
" Afifah. "
Mas Adnan membangunkan aku dengan menyentuh lenganku.
" eum. " Aku berusaha membuka mataku.
" Hey bangun dulu kita udah mau landing bentar lagi. " Ucap Mas Adnan.
Aku pun membuka mataku disaat pesawat kita yang naik sudah landing dengan sempurna.
Para penumpang pun turun bergantian begitu pun kita.
Welcome balikpapan.
Tiba-tiba mas adnan begitu dekat dengan ku mau apa dia.
" Itu bisa kali di lepas dulu. " Menunjuk ke arah leher ku dan aku tanpa sadari masih memakai bantal leher yang belum ku lepas.
Oh Afifah sungguh ceroboh sekali kamu.
Kita pun menunggu di antrian bagasi untuk mengambil koper.
" Mbok sama mamang nanti naik taksi dan pesan alamatnya sesuai yang Adnan kirim iya." Ucap Mas Adnan.
" Siap atuh non, den. " Ucap mbok sum sedangkan mamang hanya fokus menatapi orang-orang.
" Sini biar aku saja yang ambil. " Ucap Mas Adnan saat koper ku sudah tiba dan tak lama kemudian koper mas adnan.
" Mbok, mang aku sama fifah duluan iya ke hotel soalnya kayanya afifah masih ngantuk berat nih. " Ucap Mas Adnan yang menyadari kalau aku tuh masih ngantuk banget.
" Siap atuh non, aden biar mamang sama mbok susul nanti. " Kali ini yang berbicara mamang, mbok sibuk mengambil koper nya.
Aku dan mas adnan keluar dari bandara. Mas Adnan ternyata sudah memesan taksi online.
Aku dan Mas Adnan sudah tiba di hotel lalu kita segera check in.
Ini penampakkan kamar utama Aku dan Mas Adnan.
Sungguh tak terduga Mas Adnan memilih hotel sebagus ini.
Aku langsung bersih-bersih gantian dengan Mas Adnan.
ketika ku selesai mandi aku melihat mas adnan sedang menerima telepon.
__ADS_1
" Dari siapa mas?. " tanyaku saat melihat mas adnan sudah selesai menelepon.
" Dari mbok sama mamang katanya sudah di kamar sebelah. " Ucap Mas Adnan.
" Oh syukur lah mas. "
" Sehabis mas mandi dan kita sholat zuhur mas ingin mengajak kamu ke pantai dekat hotel ini." Ucap Mas Adnan.
Aku langsung mengangguk semangat karena aku suka sekali pantai mendengar kata pantai saja aku sudah tidak sabar sekali.
" Baik mas. "
Mas Adnan langsung masuk ke kamar mandi dan aku menyiapkan alat sholat kita yang ada di koper.
Setelah Mas Adnan mandi kita pun langsung sholat zuhur bersama.
tok tok tok
Mas Adnan mengetuk kamar mbok sum dan mang kus katanya si berniat mengajak mereka tapi ternyata mereka menolak.
" Aduh den bukannya mamang nolak tapi mbok katanya pusing tuh maklum baru pertama kali naik pesawat gitu. " Ucap Mamang.
Mamang dan Mbok sum lucu sekali mereka.
" Iya sudah mang kalau gitu saya sama afifah jalan dulu iya, assalamu'alaikum. " Ucap Mas Adnan.
Wah aku sungguh terpukau dengan pemandangan ini. Melihat pantai aku sangat berterima kasih kepada tuhan karena dia telah menciptakan ini semua.
Aku berniat memfoto mas adnan dari belakang entah kenapa aku selalu ingin mengabadikan mas adnan dalam handphone ku.
Aku dan Mas Adnan memutari pantai ini. Kita tertawa lepas, main pasir oh sungguh ini momen sangat bahagia untukku.
Aku merasa kalau aku tidak ingin momen ini berakhir karena saat ini aku merasa bahagia banget bisa tertawa lepas seperti ini.
" Fah. "
" Iya mas?. "
" Cantik. " Aku mengerutkan kening ku. Apa maksud ucapan mas adnan.
" Makasih mas. " Ucapku karena aku mendapat pujian dari nya. Baik aku dan mas adnan sama-sama diam.
Tak jauh dari ku ada sepasang suami istri berserta anak nya mereka tampak seperti keluarga yang sangat bahagia. Melihat suami nya yang siaga karena istrinya lagi hamil dan mereka juga sudah mempunyai anak satu.
Aku berpikir apa aku bisa seperti mereka. Melihat anak kecil memang aku suka sekali tapi mengingatkan ku akan ucapan umi. Dia sangat ingin mempunyai cucu dari aku dan Mas Adnan.
" Kamu kenapa Fah?. " Tanya Mas Adnan.
__ADS_1
" Enggak apa-apa ko mas cuman pusing aja. " Alibi ku karena sedari tadi aku melihat pandangan yang membuat aku memikirkan ucapan umi.
Apa sudah saat nya aku membuka hatiku untuk mas adnan lupain pria itu.
Oh iya aku lupa membahas soal kenapa aku belum membuka hati ku ke mas adnan itu karena dulu aku pernah terluka oleh pria di masa lalu ku. Aku pernah sangat mencintai seseorang tapi dia malah ninggalin aku dan menikah dengan wanita lain makanya sejak saat itu aku takut akan cinta, aku tidak ingin dengan mudah nya jatuh cinta. Aku tidak mau terluka, mencintai seseorang berarti kita siap terluka.
" Fah. "
Aku hanya menengok ke arahnya.
" Kamu enggak apa-apa?. " Tanya Mas Adnan begitu khawatir kepada ku. Melihat mas adnan begitu khawatir membuat aku ingin rasanya membuka hatiku kepadanya.
Mungkin sudah saat nya aku membuka hatiku ke mas adnan karena bagaimana juga dia suami, dia juga berhak atas cinta yang ku miliki saat ini.
" Apa sebaiknya kita balik ke kamar saja untuk istirahat mas khawatir kamu nanti malah sakit." Ucap Mas Adnan.
Aku lagi dan lagi hanya tersenyum dan mas adnan membawa ku balik ke kamar.
Sesampai nya di kamar aku malah melihat gantian mas adnan yang terdiam melamun seperti memikirkan sesuatu.
" Mas. " Aku sengaja memanggil mas adnan karena aku ingin melihat reaksi mas adnan ketika aku panggil apa dia menjawab atau tidak, tapi ternyata dia tidak menjawab ku.
" Mas hey. " Ucapku yang duduk di samping nya.
" Mas. " Aku berusaha menyentuh bahu mas adnan dan akhirnya dia tersadar dari lamunannya.
" Iya Fah kenapa?. " Tanya nya.
" Kamu yang kenapa mas dari tadi ku panggil tidak menjawab, mas mikirin apa sih?. " tanya ku balik.
" Ah enggak apa-apa ko Fah. " Ucapnya.
" Bohong Mas Adnan aku lihat kayak sedang memikirkan sesuatu." Ucapku
" Eum fah kamu belum siap ya membuka hijab kamu di hadapan mas." Pertanyaan mas adnan membuat aku bungkam, aku memilih untuk bangun dan mengambil minum namun mas adnan menarik tanganku membuat aku berhenti.
" Maaf atas ucapan mas barusan, enggak apa-apa ko jika kamu belum siap. Mas tidak ingin memaksakan kamu, mas akan tunggu sampai kamu siap membuka hijab mu di hadapan mas. " Ucapan mas adnan sangat menusuk buat ku.
Aku tega sekali bahkan aku tidak mengizinkan suami ku melihat sehelai rambut saja.
ya allah, betapa dosanya sekali aku ke mas adnan. Apa yang harus ku lakukan.
Tak bisa aku berbohong, jujur rasa itu sudah dan akhir-akhir ini juga mas adnan selalu masuk dalam pikiranku.
" Udah yuk tidur pasti kamu lelah sekali." Ucap Mas Adnan yang mengalihkan pembicaraan.
Benar sekali aku sangat lelah terutama pikiran ku sebaiknya aku tidur saja.
Sampai bertemu di hari kedua liburan.
__ADS_1