Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 30 : Masih Terlalu Kecil


__ADS_3

Arkha pun ikut menoleh ke belakang.


"Aku benar-benar mengambilnya." bathin Arkha.


Arkha kembali menatap Vina sekilas, ia mengusap wajahnya. Saat ini ia tersadar bahwa yang sudah ia lakukan ini sudah terlalu jauh dari pantangannya sendiri.


Vina menyembunyikan tangisannya. Meskipun tidak bersuara keras, isak tangis Vina terlihat sangat sakit.


"Bagaimana kalau aku hamil?" bathin Vina.


"Bo*doh kamu, Ar! bagaimana kalau dia langsung hamil?! bo*doh kamu! sangat-sangat bo*doh!" rutuk Arkha dalam hati.


Arkha menjadi heran dengan dirinya sendiri. Rasa bencinya terhadap Vina menjadi berkurang dengan sendirinya tanpa ia sadari.


"Tidak usah khawatir dengan apapun kemungkinan yang akan terjadi setelah ini. Saya tidak akan pernah lari asalkan seratus persen dari perbuatan saya." ujar Arkha.


Vina menatap Arkha sembari menggeleng pelan.


"Saya belum shalat dzuhur, permisi." ucap Vina sembari menyeka air matanya.


Vina langsung berdiri, namun, baru satu langkah ia langsung berhenti dan berpegangan pada meja nakas. Seluruh tubuhnya terasa sangat sakit. Ia langsung menunduk dan meringis menahan semua rasa itu.


"Saya bantu ke kamar mandi."


Vina menolaknya.


"Tidak usah, terima kasih, saya bisa sendiri." tolak Vina.


Vina melanjutkan langkahnya dengan langkah yang tidak nyaman. Arkha mengikutinya dari belakang meskipun sudah ditolak oleh Vina.


Vina berjalan sangat pelan dengan meraba ke dinding.


"Turunkan saya, saya bisa sendiri!'' seru Vina saat Arkha tiba-tiba menggendongnya karena kasian.


"Kalau nolak, akan saya bikin kamu tidak sempat pakai baju lagi!'' ancam Arkha.


Vina langsung terdiam dan terbelalak.


"Apalagi yang bisa saya bantu?''


"Melepaskan pakaianmu?'' tanya Arkha menawarkan diri.


Vina melotot lagi.


"TIDAK! nanti anda khilaf. Terima kasih dan anda bisa keluar dari sini, lalu anda mandi juga. Jangan lupa shalat."


"Tadi saya yang melepaskan dan memakaikan baju kamu, seharusnya saya yang melepaskan lagi." balas Arkha memancing.


"TIDAK! TIDAAAK!!'' tolak Vina.


Arkha tersenyum menaikkan sudut bibirnya.


"Saya tunggu untuk makan siang, sudah saya belikan." ujar Arkha yang tidak mau semakin mengulur waktu.


Vina tidak menjawab, ia memberanikan diri untuk menunjukkan wajah marahnya supaya suaminya itu segera keluar dari kamar mandi.


Arkha langsung meninggalkan kamar mandi Vina, ia kembali ke kamarnya untuk membersihkan badannya setelah permainan yang tiba-tiba ini. Ia berdiri di bawah guyuran shower sembari memejamkan matanya.


"Gil4 enak banget kalau masih original." bathin Arkha justru terbayangkan permainan itu.

__ADS_1


"Maaf Ma, aku juga heran dengan diriku sendiri." gumam Arkha yang langsung teringat Lidya.


Di bawah guyuran shower, Arkha senyum-senyum sendiri membayangkan.


...


Dua puluh menit kemudian.


Vina yang sudah merasakan sangat lapar pun langsung keluar dari kamar. Badannya sudah lebih enak, tidak senyeri tadi.


Saat yang bersamaan, Arkha juga keluar dari kamar.


"Apa anda tidak bekerja?" tanya Vina.


"Nanti setelah makan. Kamu duduk dulu, biar saya siapkan." ujar Arkha.


Vina mengangguk. Ia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang istri yang dimanjakan oleh suaminya.


Beberapa menit kemudian, menu makan siang sudah tersaji di meja makan. Arkha juga mengambilkan air mineral dua gelas. Tak lupa juga ia memotong buah-buahan untuk cuci mulut.


"Terima kasih." ucap Vina.


Arkha mengangguk.


Tak seperti yang pernah terjadi sebelumnya, saat itu Arkha langsung menganggap perbuatannya sebuah angin lalu dan meminta Vina menganggap tidak pernah terjadi. Lain halnya dengan saat ini, ia terus terngiang-ngiang, mungkin karena saat ini sudah jauh dan perbuatan dalam keadaan sadar.


"Dia pakai foundation lagi?" bathin Arkha bertanya-tanya saat melihat leher Vina tidak terlihat hasil kreasinya.


Setelah beberapa menit, keduanya sama-sama selesai makan siang. Arkha langsung bergegas membereskan alat makan mereka. Setelah selesai, ia langsung kembali duduk karena penasaran. Ia duduk di kursi yang berada di sebelah Vina sehingga membuat perempuan itu reflek bergeser.


"Kenapa?" tanya Vina.


"Apanya?" tanya Vina belum nyambung.


Arkha langsung menatap pada leher Vina sehingga membuat Vina langsung mengerti.


"Terserah saya dong." jawab Vina membela diri.


"Jangan ditutupi kalau tidak sedang keluar atau tidak ada orang lain." balas Arkha.


"Kenapa harus begitu?" balas Vina.


"Karena kamu tidak menghargai saya. Dan, bisa jadi kamu memancing saya untuk melakukan yang lebih lagi." jawab Arkha lalu membisikkan diujung kalimat dengan suara yang menggoda.


Vina langsung melotot.


Arkha memundurkan kepalanya sehingga ia dan Vina saling menatap sangat dekat.


"Kalau kamu tidak ingin saya jajan lagi, kamu harus siap untuk melayani saya setiap waktu yang saya minta. Kapanpun dan dimanapun kemauan saya datang."


"Kok anda jadi ngancam saya?" balas Vina.


"Seharusnya anda bisa sadar diri bahwa menjadi contoh yang baik itu dimulai dari diri sendiri tanpa menipu. Apa anda tidak khawatir akan ketahuan? karena bagaimanapun, bangkai itu bakal tercium juga." sambung Vina.


Kalimat itu membuat Arkha tersentil. Tujuannya tentu saja mengarah pada Mikha.


"Pokoknya, selalu persiapkan diri dan jangan pernah ditutupi lagi selagi tidak kemana-mana." ujar Arkha sembari beranjak.


Bukan hanya Arkha yang terus terbayang-bayang, Vina pun juga merasakan hal yang sama.

__ADS_1


"Jadi begitu ya rasanya." gumam Vina yang masih belum pindah tempat.


Arkha yang sebelumnya berencana untuk tidak kembali lagi ke kantor, merubah rencananya itu karena tidak ingin terus kepikiran dan memaksakan keinginannya itu.


"Mau ngapain?" tanya Arkha saat keluar dari kamar melihat Vina hendak keluar.


"Mau lihat jemuran." jawab Vina.


"Sudah mau berangkat?" tanya Vina.


Arkha mengangguk. Sejujurnya dihati Vina pun lebih bahagia karena melihat Arkha tak sedingin sebelumnya.


Vina mendekat dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


Arkha menatap tangan istrinya itu. Ia menerimanya dan langsung menarik Vina ke dalam pelukannya.


"Eh, eh, Tuan!" pekik Vina terkejut.


"Sekali lagi terima kasih sudah memberikan mahkotamu untuk saya. Jagalah mahkotamu untuk saya dan buatlah saya untuk tidak mencari ditempat lain." ucap Arkha.


Vina langsung mendongak menatap suaminya.


"Maaf, seharusnya anda yang perlu dirubah pola pikirnya. Bukan hanya saya yang harus menjaga karena itu tidak perlu diminta. Tapi, anda lah yang harus menjauh dari lingkungan yang tidak baik." balas Vina.


"Satu lagi, ketika anda sudah berkomitmen, bersyukurlah dan jaga apa yang sudah menjadi milik anda." sambung Vina.


Arkha sedikit mengangguk ragu. Ia belum begitu yakin dengan dirinya sendiri mengenai hal itu.


"Nanti saya pikir lagi kalau sempat." jawab Arkha dengan santai sehingga membuat Vina geregetan sendiri.


"Sudah sana, buruan berangkat." usir Vina.


"Emmmmm, kasih saya minum dulu." pinta Arkha.


Vina langsung mengernyitkan keningnya.


"Kalau haus ya tinggal ambil minum. Kalau tidak mau, bisa saya ambilkan. Tapi, tolong ini lepaskan dulu." balas Vina.


Arkha menggeleng.


"Tidak perlu, karena minumnya sudah kamu bawa." jawab Arkha yang kemudian tatapannya ke bawah.


Vina pun mengikuti arah pandang Arkha yang kemudian membuatnya melotot lagi.


Namun, mengingat komitmennya tentang pernikahan ini, Vina langsung menurutinya. Arkha langsung menaikkan kaos yang Vina kenakan.


"Di sofa saja."


Vina mengangguk.


Arkha meletakkan jasnya di sandaran sofa, lalu ia langsung mewujudkan keinginannya itu.


"Punyamu masih terlalu kecil, jadi harus dibesarkan." ujar Arkha setelah selesai.


Vina tidak menjawab, ia hanya mendesis kecil.


Setelah merapikan pakaiannya, Arkha berpamitan untuk kembali ke kantor.


Huufffttt

__ADS_1


Vina langsung menarik napas panjang dan kembali menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia terdiam dengan tatapannya lurus ke langit-langit.


__ADS_2