Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 10 : Ini Tidak Mungkin!


__ADS_3

Vina semakin yakin bahwa Arkha belum sepenuhnya sadar akan statusnya saat ini. Kemarin seperti jijik untuk mendekatinya dan sekarang justru bermain-main di tubuhnya.


''Dasar laki-laki hidung belang!'' gerutu Vina dalam hati.


Arkha menaikkan sudut bibirnya saat tangannya tidak menemukan penutup pepaya kembar Vina.


''Ah, rupanya kamu sudah menyiapkan untukku.'' bisik Arkha dengan seringai senyum nakalnya.


Vina langsung terbelalak, ia tak ada bermaksud untuk hal itu. Ia hanya sudah terbiasa untuk melepaskan bra sebelum tidur, karena hal itu memang yang dianjurkan bagi wanita.


''Bu-bukan begitu.'' jawab Vina gugup.


''Sssttt!'' Arkha langsung meminta Vina untuk diam.


Bukan Arkha bila tidak mengambil mangsa yang ada di depan mata. Ia langsung mengerahkan kedua tangannya untuk memainkan pepaya kembar itu dengan memejamkan mata dan menggigit bibirnya. Vina langsung merasa geli, ia benar-benar hampir tidak bisa untuk tidak bersuara. Menyadari hal itu, Arkha langsung kembali mengunci bibir Vina.


Vina menggenggam bantalnya dengan erat. Dengan permainan yang handal, Arkha kembali turun ke bawah dan membuat tanda di leher Vina. Tak berhenti sampai disitu, ia menyingkap kaos oblong yang dikenakan Vina sampai ke atas dada, sehingga menampakkan pepaya kembar itu, meskipun di bawah gelapnya selimut tebal yang menutupi mereka.


''Tu-Tuan.'' lirih Vina yang ternyata benar-benar merasakan takut dengan hal ini.


Namun, Arkha tetap saja tidak menghentikan aksinya, justru mengarahkan tangan Vina ke tengkuknya.


Arkha seperti berjumpa dengan makanan favoritnya yang lama tidak ia makan. Sehingga membuat Arkha begitu rakus bertindak seperti batita. Vina sudah menggigit bibirnya dengan kuat, ia reflek mencengkeram rambut Arkha saat suaminya itu semakin rakus. Cengkraman itu semakin memperdalam aksi Arkha, ia berpindah dari pepaya satu ke pepaya satunya. Begitu juga dengan tangannya.


Vina yang tanpa sadar bergerak ke kanan dan ke kiri itu membuat jiwa pria Arkha semakin terpancing. Ia juga membuat tanda-tanda merah di pepaya kembar itu hingga tak menyisakan ruang lagi. Beruntungnya Mikhael tidak terganggu sehingga tidurnya masih tampak nyenyak.


Tidak peduli dengan aroma khas bangun tidur, Arkha belum menghentikan aksinya meskipun waktu terus berjalan. Rasa itu berbeda, ia yang sudah berpengalaman bisa membedakan mana yang sudah bekas dan mana yang masih original. Rasa ini berhasil membuatnya berbunga-bunga.


''Jika memang ini awal dari perjalanan takdir cintaku, aku ikhlas.'' bathin Vina sembari menatap wajah suaminya yang tampan itu.


Perlahan, Vina melingkarkan kedua tangannya ke punggung Arkha sehingga membuat keduanya semakin tak ada jarak. Bukan malam pertama pengantin bagi mereka, tetapi pagi pertama bagi pasangan pengantin baru itu.

__ADS_1


Semua mengalir seperti air meskipun terjadi dalam keadaan belum sadar sepenuhnya, sesuatu yang tertidur pulas pun sudah terbangun sejak tadi, bahkan sudah menyentuh bagian Vina meskipun masih terlapisi pakaian.


''Oh, ini yang gue cari! I like!'' gumam Arkha dengan senyum liarnya.


Pendingin ruangan pun langsung tak mampu lagi menahan keringat dingin yang mulai mengucur di kening Vina. Padahal sebelumnya ia sangat kedinginan karena volume AC di kamar ini Arkha atur lebih dingin.


''Aku pasrah, ya Allah.'' bathin Vina yang tanpa disadari sudut matanya mengeluarkan butiran bening.


Arkha masih menggunakan satu tangannya untuk menopang tubuhnya. Ia semakin aktif di dalam permainannya.


Beberapa menit kemudian, saat tangannya mulai masuk ke dalam celana pendek Vina, Arkha terkejut sendiri, kemudian langsung menghentikan aksinya, ia langsung sadar sepenuhnya bahwa ada yang tidak beres. Apalagi posisinya kini masih berada di atas tubuh Vina dan benar-benar menempel, ia yang sudah tidak mengenakan baju dan kaos oblong Vina yang masih dalam keadaan tersingkap ke atas.


Arkha terbelalak saat menyadari dirinya seperti sedang makan permen bulat. Satu tangan untuk menopang tubuhnya, sedangkan tangan kirinya sudah menyusup.


Jika tidak ia kendalikan, bisa jadi ia membobol gawang dan akan menghadapi hal-hal yang sangat tidak ia harapkan dari pernikahan ini.


"Tidak! tidak! ini tidak mungkin!" pekik Arkha yang langsung menggeleng cepat.


Arkha dan Vina langsung bergerak cepat karena kaget. Arkha langsung bergeser ke samping pinggir, sedangkan Vina menurunkan kaosnya dengan cepat dan langsung duduk. Keduanya sama-sama kaget dan cemas seandainya Mikhael melihat.


"Lho, kok masih merem?" gumam Vina saat melihat Mikha masih dengan posisi awal, tidur dan membelakangi mereka.


"Ngigau." sahut Arkha dingin.


Vina menoleh, keduanya saling menatap tanpa berbicara.


"Sudah waktunya shalat subuh, Tuan. Saya akan ke kamar, titip Mikha." ujar Vina lalu menunduk sembari turun dari ranjang itu.


Arkha pun tidak menjawab, ia masih tak habis pikir kenapa harus terjadi sedini ini.


Vina langsung berlari ke kamar mandi dan tujuan utamanya menuju cermin. Kedua matanya langsung terbelalak, mulutnya pun langsung menganga saat melihat merah-marah matang yang memenuhi lehernya.

__ADS_1


''Astaghfirullah! apa-apaan ini! dasar vampir! drakula!" bathin Vina sembari menoleh ke kanan dan kiri untuk memeriksa lehernya.


Vina langsung teringat hal lain, ia pun menyingkap kaosnya sendiri. Pemandangan itu membuatnya semakin terbelalak saat pepaya kembarnya tampak sedikit bengkak, ukiran-ukiran berwarna merah matang juga tampak penuh.


''Ini bener-bener gila! rakus banget sih!'' gerutu Vina kesal.


Vina langsung menundukkan kepalanya lemas. Ia tak menyesalkan apapun atas kejadian ini karena yang melakukannya pun suami sahnya sendiri. Vina hanya mengkhawatirkan bagaimana kelanjutan jalan pernikahan ini. Ia tak ingin hasrat tanpa cinta.


Beberapa menit kemudian, Vina memutuskan untuk langsung membersihkan badannya karena waktu terus berjalan, ia harus mengurusi Mikhael dan akan ke rumah Dewi. Setelah selesai, ia buru-buru untuk shalat subuh.


Saat melepas mukenanya, ia menatap cermin dan kembali diperlihatkan pemandangan yang ada dilehernya itu. Vina menarik napas panjang sembari menggelengkan kepalanya.


''Astaghfirullah, ini bakal bikin malu kalau sampai dilihat sama orang lain! inj nggak bisa dibiarkan, harus cari cara buat menutupinya.'' gumam Vina sembari meletakkan mukenanya dengan buru-buru.


Vina langsung membuka tasnya dan mencari perlengkapan make up-nya yang bisa menutupi aib-aib itu.


''Huuhh, untung punya.'' gumam Vina.


Vina langsung duduk di depan meja rias, ia tak ingin menunda-nundanya sebelum Mikhael memergoki semua ini.


''Dasar drakula!'' gerutu Vina sembari mengoleskan foundation dilehernya.


Sedangkan di kamar Arkha, ia masih bertapa di dalam kamar mandi untuk menidurkan kembali tongkat ajaibnya yang sepertinya sangat ingin dibawa ke pertempuran.


''Hoy, buruan tidur lu!!'' omel Arkha pada tongkat ajaibnya.


''Ckckckck! bisa-bisanya semua ini terjadi! gila, gila, gila!!''


Arkha pun masih tak habis pikir dengan dirinya sendiri.


Setelah menunggu, akhirnya yang ditunggu-tunggu pun kembali tidur. Arkha langsung cepat-cepat keluar dari kamar mandi. Saat keluar, Mikhael sudah tak ada di kamarnya, bahkan tempat tidurnya pun sudah terlihat rapi lagi.

__ADS_1


__ADS_2