Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 53 : Semakin Imut


__ADS_3

Arkha yang sebenarnya langsung kesal begitu melihat siapa yang datang, tapi, ia berusaha untuk menutupinya demi mengikuti permainan ini.


"Lama sekali tidak jumpa, Om?" sapa Arkha basa basi. Ia juga menjabat tangan perempuan disebelahnya sembari menyapa akrab karena mereka sudah berteman sejak lama. Perempuan itu adalah Rachel, sementara orangtua mereka adalah rekan bisnis.


"Baik sekali, Arkha." jawab pria yang bernama Rusdy itu.


"Om kira kamu sudah lupa sama Rachel." sambung Rusdy.


Arkha tersenyum tipis.


"Tidak mungkin saya lupa, Om." balas Arkha.


"Dia kira aku ini pikun kali!" bathin Arkha kesal dengan basa basi orangtua itu.


Dua puluh menit mereka mengobrol, yang tentunya didominasi oleh Rusdy dan Leon.


"Sepertinya kita tidak bisa lama-lama disini, Le." ujar Rusdy pada Leon setelah menjawab panggilan telepon.


"Ada apa, Rus?" tanya Leon.


"Besok, Bryan akan kembali ke Amerika, dan dia minta kita untuk makan malam di restoran X. Kebetulan tidak jauh dari sini." ujar Rusdy.


Leon dan Rusdy langsung kompak menatap Arkha dan Rachel.


"Di mulai nih." bathin Arkha.


"Silahkan kalau Om sama Papa mau menemui teman kalian itu." ujar Arkha.


"Kami sangat merasa bersalah." balas Rusdy dengan wajah penyesalan.


"No problem." jawab Arkha santai.


"Begini, Papa akan pergi bersama Rusdy, jadi kalau nanti kalian sudah selesai ngobrolnya. Bawa santai aja, jalan-jalan dulu kemanapun kalian mau. Yaaa, kalian 'kan teman lama, pasti banyak hal yang ingin diobrolkan." ujar Leon.


"Oh ya, sekalian nanti antarkan Rachel pulang, ya." sambungnya.


"Tapi, Om, saya tidak mau merepotkan Arkha." tolak Rachel berbicara dengan santun.


Arkha langsung memalingkan wajahnya saat wanita yang berpenampilan ketat dan hanya ditutup dengan blazer itu berbicara.

__ADS_1


"Tidak merepotkan kok, iya 'kan, Ar?" balas Leon sembari meminta persetujuan dari putranya.


Arkha mengangguk.


Bapak-bapak itu langsung meninggalkan Arkha dan Rachel.


"Kamu sudah lama di sini, Ar?" tanya Rachel.


"Sudah." jawab Arkha singkat.


Jawaban Arkha bersamaan dengan pelayan yang membawakan minuman ke meja mereka.


"Thank you." ucap Rachel pada pelayan tersebut.


Rachel mendominasi obrolan ini. Sedangkan Arkha hanya merespon seperlunya saja sekedar menghargai. Ia juga dengan percaya diri membuka blazernya sehingga menampakkan dadanya yang mulus itu dengan alasan gerah.


"Kenapa kamu tidak minum, Ar?" tanya Rachel setelah menyadari Arkha tidak menyentuh minuman beralkohol itu.


"Aku sudah nggak bisa." jawab Arkha.


Rachel langsung mengernyitkan keningnya karena heran. Menurutnya, hal itu sangat sulit untuk dipercaya dari seorang Arkha yang sudah sangat akrab dengan dunia malam.


"Kenapa? nggak percaya?" balas Arkha.


Seketika Rachel langsung merubah raut wajahnya untuk tersenyum.


"Iya, aku percaya kok sama kamu, Ar." jawab Rachel seraya tersenyum.


Tiga puluh menit tanpa obrolan yang seimbang, Arkha pun sudah sangat bosan dan ingin segera meninggalkan tempat ini. Sementara Rachel masih terus berupaya melanjutkan obrolannya dengan membahas masa dimana mereka masih menempuh pendidikan.


"Sepertinya ini sudah sangat malam untuk perempuan, aku antar kamu pulang sekarang." ujar Arkha.


Lagi-lagi Rachel dibuat heran. Kehidupan yang sudah berbeda dengan tanah air dan sosok Arkha yang ia kenal akrab dengan dunia malam membuat pernyataan seperti itu.


"Apa aku nggak salah dengar?" tanya Rachel.


"Nggak." jawab Arkha singkat.


"Apa yang terjadi sama kamu selama kita nggak ketemu, Ar?" tanya Rachel heran dan penasaran.

__ADS_1


"Oh, tentu saja aku menjalani hidup yang sehat dan bahagia." jawab Arkha.


"Kamu punya pacar?" tebak Rachel.


"Istri." jawab Arkha.


Rachel terdiam, tetapi ia tidak percaya. Ia hanya menyimpulkan Arkha sedang menolak kebersamaan mereka dan ia harus bersabar.


"Satu jam lagi ya, Ar, aku masih ingin di sini." pinta Rachel.


Di saat melihat wanita itu tengah meneguk kembali minuman beralkohol itu lagi, Arkha semakin terbayang-bayang wajah Vina. Di saat ia sedang memikirkan sang istri, ponselnya bergetar dan ia langsung membukanya. Ternyata Vina yang mengirimkan sebuah fotonya sedang selfie di meja makan.



Pesan itu tertuliskan ia yang belum bisa tidur sehingga membuatnya kelaparan. Senyum itu langsung terbentuk disudut bibir Arkha.


"Kenapa dia semakin imut begini." bathin Arkha.


"Aku ke toilet dulu." ujar Arkha pada Rachel.


Rachel hanya mengangguk.


Setelah tiba di depan wastafel, Arkha langsung melakukan video call.


"Jangan begadang, kalau abis makan sudah ngantuk, jangan ditahan-tahan." ujar Arkha.


Di sana Vina tampak mengangguk.


"Tuan kayak lagi di toilet?" tanya Vina.


"Iya, sebentar lagi mau pulang." jawab Arkha.


Arkha kembali menemui Rachel setelah menyudahi video call dengan Vina. Tak lupa ia balik mengirimkan pesan yang berisikan fotonya.



"Sudah, ayo pulang. Aku nggak suka lihat perempuan mabok." ujar Arkha saat baru kembali.


Rachel meneguk sekali lagi, lalu mengusap bibirnya dengan tisu.

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih untuk pertemuan ini, Ar." ucap Rachel sembari menggenggam blazernya. Ia membiarkan tubuhnya yang seksi itu hanya terbungkus inner span selutut dengan belahan disamping sehingga memperlihatkan separuh pahanya.


__ADS_2