Dosen Killer

Dosen Killer
Part 58 | Flight To Korea


__ADS_3

" Sayanggg celana hitam masa dimana?. " Ucap Mas Adnan dari atas ke dengeran sampai bawah.


" Di lemari mas. " Ucap ku dan Mas Adnan diem mungkin dia sedang mencari.


" Enggak ada Fahh dimana?." Ucap Mas Adnan.


'Aduh kebiasaan deh' ucapku sambil mematikan kompor.


" Apa sih Mas kebiasaan deh nyari enggak pakai mata." Ucapku sambil menvari.


" Ini apa Mas, eum." Ucapku. Mas Adnan hanya cengengesan.


" Udah kan enggak ada lagi Fifah mau bantuin mbok buat sarapan sebelum kita jalan." Ucap ku yang hendak berjalan keluar kamar.


Mas Adnan menahan tangan aku.


" Tunggu ada satu yang ketinggalan."


" Apa lagi mas?. " Tanyaku


Mas Adnan menunjukkan kearah bibir aku.


Aku menggelengkan kepala.


" ya sudah enggak boleh keluar." Kata Mas Adnan yang menahan aku karena posisi tangan Mas Adnan menyentuh tembok dan aku dikunci supaya tidak bisa keluar.


" Mas ah jangan Aneh-aneh Afifah mau masak Mas buat sarapan." Ucapku sambil mengerutkan bibirku.


'Cup' Mas Adnan mencium bibir aku singkat.


" MAS ADNAN!." ucapku sambil mendelik kan mata.


Mas Adnan hanya senyum.


" Abis nya susah banget cuman minta cium aja kan kangen jadi hanya itu yang bisa aku lakukan." Ucap Mas Adnan dengan lesu.


Aku hanya diam 'apa aku sejahat itu cuman enggak ngasih ciuman aja.'


Aku mendekat ke Mas Adnan dan mencium bibir Mas Adnan secara singkat.

__ADS_1


Mas Adnan tersenyum "lagi dong singkat bener." Ucap Mas Adnan.


"MAS ADNAN!. "


" Ngelunjak iya lagian sejak kapan sih mas jadi mesum gini ah.? Ucapku.


" Semenjak aku kecanduan sama kamu sayang." Ucap Mas Adnan.


Aku hanya memutar kan bola mataku dengan jengah.


" Udah ah Mas Adnan aku mau ke dapur enggak enak sama mbok orang tadi lagi bantuin masak." Ucap aku.


" Tunggu kita keluar bareng." Ucap Mas Adnan sambil mengandeng aku.


Dan entah lah aku capek cuman turun tangga aja.


Aku sama Mas Adnan disuruh duduk saja.


" Mbok maaf ya Fifah enggak bisa bantuin tadi Mas Adnan ribet nyari celana nya. Dan sekarang Fifah turun tangga capek." Ucap aku merasa enggak enak.


" Enggak apa-apa Non mbok tau pasti capek orang Non bawa satu nyawa lagi." Ucap Mbok.


" Ini minum dulu pasti haus kan." Ucap Mas Adnan menyodorkan satu gelas air putih.


Aku meneguknya.


" Silahkan di makan Non, Aden. Supaya nanti enggak sakit diperjalanan atau kelaparan." Ucap mbok.


Mbok memang seperti ibu kita di rumah ini dia sangat perhatian kepada siapa saja yang ada di rumah ini.


" Makasih mbok." Ucapku tersenyum.


" Makasih mbok. Mbok maaf ya untuk liburan kali ini Adnan enggak ngajak mbok." Ucap Mas Adnan


"Aduh Den Adnan engga apa-apa kali. Orang kalian mau bulan madu sih." Ucap mbok


" Bulan madu? Aduh sih mbok ini mah bukan bulan madu orang kita bertiga." Ucapku.


" Oya Non bukan bulan madu maksud mbok itu apa anu aduh mbok lupa apa namanya. " Ucap mbok.

__ADS_1


" Baby moon kali mbok." Ucapku.


" Nah ya itu maksud mbok hehehe udah kalau gitu selamat sarapan Aden sama Non." Ucap mbok sambil pergi ke dapur lagi.


" Hahaha mbok lucu ya Mas." Ucapku sambil melihat ke Mas Adnan dan ternyata Mas Adnan sedang menatap aku.


" Manis dan lucu ya kalau sedang tertawa." Ucap Mas Adnan yang membuat aku ambigu.


"Siapa Mas yang manis dan lucu kalau tertawa? Mbok?" Ucap aku.


" Istri dan ibu dari anak-anak ku." Ucap Mas Adnan.


"Siapa emangnya ibu dari anak-anak kamu?. " Ucapku menggoda.


" Kamu lah masa mbok istri dari anak ku. " Ucap Mas Adnan.


Tangan Mas Adnan terulur kearah perut aku


" Bunda mu sedang menggoda ayah sayang." Mas Adnan kayak seakan-akan sedang mengobrol dengan anaknya.


" Ih siapa yang menggoda Mas. Lagian emang dedek udah bisa respon?." Ucapku.


" Kamu lagian pakai nanya ibu dari anak-anak aku. "


"Ya aku kan nanya aja. Siapa tau kamu punya istri lagi." Ucapku.


" Astagfirullah sayang aku bukan cowok kayak gitu. Dengerin aku sampai aku meninggal nanti istri aku cuman satu KAMU sayang. Kamu yang akan menemani aku susah senang dan kamu juga yang akan mengajari dan melindungi anak kita nanti." Ucap Mas Adnan.


Aku tiba-tiba memeluk nya.


"Makasih Mas. Maaf kalau Afifah masih kekanak-kanakan."


" Semua manusia bisa merubah sikap dan sifat nya. Banyak caranya untuk berubah ada yang dimulai dari kebiasaan dan ada juga karena terbiasa. Jadi aku yakin kamu bisa merubah nya sayang seiring berjalan nya waktu dan bertambah nya umur kamu." Ucap Mas Adnan


"Karena kalau umur kita semakin dewasa Mas yakin pemikiran kita juga akan berubah. Percaya itu Mas yakin."Ucap Mas Adnan.


Aku hanya mengerat kan pelukan aku.


" Udah ah makan yuk lapar nih mas."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan kita makan sarapan kita. Karena flight kita sebentar lagi.


__ADS_2