Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 51 : Overthinking


__ADS_3

Tidak tau kepastiannya berapa lama Arkha berada di luar negeri nanti. Meskipun Arkha sudah menyebut hanya sekitar dua malam saja. Tapi, kegelisahan itu tidak bisa Vina pungkiri. Apalagi disana akan bertemu dengan mertuanya yang jelas-jelas belum bisa merestui pernikahan anaknya.


"Bagaimana kalau tuan Arkha mendapatkan pengaruh dan Mikha juga sudah terpengaruh?" bathin Vina sembari menatap lurus ke depan.


Rasa khawatir yang tidak bisa ia bendung, apalagi beberapa hari ini Arkha sudah bersikap lebih baik. Ntah itu karena ada tujuan lain atau benar-benar memang dari ketulusan.


Vina langsung menepis bayang-bayang yang tidak ada kepastiannya itu. Bayangan yang hanya akan membuatnya semakin tidak tenang.


Waktu sudah selesai Maghrib, Arkha sudah bersiap-siap. Koper yang akan ia bawa sudah ada di samping meja. Ia memperhatikan penampilannya di depan cermin. Sementara itu, Vina memperhatikan setiap gerakan Arkha.


"Resiko punya suami cakep, tajir, berpendidikan tinggi, badboy lagi. Hidup jadi nggak tenang gini ya Allah....," bathin Vina.


"Ditambah pula mak bapaknya belum merestui, makin overthinking deh ini hati." sambungnya.


Saking seriusnya, Vina sampai tidak tersadar saat Arkha melambaikan tangannya di depan wajahnya karena melihat sang istri melamun.


"Hey, malah ngelamun." tegur Arkha yang akhirnya mengusap wajah Vina.

__ADS_1


"Eh, astaghfirullah!" seru Vina kaget.


"Maaf." sambungnya.


Arkha tersenyum tipis sembari duduk saling berhadapan dengan Vina.


"Saya berangkat sekarang, hati-hati ya. Nomor kamu sudah saya isi paket internet, jadi tidak ada alasan lagi untuk nomor tidak aktif." ujar Arkha.


Vina mengangguk.


Arkha langsung menurunkan pandangan matanya, ia akan melakukan sesuatu yang ia jadikan bekal sebelum bepergian.


Apa yang sedang mereka lakukan pun terkesan terburu-buru. Vina terkesan manja kali ini, ia memiliki ide supaya mertuanya nanti saat melihat putranya datang langsung terpikirkan bahwa keduanya benar-benar menikmati pernikahan ini.


"Kamu liar sekali?" goda Arkha saat Vina baru saja membuat tato dilehernya sebelah kiri.


"Ya ya ya, saya belajar dari anda, suamiku. Emmm, dan yang satu lagi, supaya anda selalu teringat dengan pasangan halal. Jadi tidak memiliki pikiran untuk melipir ke hal-hal yang bikin dosa." balas Vina mengingatkan.

__ADS_1


Arkha pun terkekeh mendengar jawaban Vina.


"Saya berangkat sekarang, tunggu saya pulang dan melanjutkan proses pembesaran ini supaya makin mantap." tunjuk Arkha pada salah satu bukit kembar milih Vina.


Spontan Vina mundur sembari menyilangkan kedua tangannya dengan matanya yang melotot tajam.


"Jangan macam-macam!" ancam Vina.


"Saya sudah melihat dan merasakan semuanya, so ... percuma kamu tutupi." bisik Arkha lalu beranjak dari sofa dan menuju ke depan cermin.


Arkha menolehkan kepalanya, lalu mendongak. Ia memperhatikan hasil tato yang dibuat oleh Vina. Kemudian ia terkekeh karena bentuknya tidak terbentuk, beda dengan dirinya karena sudah mahir.


Saat dengan bercermin, ponsel Arkha berdering. Sebuah panggilan dari pak Yanto yang sudah menunggu di bawah. Karena Arkha sudah berpesan untuk menghubunginya ketika sudah sampai di bawah.


"Pak Yanto sudah nunggu." ujar Arkha.


"Ya sudah anda turun saja sekarang." balas Vina.

__ADS_1


Keduanya keluar dari kamar, saat hendak membuka pintu depan, Arkha menghentikan langkahnya. Arkha kembali memeluk Vina dengan erat, mungkin benih-benih kenyamanan itu sudah mulai tumbuh, meskipun masih sulit untuk ia akui.


Tidak mengapa, meskipun Vina belum menerima kata cinta dari suaminya. Setidaknya menerima sikap manis Arkha pun sudah membuatnya benar-benar tidak akan menyesali pernikahan ini.


__ADS_2