
Aku berniat membujuk Mas Adnan agar aku bisa pulang hari ini karena kalau boleh jujur aku bosan sekali hanya berbaring disini.
" Mas. " Panggil ku.
" Iya?. "
" Mas, Fifah mau pulang sekarang aja. " Ucap ku.
" Loh kamu baru boleh pulang besok. " Ucapnya.
" Tapi mas, Fifah sudah tidak betah disini yang ada buat fifah pegal-pegal saja. " Ucap ku.
Mas Adnan tidak menjawab sama sekali.
" Mas, please. " Ucapku sambil memasang muka memelas.
" Iya sudah mas coba bilang ke dokter nya ya untuk kamu pulang hari ini.
Mas Adnan keluar dari ruangan.
" Huft bosan juga iya disini lama-lama. " Gumam ku.
" Kata dokter kamu boleh pulang sesudah nanti suster tensi kamu kalau tensi mu bagus kamu diizinkan pulang hari kalau enggak besok kamu pulangnya. " Ucap Mas Adnan.
" Baiklah. " Ucapku.
" Permisi Ibu bapak. "
" Ibu Afifah mari kita tensi dulu. " Ucap Suster itu yang langsung men tensi ku.
Aku paling enggak suka di tensi karena sakit sekali.
" Alhamdulilah tensi ibu sudah bagus seperti yang dikatakan dokter tadi kalau tensi ibu bagus, ibu di perbolehkan pulang hari ini jangan lupa iya pak di selesaikan biaya administrasi terlebih dahulu." Ucap Suster nya.
" Baik sus nanti saya selesaikan biaya admin nya. " Ucap Mas Adnan.
" Kalau gitu saya permisi dulu iya ibu bapak. " Ucap Suster.
" Makasih sus. " Ucap ku, aku melihat suster itu tersenyum ke arah ku sebelum dia keluar dari ruangan.
" Iya sudah sekarang kita bereskan barang-barang dulu abis itu kita ke bawah buat selesaikan biayanya. " Ucap Mas Adnan.
Aku yang dibantu mas adnan untuk merapihkan barang-barang yang dibawa selama di rumah sakit.
" Sudah tidak ada lagi yang tertinggal kan?. " Tanya Mas Adnan.
" Fifah rasa tidak ada mas. " Ucapku.
" Iya sudah sini aku bantu. " Mas Adnan membantu Fifah untuk turun dari ranjang rumah sakit.
Mas Adnan menekan lift untuk menuju lantai 1.
" Kamu tunggu disini mas mau ke meja administrasi dulu. " Mas Adnan berlalu begitu saja ke arah meja administrasi.
__ADS_1
Aku memilih duduk saja karena kaki ku sangat pegal sekali kalau berdiri terus.
Aku melihat mas adnan sedang mengobrol dengan seorang wanita tampak begitu akrab sekali.
Siapa wanita itu?
Eum, mungkin rekan dosen mas adnan.
" Afifah. " Panggil Mas Adnan dan aku ternyata sedari tadi bengong.
" Hei. " Mas Adnan melambaikan tangan di depan ku.
" Ah iya mas, sudah?. " Tanya ku.
" Sudah yuk kita pulang umi sama abi sudah menunggu di rumah." Ucap Mas Adnan.
" Loh umi sama abi di rumah ko Fifah tidak dapat kabar. "
" Tadi Umi sama abi whatsApp aku. " Mas Adnan lalu membuka kan pintu mobil.
" Mas. "
" Iya Fah?. " Mas Adnan menengok ke arahku.
" Eum, perempuan yang mengobrol dengan mas tadi siapa?. " Tanya ku.
Aku melihat mas adnan hanya diam saja tidak menjawab sama sekali ucapan ku.
" Fah sudah sampai. " Ucapnya.
Mas Adnan menuntun ku masuk kedalam rumah.
" Assalamu'alaikum. "
" Waa'alaikumsalam. " Sahut umi dan abi.
" Eh Non sama aden sudah sampai. Eum, sini non biar mbok yang bawakan tas nya. " Ucap Mbok.
" Tapi mbok. " Aku tidak enak sekali sama mbok sum kalau begini.
" Sudah non. Non istirahat saja biar cepat sehat." Ucap Mbok.
" Iya sudah lah mbok makasih. " Ucapku lalu duduk di hadapan umi sama abi.
" Adnan. " Panggil Abi.
" Iya bi ada apa?. "
" Abi mau ngomong sama kalian. " Ucap Abi.
" Ngomong apa bi. eum, kelihatannya serius sekali. " Ucap Mas Adnan.
" Jadi gini, abi memutuskan untuk fokus mengurus bisnis abi yang di luar kota dan abi ingin kamu lah yang tanggung jawab untuk bisnis abi yang di Jakarta. Kamu bersedia kan Nan?. " Ucap Abi.
__ADS_1
Aku melihat Mas Adnan tampak bingung sekali dan dia melihat ke arah ku seakan-akan meminta jawaban kepada ku.
" Fifah terserah mas saja. " Ucap ku karena aku peka sekali dengan tatapan Mas Adnan. Tatapan yang penuh tanya kepadaku.
Mas Adnan tersenyum " Baik lah Bi, insyaallah adnan siap. "
" Alhamdulilah Nan, abi yakin kamu bisa Nan kamu cukup cerdas soal bisnis. " Ucap Abi.
" Tapi Adnan masih ingin menjadi dosen jadi tetap izinkan adnan menjadi dosen karena itu cita-cita adnan sejak dulu. " Ucap Mas Adnan.
Wah, mas adnan masih ingin menjadi dosen ku kira dia sudah tidak ingin jadi dosen jadi kan setidaknya berkurang dosen killer di kampus.
Tapi kenapa mas adnan masih ingin jadi dosen. Iya, aku tau si tadi dia bilang cita-cita dia tapi kenapa gitu bukannya menjadi CEO lebih enak iya daripada dosen.
" Adnan kamu tuh sudah enak di kasih menjadi pimpinan perusahaan tapi kenapa masih milih profesi dosen sayang. " Ucap Umi.
" Umi, Adnan sudah bilang kalau adnan enggak mau bekerja di kantor abi karena adnan ingin mencari uang dari hasil jerih payah adnan. Kalau Adnan bekerja di kantor abi pasti ada saja yang berasumsi kalau adnan memanfaatkan status adnan untuk menaikkan jabatan. " Ucap Mas Adnan.
" Adnan enggak mau begitu mi, jadi izin kan adnan bekerja menjadi dosen jika tidak adnan minta maaf kalau adnan tolak tawaran abi. " Ucap Mas Adnan agak tegas.
Ternyata iya dibalik sifat Mas Adnan yang killer terselip sifat Mas Adnan yang mandiri sekali.
Aku sih tidak akan melarang apapun ke Mas Adnan jika itu masih baik untuknya.
" Iya sudah mi biarkan dia bekerja menjadi dosen toh keinginan dia bagus ko, asal abi harap kamu bisa atur waktu iya ingat Nan kamu sudah berkeluarga ada Afifah di rumah yang menunggu mu pulang. " Ucap Abi.
" Insya allah Adnan akan membagi waktu untuk pekerjaan dan keluarga Adnan. " Ucap Mas Adnan.
" Nak Afifah. " Panggil umi.
" Ah iya mi ada apa?. "
" Nanti kalau kamu kesepian ditinggal Adnan kamu ke rumah umi saja iya. " Ucap umi.
" Loh umi tidak ikut dinas sama abi?. " Tanya ku.
" Umi tidak ikut sayang, umi akan di jakarta saja. " Ucap Umi.
" Loh kenapa mi?. " Tanya ku.
" Biasa tuh katanya umi lebih suka di jakarta katanya enak padahal di luar kota lebih enak udaranya sejuk tidak kaya di jakarta bising dan penuh polusi. " Ucap Abi.
" Umi lebih senang di sini sayang banyak keluarga di sini kalau di sana umi sendirian. Kalau abi kerja di sana umi sama siapa sedangkan di sini umi bisa ke rumah kamu sama adnan atau kamu ke rumah umi. " Ucap Umi.
" Ditambah lagi nanti jika kamu hamil dan punya anak pasti umi senang sekali tidak kesepian lagi kan ada cucu umi. " Ucap umi.
Cucu?
maafkan aku umi karena sampai detik ini Fifah belum mengasih umi cucu.
" Ah umi sudah toh kasian mereka, mereka sudah berusaha tapi tuhan belum memberikan rejeki ke mereka. " Ucap Abi.
Aku ingin sekali memberi hak ke Mas Adnan tapi aku masih ragu akan perasaan ku ke dia.
__ADS_1
Iya allah bantu Fifah agar Fifah bisa percaya ke Mas Adnan.