Walaikumsalam." Ucap ku sambil mencium tangan Mas Adnan.



Mas Adnan langsung mandi dan menunaikan sholat maghrib. Setelah sholat Mas Adnan langsung mengambil laptop nya dan dia duduk ditempat tidur.



Aku hanya diam dan tidak berkata apapun sebenarnya aku kesal tapi aku harus mengerti kalau Mas Adnan sedang banyak kerjaan.



Aku keluar dari kamar untuk mengambil air putih dan tidak lupa aku juga membawakan buat Mas Adnan.



"Diminum Mas." Ucapku karena aku tau Mas kekurangan air muka dia sangat pucat sekali.



Mas Adnan hanya tersenyum.



Aku kembali duduk dan mengambil handphone ku. Aku sambil mengelus perutku.



Dan aku merasakan pergerakan di perutku, perutku seperti ditendang.



"Aww."

__ADS_1



Mas Adnan langsung nengok "kenapa Fah?."



"Ga tau Mas tadi perutku seperti ditendang sakit banget."



"Serius kamu gapapa?." Ucap Mas Adnan.



"Iya gapapa Mas."



Mas Adnan kembali bekerja tapi satu tangan nya mengelus-elus perutku.



Dan tiba-tiba tendangan itu kembali lagi Mas Adnan juga merasakannya.



"Dia nendang lagi Fah." Ucap Mas Adnan langsung nengok keaku.



Aku hanya mengangguk.



"Anak ayah sudah bisa nendang nih." Ucap Mas Adnan tepat didepan perut ku dia tetap mengelus-elus perutku.




Dia sangat bahagia sekali sepertinya. Hingga tanpa sadar Mas Adnan tidur dipangkuan aku.



Aku berusaha mengambil bantal dan langsung menaruh kepala Mas Adnan dibantai setelah itu aku mengambil laptop nya yang tergeletak dipinggir kasur dan ku langsung menaruh nya di meja.



Aku beranjak dari kasur dengan perlahan karena aku haus sekali aku langsung pergi ke dapur mengambil air putih.



Tiba-tiba


"Astaghfirullah Mas Adnan ngagetin aja."Ucapku kaget karena Mas Adnan memeluk aku dari belakang.



" Kamu lagi ngapain?."Ucap Mas Adnan.



"Seharusnya nya aku yang nanya Mas Adnan lagi ngapain. Bukan nya tadi lagi tidur?."Ucap ku yang balik nanya.


__ADS_1


" ya aku tadi mau ke dapur haus tiba-tiba eh liat kamu jadi aku samperin deh."Ucap Mas Adnan.



Aku tidak menjawab karena aku sedang minum.



Mas Adnan tetep memeluk aku.


"Mas lepasin sesak aku." Mas Adnan tidak menjawab dia tetep memeluk aku bahkan memperat pelukan aku.



" Mas."



"Eum."Ucap Mas Adnan ditelinga aku membuat aku merinding.



" Mas ihh."Ucapku yang semakin kesal karena Mas Adnan tidak melepaskan pelukannya bahkan tangan nya iseng memainkan telinga aku paling geli.



" Mas lepasin ah."Ucapku dan akhirnya aku berhasil lolos dari pelukan Mas Adnan.



Mas Adnan pergi ke sofa dan dia duduk. Mas Adnan diam saja semenjak abis memeluk aku.



Aku tau kalau Mas Adnan sudah begini dia itu ngambek karena aku tidak mau dipeluk sama dia.



Aku menyamperin Mas Adnan dan mencium Mas Adnan dan duduk disebelah nya.



"Mass udah dong ah jangan ngambek."Ucap ku.



Mas Adnan hanya tersenyum dan


"Iya sayang."Ucap Mas Adnan sesimpel itu tapi entah mengapa pipi aku merona.



Mas Adnan menoel pipi aku " Ih kenapa nih pipinya."Ucapku.



"Au ah mas aku kesel deh."Ucap ku sambil cemberut.



Mas Adnan langsung mengecup bibir aku singkat.



"Sayang bundanya marah tuh." Ucap nya sambil memainkan perut ku.

__ADS_1



Kita akhirnya ketawa bareng-bareng menikmati waktu berdua.


__ADS_2