
Pagi ini aku dan mas adnan sudah bangun tapi kita masih di kamar dan pagi ini mas adnan tidak ke kantor ataupun ngajar.
Mas Adnan katanya mau istirahat hari ini.
Kondisi ku sekarang lemas sekali karena dari malam aku mual terus.
Aku dan Mas Adnan sudah melaksanakan sholat subuh. Awalnya Mas Adnan menyuruh ku untuk sholat duduk saja karena aku bandel dan aku merasa masih mampu berdiri ko jadi akhirnya aku sholat berdiri saja.
Selesai sholat aku kembali ke ranjang karena aku sangat lemas sekali mungkin karena semalam aku muntah terus jadi sekarang tidak ada energi.
Aku melihat Mas Adnan keluar kamar entahlah dia mau ngapain.
Aku mengambil novel yang aku taruh di atas nakas.
" Nih makan dulu kamu dari tadi belum makan kan?." Ucap Mas Adnan yang baru saja datang.
" Eum taro aja disitu mas aku belum makan. " Ucapku sambil menunjuk meja yang kosong agar Mas Adnan menaruh makanan nya disitu.
Pagi ini aku sangat tidak selera makan sama sekali.
Aku melihat Mas Adnan keluar kamar lagi dan balik dengan sendok beserta air putih yang ada ditangannya.
Mas Adnan kembali ke kamar dan dia duduk samping aku.
" Aaa makan dulu kamu nanti sakit lho."ucapnya sambil menyuruh aku buka mulut.
Aku akhirnya membuka mulut dan Kak Adnan memasukkan makanan nya namun belum lama aku merasakan mual kembali. Aku langsung lari ke kamar mandi dan memuntahkannya.
Karena aku sudah enggak bisa memakan makanan itu lagi akhirnya Mas Adnan menyingkirkannya.
" Iya udah kamu istirahat lagi deh. " Ucap Mas Adnan keluar kamar sambil membawa piring dan gelas yang tadi.
Aku merasa enggak enak banget sama bunda karena aku tidak bisa membantu umi dari pagi.
Ketik umi ke sini aku malah begini dan aku juga kasian sama Mas Adnan aturan dia istirahat tapi malah sibuk ngurusin aku terus.
Dan aku hanya diam di atas kasur sambil membaca novel.
Mas Adnan kembali lagi ke kamar.
" Mas Umi lagi ngapain?." Tanyaku
" Lagi Merapihkan sisa makanan, tadi mas mau bantuin kata Umi tapi mas suruh ke kamar aja nemenin kamu jadi iya sudah deh mas ke kamar deh." Ucap Mas Adnan.
" Mas Afifah jadi enggak enak engga bisa bantuin umi dan selalu ngerepotin mas terus jadinya." Ucapku sambil menunduk.
" Kata siapa kamu merepotkan mas?. " tanya mas adnan menatap ke arah ku.
" Tapi itu kenyataan nya mas afifah seperti itu." Ucapku.
" Hei.. Hei lihat mas, mas gapapa ko mas tau kamu juga enggak enak tapi mau gimana kamu lagi di fase ini, Fah. " Ucap Mas Adnan sambil mengangkat dagu aku.
Aku yang awalnya tertunduk sekarang jadi melihat Kak Adnan.
Entah mengapa tiba-tiba air mata aku menetes begitu saja.
Hikss.
" Loh ko malah nangis. "
Aku masih diam dan juga masih menangis.
" Hei ko nangis si istri mas, nanti cantik nya hilang loh kalau nangis terus. " Ucap Mas Adnan.
Mas Adnan menghapus air mata ku dan memeluk ku agar tangisan ku reda.
" Sudah ah jangan nangis kan sudah mau jadi bunda masa nangis terus. Tar nanti kamu samaan kaya dede loh terus mas pusing deh hehehe. " Ucap mas adnan yang berusaha menghibur ku.
Air mata ku masih belum bisa ku redakan malah semakin-makin terisak aku.
Entah mengapa tiba-tiba air mata aku menetes begitu saja. Aku merasakan kini aku menjadi sensitif gampang nangis iya bisa dibilang cengeng tapi itulah kenyataan ko.
Dan tanpa sadar aku menangis lama di pelukan Mas Adnan dan sampai aku tertidur di pelukannya.
Aku merasakan sedikit pergerakan dari mas adnan yang membenarkan posisi nya.
Mas Adnan sedikit membenarkan posisi kepala aku agar ke bahu nya supaya aku ada bantalan nya dia memindahkan aku perlahan agar aku tidak terbangun.
Tapi kenyataan nya aku terbangun cuman memilih untuk tetap menutup mata saja.
" Fah. "
__ADS_1
Mas adnan membangunkan aku
" Eum. "
" Hey bangun dulu yuk, makan. Kamu dari tadi belum makan loh. " Ucap Mas Adnan.
" Percuma mas nanti malah muntah lagi. " Ucapku.
" Hey di coba dulu ayuk, sedikit saja asal ada asupan makanan yang masuk ke perut mu sayang. " Ucap Mas Adnan.
Aku mencoba membuka mata ku, mas adnan membantu ku.
" Aaa. " Mas Adnan seperti mempraktekan suapin anak kecil.
" Sudah mas. " Ucapku padahal baru 2 suapan yang masuk.
" No, ayo sedikit lagi. " Ucap Mas Adnan.
" Tapi mas. "
" Dua suap lagi deh. " Ucap Mas Adnan.
Baiklah ku turutin mas adnan, ku coba sekuat ku meski mual nya sudah menghampiri diriku.
" Iya sudah minum dulu. " Ucap Mas Adnan yang memberi ku air putih.
*tok tok tok*
" Eum maaf umi ganggu iya. " Tanya umi.
" Ah enggak ko mi. " Ucapku.
" Ada apa mi?. " Tanya mas adnan
" Ah ini mau ngasih susu buat fifah, di coba minum iya. " Ucap umi.
" Umi. " Panggil ku sambil memegang tangan umi.
" Iya sayang. " Sahut umi.
" Maafin fifah iya, fifah enggak bisa bantuin umi. Umi di sini malah beres-beres aturan kan umi istirahat saja. " Ucapku.
__ADS_1
" Sayang udah enggak apa-apa, umi senang malah. " Ucap umi.
" Tapi mi. "
" Sudah sayang, umi senang ko membantu anak dan menantu umi. " Ucap umi.
" Tuh dengerin, umi saja tidak ke repotan. Fifah tadi malah sampai nangis mi cuman merasa bersalah padahal dia tidak ada salah apa-apa." Ucap Mas Adnan.
" Mas ish. "
" Apa mau ngelak bilang enggak nangis. " Ucap Mas Adnan.
" Mas. "
" Sudah sudah kalian ini malah adu mulut. " Ucap umi.
" Makasih iya mi sekali lagi. " Ucap ku.
" Iya sayang, sini. " Ucap umi yang mengajak aku pelukan.
Aku menghampiri umi dan memeluknya.
" Ini fifah saja, adnan enggak di ajak. " Ucap mas adnan yang cemburu.
" Sini sayang, kamu tuh iya masih saja cemburuan begini. " Ucap umi.
" Kaya anak kecil. " Sambung ku.
" Biarin wleee. "
Aku, mas adnan dan umi tertawa dalam pelukan.
Aku sangat bersyukur sekali punya suami yang pengertian dan punya ibu mertua yang baik banget bahkan dia menganggap ku sebagai putri nya sendiri.
Tak hanya sebagai menantu saja jadi apapun kita saling berbagi. Aku sangat bahagia sekali.
Acara pelukan selesai, aku disuruh umi untuk menghabisi susu nya agar aku punya sedikit stamina tidak lemas sama sekali.
Umi keluar dari kamar karena supaya aku istirahat saja.
" Eh sholat dulu baru abis itu boleh tidur. " Ucap Mas Adnan.
Lalu aku dan mas adnan sholat bareng.
__ADS_1
Mas Adnan membenarkan selimut ku dan dia beranjak ke luar kamar untuk bekerja di ruang kerja nya.