Dosen Killer

Dosen Killer
Part 32 | Membahas Konsep Resepsi °2


__ADS_3

Baik author sudah bilang ke aku kalau kalian lebih setuju ke option pertama.



Author mau bilang makasih walaupun baru beberapa yang komen karena kalau tunggu sampai banyak tar author engga up lagi dong.


Back to cerita oke


" Kamu suka konsep nya?. " Tanya mas adnan.


" Suka sekali mas. " Aku tersenyum bahagia ke arah mas adnan.


" Alhamdulilah mas ikut saja asal istri mas senang dengan semuanya. " Ucap Mas Adnan.


Kita pun melanjutkan obrolan lebih lanjut mengenai dekorasi untuk soal catering bahkan tamu undangan, aku dan menyerahkan ke umi sama bunda.


Abi sama ayah juga si kalau soal tamu undangan pasti dia juga mengundang beberapa kerabat kantor nya.


Untuk aku dan mas adnan kita hanya mengundang beberapa saja.


Acara mengenai dekor susah selesai sekarang mas adnan sedang mengobrol dengan umi mengenai catering karena kata mas adnan umi mempunya kenalan temannya yang punya catering yang makanan nya di jamin tidak mengecewakan.


" Fah. " Panggil mas adnan saat selesai menelepon.


" Iya mas, ada apa?. " Tanya ku.


" Mas rasa untuk baju mas mau serahkan ke bunda dan untuk soal tamu undangan biar abi sama ayah karena pasti tamu yang mereka untuk rekan kerja mas juga. " Ucap Mas Adnan.


" Fifah setuju mas. " Ucapku


" Eum mau fifah telepon sekarang?. " Tanya ku.


" Eugh jangan, sebaiknya kita ke rumah bunda sama ayah. Lagian kita juga belum ke sana kan." Mas Adnan mengajak aku ke rumah bunda.


Aku sungguh rindu suasana rumah bunda terutama bang satria. Apa kabar dia.


# Rumah Bunda dan Ayah


" Assalamu'alaikum. "


" Wa'alaikumsalam, eh anak bunda dan menantu bunda datang. "


" Sini sayang. "


Sifat bunda yang paling ku kangenin adalah seperti saat ini.


" We dek datang loh. " Ucap Bang satria dia datang bukan ucap salam kek atau apa gitu.


" Wa'alaikumsalam bang. " Sengaja aku begitu kalau tidak bang satria kebiasaan.


" Eh lupa maaf. " Bang satria menggaruk kepala nya.


" Abang abang enggak berubah iya, biasakan bang ucap salam bang. Kalau kaya gitu enggak sopan tau. " Ucapku.


" Iya maaf adek tercinta abang, maklum sudah tua abang. " Ucapnya.


" Iya udah tua sama kaya sebelah fifah upps." Aku menutup mulut karena enggak sengaja bicara itu.


" Apa Fah?. " Mas Adnan mendekatkan wajahnya.


" Eughh____."


" Sudah lah Nan kita emang sudah tua beda lah sama anak labil. " Ucap Bang satria membela mas adnan.


" Hahaha iya juga gue lupa istri gue kan anak labil. " Ini kenapa mas adnan sama bang satria malah sekongkol begini.


" Ah mas sama bang satria nyebelin. " Ucap ku.


" Sudah toh kalian ini. " Ucap Bunda


" Afifah sama adnan ada apa ke sini tumbenan." Ucap bunda.


" Tau tuh mas adnan, biar mas adnan saja yang jelaskan. " Ucap ku sedikit jutek.


" Aduh maaf bunda adnan jadi lupa niatan awal adnan kesini mau bicara soal acara resepsi aku sama afifah. " Ucap Mas Adnan.


" Makanya kalau udah tua ngaku aja deh. " Ucapku yang langsung bangkit dan pergi meninggalkan bunda mas adnan.


Aku memilih menghampiri ayah yang sedang memberi makan ikan nya.


" Ayah. " Aku memeluk ayah dari belakang.


Aku rindu ayah. Aku memang waktu kecil banyak menghabiskan waktu ku sama ayah. Aku mulai bercerita ke bunda itu sejak aku memasuki fase dewasa yang dimana kebersamaan ayah dan aku mulai berkurang.


Dulu saat memasuki Fase remaja, aku merasa kehilangan ayah. Bahkan dulu aku pernah bilang kalau aku enggak mau dewasa, aku mau jadi anak kecil saja.


Dimana aku sama ayah dan bunda tertawa bareng. Aku rindu masa kecil ku. Aku rindu momen saat bersama ayah, bunda bahkan bang satria saat mereka belum sibuk akan urusan masing-masing.


" Hey sayang anak ayah kenapa?. " Tanya ayah saat melihat wajah ku agak murung.


Iya ini pertama ku memeluk ayah bukan aku tidak mau memeluk nya melainkan rasa gengsi eum bukan gengsi si tapi entah kenapa saat dekat dengan ayah air mata selalu menetes.


Nah maka dari itu aku tidak pernah memeluk ayah sebelum ayah yang memeluk ku.


" Ah engga ko yah. "


Aku menghapus air mata ku.


" Ayah lagi ngasih makan ikan iya? mau fifah bantu?. " Tawar ku.


" Boleh sini-sini. " Ucap ayah mengajak aku memberi makan ikan bersama nya.


Aku tertawa lepas, aku merasa kembali ke masa lalu menjadi afifah kecil sejenak.


" Ekhm. "


aku dan ayah menengok ke arah mas adnan dan bunda yang baru saja datang.

__ADS_1


" Ada apa bun?. " Tanya ayah


" Ini adnan mau bicara sama ayah. " Ucap Bunda.


Akhir nya kita duduk di kursi panjang yang berada di balkon ini.


" Ada apa nak adnan?. " Tanya ayah.


" Eum gini yah, adnan mau repot kan ayah boleh?. " Tanya mas adnan balik.


" Oh tentu saja boleh, memangnya ada apa iya." Ucap Ayah.


" Eum gini, adnan mau minta bantuan ayah untuk handle soal undangan tamu bisa?. " Tanya mas adnan.


" Oh tentu bisa nak, nanti ayah juga akan bicarakan ke abi mu lagian kan pasti kerabat kantor yang akan diundang pasti sama karena kan kita juga saling mengenal. " Ucap Ayah.


" Makasih ayah, maaf adnan jadi merepotkan ayah. " Ucap Mas Adnan.


" Santai saja nak, ayah tidak pernah merasa di repot kan. Selagi ayah dan bunda bisa bantu kita akan bantu ko, bukan begitu bun?. " Ayah melirik ke arah bunda.


" Ah iya benar sekali ucapan ayah tuh. " Bunda membenarkan ucapan ayah.


" Eum kalian sudah makan?. " Tanya bunda


Aku menjawabnya dengan gelengan kepala karena memang benar kita belum makan.


" Iya sudah bunda hangat kan dulu makanannya. " Ucap bunda yang langsung memanaskan makanannya.


" Ikan jenis apa saja yah?. " Tanya Mas Adnan menghampiri ayah dan aku hanya duduk di bangku panjang saja.


Aku hanya melihat ayah sama mas adnan berbincang mengenai ikan.


" Adnan, Afifah, ayah ayo makan dulu. " Teriak bunda dari dalam kamar.


Kita kumpul di meja makan.


" Dek gimana kamu udah buat ponakan belum untuk abang?. " Tanya bang satria disaat semua nya diam tak bersuara karena memang lagi makan.


" Bang, lagi makan tidak boleh bersuara jadi diem oke. " Aku hanya menyahut seperti itu.


Kita pun melanjutkan acara makan kita.


" Sini bun Fifah saja. " Ucap ku ketika melihat bunda ingin mencuci piring.


Aku pun mencuci piring dan bunda merapihkan meja makan. Para pria entah lah mereka sedang apa di sofa ruang tamu.


Mas Adnan mengajak ku pulang tapi " Afifah sama Adnan nginap saja. " Ucap bunda.


Yups, bunda menahan aku dan mas adnan. Aku melirik ke mas adnan meminta jawaban karena aku hanya ikut mas adnan saja.


" Iya sudah kita nginap saja lagian sudah sore pasti macet jalanan, mas malas nyetir. " Mas Adnan peka juga.


" Abang kira kalian enggak mau nginap tadi karena takut nanti malam kedengaran kita. " Bang Satria ini memang suka menggoda iya.


" ABANG. " teriak ku sambil melotot.


" Sudah sudah kalian ini, afifah sama nak adnan ke atas saja istirahat kalian. " Ucap bunda.


# Kamar


WARNING 18+


" Ini siapa yang mau mandi duluan. " Tanya ku.


" Gimana kalau barengan saja. " Enteng sekali iya ucapan mas adnan ini.


" Mas ih enggak ada ya acara mandi bareng gini." Ucap ku.


Mas adnan terus maju hingga aku terhimpit di tembok, aku menahan nafas ku.


Mas Adnan mencium bibir ku, lama sekali bibir kita saling bertautan.


" Eugh. " Hingga ciuman kita berakhir karena aku tak bisa nafas.


" Mas ih. " Ucap ku.


" Maaf, mas tadi engga tahan soal nya bibir mu candu sekali buat mas. " Ucap Mas Adnan.


" Bibir mu menjadi candu mas saat malam itu." Ucap Mas Adnan.


Oke Fiks ini mah aku harus yang mandi duluan kalau tidak ucapan mas adnan makin ngelantur kemana-kemana kasian author nulis nya.


Selesai ku mandi sekarang gantian mas adnan.


Aku kebawah menyiapkan minuman untuk mas adnan.



Satu fakta tentang mas adnan yang belum ku ceritakan yaitu kebiasaan dia untuk meminum minuman yang hangat apapun itu ketika habis mandi sore.



Kenapa saat abis mandi sore karena kata dia bisa membuat rileks dan memudahkan dia untuk tidur nanti malam.



Aku memutuskan kebawah untuk membuat teh hangat saja karena kalau kopi malah nanti mas adnan engga bisa tidur malam kasian.



Agenda besok adalah fitting baju dan kita akan mencoba catering yang di pesan umi.



Katanya si umi yang akan ke rumah bunda jadi kita berkumpul di sini saja.


__ADS_1


" Mas ini fifah buat kan teh saja iya. " Ucap ku.



" Makasih sayang, taruh di situ. " Ucap mas adnan yang lagi merapihkan rambutnya.



" Fah sini deh. " Ucap mas adnan menyuruh ku ke arah nya yang sedang di depan cermin.



" Sini berdiri depan mas. " Ucap mas adnan.


Aku pun nurut saja berdiri di depan nya lalu mas adnan memeluk ku dari belakang.



" Biarkan seperti ini dulu iya. " Ucap mas adnan.



Baiklah, aku mencoba untuk rileks saja meski jantung ku berdebar seperti ingin keluar dari tempatnya.



Pelukan kita harus berakhir karena suara adzan sudah berkumandang.


" Sholat dulu yuk. " Ucap Mas Adnan.



Kita melangsungkan sholat magrib berjamaah sama bunda, ayah dan bang satria.



" Ayu adnan. " Ucap Ayah mempersilahkan mas adnan menjadi imam sholat kita.



" makasih yah. " Mas Adnan tidak pernah menolak apapun yang di suruh oleh ayah atau siapapun.



Selesai sholat aku dan mas adnan berbincang di kasur atau pillow talk.


Biar dikata enggak langsung tidur gitu, tar author di bilang ko kerjaannya afifah tidur terus hehehe karena emang aku sebenernya tukang tidur seperti yang author tulis.


Kegiatan aku cuman begitu saja setiap hari.


Pagi bangun sholat, masak terus berangkat kampus. Kalau kuliah pulang lebih awal biasanya ngobrol sama mbok sum di rumah abis itu ke kamar untuk mandi dan sholat.


Malamnya menyiapkan makanan buat mas adnan dan menyiapkan untuk kita sholat abis itu tidur. Iya tidur lah kan dah malam mau ngapain lagi.


oke oke back to pillow talk aku sama mas adnan.


" Fah. " Panggil mas adnan.


" Eum iya mas. " Aku membenarkan posisi ku karena mas adnan duduk jadi aku ikut duduk.


" Makasih iya sudah menjadi istri ku. " Ucap Mas Adnan.


" Kenapa harus makasih mas. "


" Karena kamu sudah memilih mas untuk jadi suami mu. " Ucap mas adnan.


" Mas Awalnya takut kamu menolak mas karena sifat mas yang dingin dan cuek ke kamu. Mas sadar ko kalau mas terlalu keras ke kamu dan karena sifat cuek mas, kamu jadi sakit waktu itu. " Ucap Mas Adnan.


" Sudah lah mas yang lalu biarkan berlalu oke. " Ucap Ku tersenyum ke arahnya.


" Mas beruntung menjadi suami mu. " Ucapnya.


" Mas, tidak ada kata beruntung ingat itu. Ini tidak ada hubungannya dengan keberuntungan atau kebetulan. Ada banyak hal yang bisa dibicarakan dengan komunikasi. Kita hanya perlu saling memahami satu sama lain dan harus bersepakat untuk bahagia selamanya." Ucapku.


" Wah bijak sekali istri mas ini." Ucap mas adnan sambil mengelus kepala ku.


" Fah, mas mau tanya deh. "


" Tanya apa mas?. "


" Kenapa kamu waktu itu mengiyakan lamaran mas. "


" Eum karena fifah udah capek sama yang namanya pacaran jadi fifah akan mengiyakan kalau ada orang yang serius dan mau membimbing fifah. " Ucap ku.


" Kamu pernah di sakitin pria?. "


Pertanyaan mas adnan kenapa mengarah ke sana si.


" Jawab Fah. "


Aku masih diam


" Mas mau tau dong ceritanya. "


" Eum mas kita sholat dulu yuk abis itu kita tidur kan besok kita sibuk harus bangun pagi." Ucapku mengalihkan pembicaraan.


Aku tidak mau membahas soal mario.


Mario,


dia salah satu masa lalu ter enggak banget untuk ku. Aku tidak mau membahas soal mario karena bagi ku dia hanya masa lalu yang tak perlu di ingat tapi hanya jadi acuan aku untuk ke depannya.


Sudah lah lebih baik aku sholat dulu abis itu tidur karena ini sudah malam.


" *Selamat tidur istriku. Mas sayang sama kamu sekarang esok dan selamanya. Mas harap kita akan bahagia selamanya. Mas janji akan bahagiakan kamu semampu dan sebisa mas. Mas enggak akan biarkan kamu terluka lagi.


Happy nice dream sayang❤*. "

__ADS_1


__ADS_2