
" Sayangg." Ucap Mas Adnan.
" Iya? Kenapa Mas?." Ucapku yang menyamperi Mas Adnan dikamar karena aku sedang di bawah.
" Jaket Mas yang hitam dimana?." Ucap Mas Adnan selalu deh dia yang naruh ko aku yang ditanya.
" Mas ya Allah kamu yang naruh juga. Kamu naruh dimana terakhir?."ucapku.
"Aku naruh disini terakhir (menunjuk kearah gantungan yang ada dibalik pintu)." Ucap Mas Adnan.
" ya disini kali Fifah enggak pernah mindahin ko. Coba cari lagi deh Mas."Ucapku.
Mas Adnan kembali mencari jaket nya.
" Mas ini apa?. (Sambil memegang jaket Mas Adnan)." Ucapku menemukan nya dibalik pintu kamar mandi.
" Nemu dimana Fah?." Tanya Mas Adnan.
" Tuh." Ucapku sambil menunjukkan kearah balik pintu kamar mandi.
" Hehehehe Mas lupa kalau Mas ternyata naruh disini." Ucap Mas Adnan. Rasanya ingin ku getok kepala nya untung nya kau suami ku Mas.
Mas Adnan sedang boarding untuk keberangkatan kita.
Setelah 30 menit Mas Adnan boarding kita langsung menuju kedalam pesawat.
Aku dan Mas Adnan sudah duduk di pesawat dan enggak butuh waktu lama aku tidur. Aku tuh sekarang gampang tidur.
" Mas." Ucapku ketika membuka mataku dan nengok kearah Mas yang sedang asik dengan laptop nya.
"Iya? Kenapa Fah?. Tanya Mas Adnan sambil menatap aku.
" Lapar." Ucap ku sambil memasang muka manyun.
" Oh bentar Mas mesen dulu ya." Ucap Mas Adnan.
Makanan aku sudah sampai dan aku menikmati makanan aku dengan lahap.
Selesai makan aku menyenderkan kepala aku di bahu Mas Adnan yang sedang sibuk mengecek e-mail dari kantor.
Mas Adnan mengusap kepala aku.
" Mas." Ucapku
" Apa sayang?." Ucap Mas Adnan.
Aku hanya menggelengkan kepala dan malah memilih bersandar di bahu nya.
" Kenapa sayang eum?."Ucap Mas Adnan yang sudah tidak menatap laptop nya.
" engga apa-apa Mas."Ucapku.
Mas Adnan langsung mengecup kening aku.
" Mas tadi enggak tidur ya?." Tanyaku soalnya Mas Adnan kelihatan seperti ngantuk sekali.
" Eum enggak Fah soalnya tadi ada e-mail masuk dari kantor." Ucapnya.
Aku hanya diam saja dan tanpa aku sadar aku kembali tidur lagi.
Kita pun sudah sampai di bandara Soekarno-hatta.
Supir pribadi mas adnan yang menjemput kita di bandara.
Sepanjang perjalanan aku sibuk mengecek HP dan Mas Adnan sedang membuka laptop nya.
Setelah satu jam perjalanan akhirnya kita sampai di rumah bunda.
" Assalamu'alaikum." Ucap aku dan Mas Adnan ketika sampai rumah.
__ADS_1
"Walaikumsalam Sayang sudah sampai toh sini mbok bawakan." Ucap Bunda yang langsung memeluk ku.
" Oya Kalian mau makan sekarang atau mau bersih-bersih dulu." Ucap Bunda.
" Kayak nya kita bersih-bersih dulu deh."Ucap ku.
" Yowes kalian bersih-bersih dulu nanti bunda hangatkan makanannya ya."Ucap bunda.
Aku dan Mas Adnan langsung bersih-bersih.
" Mas." Ucapku.
" eum." Mas Adnan lagi asik dengan laptop nya dia aja enggak tau kalau aku sudah selesai mandi.
" Mas."Ucapku supaya Mas Adnan menengok dulu.
"APA SIH GANGGU AJA!." Ucap Mas Adnan yang tiba-tiba membentak aku, aku sangat kaget padahal aku cuman mau ngasih tau kalau Delisa Whatsapp aku ketika dijalan.
" Astagfirullah Mas. Afifah cuman mau ngasih tau aja ko malah dibentak." Ucapku yang diiringi dengan menahan tangis aku.
Mas Adnan mengusap wajah nya dengan gusar " maafin Mas, Mas enggak bermaksud membentak kamu.
" Mas minta maaf." Ucap Mas Adnan langsung menghampiri aku dan minta maaf.
Namun aku masih kaget Mas Adnan membentak aku.
Aku langsung keluar kamar karena aku enggak kuat menahan air mataku yang akan keluar.
" Sayang mau kemana?." Ketika aku keluar mendapatkan bunda yang sedang menyiapkan makanan.
Aku hanya tersenyum kearah kolam renang.
" Sayang." Ucap Mas Adnan yang menghampiri aku.
Aku hanya diam dan menatap kaki ku yang basah kena air kolam renang.
" Hei mas minta maaf, tadi mas lagi banyak pikiran." Ucap Mas Adnan.
"Eum gapapa ko mas lagian itu lebih penting kan?." Ucapku anggap saja aku egois tapi entah mengapa selama aku hamil kalau dicuekin Mas Adnan ada rasa kesal.
Bagiku Mas Adnan lebih mementingkan pekerjaan nya daripada aku itulah yang aku pikiran.
__ADS_1
" Enggak ko kamu lebih penting dari segalanya." Ucap Mas Adnan.
"Pekerjaan kan segala nya buat Mas. Afifah kan cuman menemani kamu saja Mas tapi aku enggak penting." Ucap ku.
" Bagi mas kamu lebih penting cuman tadi ada urusan yang harus aku handle sendiri. Mas minta maaf." Ucap Mas Adnan sambil menunduk.
Aku diam saja.
" Kamu segalanya buat Mas, Mas rela kehilangan harta pekerjaan Mas asal kamu ada selalu buat Mas."
"Mas rela kalau harus berhenti di perusahaan Abi ko. Mas memilih untuk ngajar aja gapapa." Ucap Mas Bersungguh-sungguh.
" Engga usah sampai segitunya nya Mas maafin Fifah yang kekanak-kanakan tadi. Mas ada untuk Fifah aja senang ko."Ucap ku.
" Mas akan selalu ada buat kamu sayang."Ucap Mas Adnan sambil mengecup kening aku.
" Udah makan yuk Mas lapar. Udah jangan ngambek terus kasian dedek yang diperut lapar."Ucap Mas Adnan.
" Lagian Mas juga sih buat Fifah bete salah sendiri." Ucap ku dengan cemberut.
" Ya ya Mas minta maaf kamu mau es krim?." Ucap Mas Adnan.
" Mauu."
" Tapi entar ya sekarang kita makan dulu kalau enggak makan Mas enggak mau beliin eskrim." Ucap Mas Adnan.
"Y ayu makan kita kedalam ya enggak enak sama bunda." Ucap ku dengan semangat.
Waktu keruang makan.
" Kalian itu ya kenapa si ribut terus. " Ucap bunda.
" Hehehe biasa ko bun Fifah tadi bete aja."Ucap Mas Adnan.
" Afifah enggak boleh gitu lagi iya jangan seperti dulu lagi ubah sikap mu. Kamu sudah menikah sayang. " Ucap bunda.
" Yowes jangan ribut terus kalian baru saja abis kena masalah yang besar jangan sampai terulang lagi ya, bunda sama ayah ingin lihat kalian bahagia. " Ucap bunda.
Aku dan Mas Adnan makan sehabis itu kita mengobrol di sofa mengenai kabar gembira bang satria yang belum ku ketahui.
" Bun emang ada kabar bahagia apa si. " Tanya ku.
" Eum kamu lihat saja besok. Biar abang yang menjelaskan ke kita semua. " Ucap bunda.
" Ish abang apaan si pakai segala rahasia-rahasian seperti ini. " Ucapku
__ADS_1
Ah sudah lah aku lebih baik naik ke kamar saja melanjutkan nonton film yang belum ku selesai tonton sedangkan mas adnan dia memilih bekerja.