Dosen Killer

Dosen Killer
Part 9 | Akad nikah


__ADS_3

Hari yang mendebar karena sejak tadi pagi aku sangat deg-deg an sekali.


Aku sudah siap dengan dress panjang yang sangat sederhana beserta Jilbab yang sudah melekat di badanku.


07:00


Sudah jam 7 yang berarti akad nikah akan di laksanakan sebentar lagi.


Aku semakin tambah berdebar saat detik-detik Pak Adnan mengucapkan ijab kabul.


" Mari kita mulai acaranya ada pun akad nikah akan dilaksanakan karena adanya Rukun nikah yang harus dipenuhi adalah:


Ada Pengantin Pria yaitu Mas Akhmad Adnan Al-Zaky


Ada Pengantin Wanita yaitu Mba Afifah Afsani


Ada Wali Nikah Bagi Wanita, yang me wali kan nya yaitu ayahanda nya sendiri bapak Adhiatama.


Ada Saksi Nikah yaitu Satria Adhiatama selaku Kakak nya Afifah.


Baik selanjutnya saya serahkan ke bapak Adhiatama untuk menikahkan. " Ucap penghulu.


" Saudara Akhmad Adnan Al-zaky bin Ardhi Al-Zaky Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan Putri saya yang bernama Afisah Afsani binti Adhiatama dengan maskawinnya berupa perlengkapan sholat dan uang sebesar dua puluh juta dua ratus ribu rupiah di bayar tunai.”


" Saya terima nikah dan kawinnya Afifah Afsani binti Adhiatama dengan maskawinnya yang tersebut diatas tunai. " Ucap Pak Adnan dengan satu helaan nafas


" Bagaimana para saksi. " Ucap penghulu.


Semua saksi berucap


"Sah"


"Sah"


"Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir."


Iya tepat hari ini aku sudah berganti status menjadi seorang istri semoga aku bisa menjadi istri yang sholehah.


" Kalau gitu di jemput atuh istrinya. " Ucap penghulu yang menggoda Pak Adnan.


Aku mendengarnya karena aku berada di suatu ruangan yang tidak terlalu jauh dari acara akad dilaksanakan.


Pak Adnan menghampiri ku dan aku berdiri lalu tiba-tiba Pak Adnan menjulurkan tangannya.


Iya Pak Adnan menggandeng ku keluar untuk menuju ke acara.


Aku menanda tangani buku nikah dan berkas-berkas yang harus ku tanda tangani.


"Ekhem atuh dicium tangan suami nya neng." Ucap sang penghulu.


Aku langsung mencium tangan Pak Adnan.


Dan Pak Adnan mendekat ke aku mencium kening ku lalu dia menempelkan tangannya di ubun-ubun ku sambil melafadzkan doa.


Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih


yang artinya


ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.


Aku hanya mengamini dalam hati semua doa yang dipanjatkan.


Acara selanjutnya kami mencium tangan orang tua kita masing-masing.


Aku meneteskan air mata ku sangat mencium tangan bunda


" Hush jangan nangis dah nikah juga, tuh malu kali ama suamimu. " Ucap Bunda.


" I-ih bunda."Ucapku sambil menyeka air mataku.


Sekarang tiba saat nya Pak Adnan harus mencium tangan Ayah


" Nak Adnan saya titipkan putri saya, jaga dia jangan sampai dia mengeluarkan air mata kesedihan. Hiasi lah dengan kebahagian. " Ucap ayah


" Insya allah Yah Adnan akan berusaha membuat Fifah bahagia bersama Adnan." Ucap Pak Adnan.


" Maaf semuanya saya masih ada acara lagi jadi saya gak bisa lama disini. " Ucap Bapak penghulu


"Oh gitu makasih pak atas waktu nya." Ucap ayahnya.


"Mari saya permisi." Pamit bapak penghulu.


"Mari pak saya antar kan ke depan."Ucap Bang Satria.


Baik aku dan Pak Adnan tidak ada yang berbicara hingga akhirnya sahabat dan kerabat kedua orang tua kita datang semua.


Acara akad pun selesai dilangsung kan. Aku, Pak Adnan, ayah bunda dan abi umi nya Pak Adnan memutuskan pulang ke rumah ayah bunda.


Sesampai nya di rumah abi dan umi nya pak adnan pamit pulang.

__ADS_1


" Adnan Fifah heum abi umi pamit ya. " Pamit Umi nya Pak Adnan.


" Dhi aku titip anak ku di sini kalau dia sampai menyakiti Afifah hajar saja. " Ucap Abi.


" Iya engga gitu juga kali bi. " Bela Pak Adnan.


" Fifah kalau anak nyakitin kamu lapor ke umi iya. " Ucap Umi.


" Iya Umi. " Ucap ku sambil tersenyum.


" Assalamu'alaikum. " Ucap Abi dan Umi.


" Wa'alaikumsalam. "


" Iya sudah Fifah ajak suami mu ke kamar biar kalian istirahat pasti lelah sekali. " Ucap Bunda.


" Iya bunda. " Ucapku.


" Jangan lupa buatkan abang ponakan yang lucu-lucu iya. " Teriak Bang Satria.


" Heum mari ikut aku. " Ucap ku tanpa memperdulikan Bang Satria.


Ketika sampai dikamar, kita berdua langsumg menata barang-barang kita.


Hening suasana yang men dominasikan kita tak ada satu pun yang mengucapakan satu kata.


" Pak Adnan. " Ucapku yang memecahkan keheningan namun aku mendapat tatapan tajam dari Pak Adnan aku langsung menunduk.


" Saya sudah pernah bilang jangan panggil saya 'pak' kamu sudah kena kosekuensi nya akibat manggil saya 'pak'. Kalau kamu sekarang manggil saya 'pak' lagi saya tidak segan-segan untuk mencium bibir kamu, paham?!. " Ucap namun diakhir kata nya berhasil membuat bulu kuduk ku merinding.


" Baik bapak Adnan terhormat upsss. " Ucapku yang sangat ceroboh sekali kenapa aku harus mengulangnya.


Namun Pak Adnan langsung mendekat kearah ku dan menepis jarak diantara kami, dan Pak Adnan mencium bibir ku. Oh tidak, first kiss ku sudah diambil oleh Pak Adnan nyebelin.


Pak Adnan pun melepaskan bibir nya dari bibirku. " Saya tidak pernah main main oleh ucapan saya."


Aku diam terpaku akibat apa yang barusan terjadi.


" Ekhm ini yang mau mandi dulu siapa?. " Tanya.


" Fifah. " Ucapku yang langsung berlalu ke kamar mandi.


Aku berendam lama dikamar mandi untuk menghilangkan rasa penat ku dan menghilang memori kejadian yang barusan terjadi.


Aku ingin keluar tapi malu dan akhirnya aku membuang rasa malu. Aku melihat pak eum maksud ku mas adnan sedang sibuk dengan laptopnya.


Dia melirik ke arahku


" Sudah mas, eum mas mau mandi?. "Tanyaku


" Iya sudah lengket sekali badan saya. " Ucap dia.


" Biar Fifah siapkan baju nya. " Ucapku.


Entah kenapa aku sangat berdebar sekali aku takut malam ini.


Saat melihat dia keluar dengan rambut basah nya membuat aura dia sangat mempesona.


" Kamu kenapa?. " Tanyanya.


Oke aku ketahuan melihat dia


"Eum enggak mas. " Ucapku.


" Fifah Adnan makan dulu. " Panggil Bunda dari luar kamar.


" Iya bunda. " Ucapku.


Iya Aku dan Mas Adnan turun untuk makan.


Heum Tak terasa iya hari sudah malam.


Aku dan Mas Adnan kini sedang di kamar dan kita berdua hanya diam-diaman saja.


Aku yang sedang membersihkan wajahku tak sengaja melirik ke arah kaca dan tak sengaja pandangan aku sama Mas Adnan bertemu tapi itu tidak berlangsung lama.


Dia langsung berdiri dan mengambil laptopnya yang berada di dekatku lalu kembali lagi ke tempat tidur.


Aku masih diam di posisi ku yang saat ini di depan kaca.


" Kenapa masih disitu? memangnya tidak pegal?. " Tanya nya.


" Eum. "


" Sini engga usah takut tenang saja aku tidak akan meminta hak ku sekarang ko. " Ucapnya.


Setelah mendengar itu aku melangkah mendekat ke arah nya.


" Tidur lah pasti sangat lelah. " Ucapnya.

__ADS_1


" Eum iya mas, mas juga tidur kan pasti capek juga. " Ucapku.


" Iya aku akan tidur setelah mengirim e-mail. " Ucap dia menggunakan 'aku' bukan 'saya' lagi.


Aku memejamkan mata tak berselang lama aku merasa Mas Adnan sudah berbaring disamping aku. Dia mengusap kepala ku yang masih terbalut jilbab.


Kalian pasti bertanya ko aku masih memakai jilbab ku kenapa tidak di lepas saja lagian kan Mas Adnan sudah halal untuk ku tapi jawaban ku tidak aku akan membuka nya jika aku sudah siap, iya aku tau Mas Adnan memang sudah halal untuk ku tapi hati ku belum siap jadi tidak bisa dipaksakan.


" Tidur yang nyenyak ya istriku, aku tak akan biarkan sesuatu yang menggangu tidurmu." Ucapnya yang terdengar lirih.


Aku masih bisa mendengar karena aku belum sepenuhnya tertidur. Aku hanya tersenyum.



Adzan subuh sudah berkumandang. Aku segera bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu. Selesai berwudhu aku membangunkan Kak Adnan.



" Mas Adnan bangun Kak sudah subuh." Ucapku.



" Eum ya Fah. " Ucapnya dan dia langsung bergegas ke kamar mandi.



Sambil menunggu dia selesai dikamar mandi aku menyiapkan pakaian nya. Ya karena itu sudah kewajiban ku menyiapkannya walau nanti dia makai atau tidaknya.



Setelah Mas Adnan keluar dari kamar mandi aku melihat dia sudah mengenakan celana pendek dan kaus hitam. Iya entah mengapa aku merasa kecewa saja melihat dia sudah mengenakan pakaian rapi berarti tanda nya pakaian yang sudah ku siapkan percuma saja. Jangan sampai dia melihat kearah ranjang yang dimana terletak baju dia yang sudah aku siapkan.



Aku menggelar sajadahku. Aku menunggu Mas Adnan menggelar sajadah nya didepan sajadah ku namun , Mas Adnan tak kunjung menggelar sajadahnya. Aku menengok kearah belakang melihat Mas Adnan menggunakan baju yang sudah aku siap kan tadi. Aku tersenyum bahagia dia makai baju yang sudah aku siapkan.



Selesai sholat aku dan Mas Adnan keluar dari kamar, aku yang memilih membantu bunda dan Mas Adnan kumpul dengan ayah sama Bang Satria yang hari ini libur.



Aku kembali fokus memasak dan akhirnya masakan ku sudah jadi. Aku memanggil Mas Adnan dari dapur karena jaraknya tidak jauh.



Kita semua pun kumpul dimeja makan namun ditengah makan aku tiba-tiba tersedak.



Aku melihat Mas Adnan mengambil minum dan dia ngasih minum itu ke aku " Minum dulu."



Aku meminumnya " Makasih mas."



" Iya makanya lain kali hati-hati. " Ucapnya.



" Jangan kaya kecil juga yang makan nya belepotan gitu. " Ucap nya lagi lalu dia menyentuh ujung bibirku mengambil nasi yang berada diujung bibirku.



Aku hanya tersenyum.



" Ekhm kalau mau uwuw an jangan disitu dong." Ucap Bang Satria.



" Abang ishh kebiasaan. " Ucapku.



" Bisa aja lu Nan hehehe. " Ucap Bang Satria.



" Apa si sat lu gajelas. " Ucap Mas Adnan.



" Udah toh satria jangan godain adek nya terus." Ucap bunda membela ku.


__ADS_1


Iya kita semua melanjutkan makan nya dengan hening seperti biasa.


__ADS_2