Dosen Killer

Dosen Killer
Part 51 | Aku pergi sementara


__ADS_3

Author :" Kembali ke afifah pov dulu iya. "


Masalah ku dan mas adnan belum selesai.



Ayah, Bunda, Umi, Abi mereka sudah tau entah darimana.



" Ayah tunggu kamu besok untuk kasih bukti ke ayah kalau kamu tidak salah. Kalau besok tidak ada bukti, Afifah harus pulang ikut ayah dan bunda. " Ucap Ayah.


Iya setelah ayah tau masalah ini, dia langsung ke rumah aku dan mas adnan.


Mas Adnan hanya mengangguk saja.


" Adnan akan kasih bukti ke ayah secepatnya." Ucap Mas Adnan.


" Ayah tunggu kamu besok sebelum zuhur, paham. " Ucap Ayah.


" Kalau gitu ayah sama bunda pamit pulang, assalamu'alaikum. " Ucap Ayah


" Sampai besok iya sayang. " Ucap bunda mengelus kepala ku.


Setelah ayah pulang aku segera menuju kamar karena aku enggak mau berlama-lama di sini sama mas adnan.



Bukan menghindar tapi suasana hati ku belum membaik saja.



" Tunggu. " Mas Adnan menahan pintu kamar yang mau ku tutup.



" Apalagi mas. "



" Aku akan buktikan ke kamu fah. " Ucapnya.



" Iya aku tunggu sampai besok. " Ucapku yang langsung menutup pintu kamar.



Aku tidak tau apa mas adnan bisa atau tidak membuktikan nya. Kita lihat saja besok.



Esok pagi nya. Aku menunggu mas adnan membuktikan nya tapi belum juga.


Tak terasa hari sudah semakin dekat menuju zuhur dan mas adnan juga belum bisa membuktikan ke aku.


" Assalamu'alaikum. "


Ayah dan bunda sudah tiba di rumah.


" Wa'alaikumsalam yah bun. " Ucap ku


" Wa'alaikumsalam. " Ucap mas adnan.


Ayah dan bunda duduk di sofa


" Gimana nan, kamu sudah ada bukti. " Tanya ayah.


Mas Adnan hanya diam saja.


" Nan. " Panggil ayah


" Adnan belum bisa buktikan ke ayah. " Ucap Mas Adnan.


" Baik kalau gitu ayah harus putuskan. " Ucap ayah.


" Maaf nan, afifah harus ikut sama ayah sampai kamu bisa kasih bukti itu ke ayah. " Sambung ayah.


" Fah. " Panggil bunda ke aku.


" Kamu rapihkan barang mu iya sayang, kita pulang sama ayah. " Ucap bunda menyuruh ku merapihkan barang ku.


" Iya bun. " Aku segera bangun dan langsung berjalan menuju kamar.

__ADS_1


Di depan kamar mas adnan menahan pintunya.


" Apa kamu enggak bisa menunggu sedikit saja." Ucap Mas Adnan.


" Aku akan tetap menunggu mas tapi aku nunggu di rumah ayah. " Ucap ku sambil tersenyum.


" Permisi mas. " Ucapku yang langsung masuk dan merapihkan semuanya.


Berat sekali meninggalkan rumah ini. Rumah yang pernah tercipta tawa dan semuanya.


Aku segera merapihkan baju ku dan keluar dari kamar.


" Non. " Panggil mbok


Aku langsung memeluk mbok. Tangis ku pecah karena berat sekali, aku harus meninggal mbok. Mbok orang pertama yang ku kenal di rumah ini dan ku anggap sebagai orang tua ku sendiri.


Hampir 24 jam ku bersama mbok di rumah ini dan sekarang aku harus meninggalkan mbok.


" Non, yakin dengan keputusan non. " Tanya mbok.


" Fifah hanya pergi sebentar mbok jika mas adnan bisa membuktikan itu ke fifah, fifah akan kembali lagi ke rumah ini. " Ucapku.


Aku melihat mbok sedih sekali.


" Makasih iya mbok, mbok sudah menemani ku dan menganggap ku sebagai anak mbok sendiri. " Sambung ku yang langsung memeluk mbok.


" Jaga kesehatan iya non, mbok sayang sama non. " Ucap mbok


" Iya mbok, afifah juga sayang sama mbok. Mbok juga jaga kesehatan iya di sini. Fifah titip mas adnan sama mbok. " Ucapku.


" Pasti non, aden akan mbok jaga di sini. " Ucap mbok.


" Makasih iya mbok, kalau gitu fifah ke depan dulu iya sudah di tunggu ayah sama bunda. " Ucapku yang langsung menggeret koper ku menuju ruang tamu.


" Sudah?. " Tanya ayah.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum saja.


Mas Adnan memeluk ku


" Maaf. " Kata itu yang mas adnan memeluk ku dan ku merasakan ada air mata yang jatuh di pundak ku.


Cukup lama mas adnan memeluk ku sampai akhirnya dia melepaskan ku.


" Maaf kan aku mas, aku akan tetap menunggu mu menjemput ku di rumah ayah. " Ucapku dalam hati.


" Maafkan ayah iya sayang, ayah harus mengambil keputusan ini. " Ucap Ayah yang sambil menyetir.


" Iya ayah enggak apa-apa, fifah tinggal bersama kalian saja sementara waktu. " Ucap ku.


Sesampai nya di rumah ayah dan bunda, aku langsung masuk kamar.



Kamar ini juga menjadi saksi awal cinta dan tawa ku bersama mas adnan.



*Tok tok tok*



" Iya sebentar. " Ucapku sambil menghapus air mata ku.



" Eh abang. " Ucapku saat melihat yang datang adalah abang.



" Boleh abang masuk. " Ucap Bang Satria.



" Silahkan bang. " Ucapku yang langsung duduk di kasur.



Bang satria memeluk ku.


Aku paling enggak bisa di peluk sama orang ku sayang saat sedang ada masalah seperti ini pasti air mata ku langsung jatuh.


__ADS_1


" Menangislah Dek. " Ucap bang satria.



" Sudah?. " Tanya bang satria.



Aku menghapus air mata ku dan melepaskan pelukannya.



" Abang sudah dengar semuanya dari ayah dan bunda tadi saat abang baru pulang dari kantor." Ucap Bang satria.



" Iya bang. "



" Abang engga tau harus apa jadi abang hanya bisa memeluk mu dan melindungi mu dek. Abang akan jadi teman curhat mu sekarang karena kemarin kamu sudah menemani abang di saat terpukul dan sekarang abang gantian seperti mu kemarin yang menemani abang." Ucap Bang Satria.



" Abang enggak akan diam kalau adnan sudah menyakiti kamu. " Sambung Bang Satria.



" Makasih abang. " Ucapku.



" Iya sudah ayuk keluar sudah di tunggu bunda sama ayah untuk makan. " Ucap Bang satria.



Aku dan bang satria turun ke bawah untuk makan.



Selama makan aku memikirkan mas adnan. Apa dia sudah makan atau belum.


Aku khawatir karena bagaimana juga mas adnan masih suami ku. Aku takut dia sakit.


" Maafkan aku mas. " Ucapku dalam hati.


"Fah, dimakan atuh itu makanannya. " Ucap Bunda yang mungkin melihat ku bengong saja.


" Ah iya bunda. " Ucapku.


Aku pun makan dengan masih kepikiran mas adnan. Aku disini sedang makan apa di sana mas adnan juga sudah makan.


" Bun, fifah ke kamar iya. " Ucapku


" Iya sayang. "


" Maaf afifah enggak bisa bantu. " Ucapku


" Enggak apa-apa sayang kamu istirahat saja di kamar. " Ucap bunda.


" Kamu harus kuat iya sayang. " Ucap bunda yang mengecup kening ku.


Aku memilih memeluk bunda saja


" Makasih bunda, fifah sayang sama bunda. Fifah Makasih banyak ke bunda. Bunda sudah menjaga ku. " Ucap ku.


" Iya sayang sama-sama karena kamu anak bunda. Bunda sedih kalau kamu sedih juga. " Ucap bunda.


" Kalau gitu fifah ke kamar iya. " Ucap ku


" Iya sayang. " Ucap bunda.


Aku langsung naik ke kamar.


Di kamar aku tak sengaja melihat foto pernikahan ku sama mas adnan yang terpajang di kamar ku.


Lagi dan lagi air mata ku menetes tapi segera ku tepis karena aku sudah capek menangis yang sekarang ku butuhkan hanya istirahat yang cukup.


Aku harus jaga kesehatan ku demi anak yang ada di dalam perut ku. Aku harus kuat.


Kalau gitu aku mau istirahat dulu iya.


babay gais :)

__ADS_1


__ADS_2