
Tanpa meninggalkan kata-kata, Arkha beranjak dari sofa.
Vina yang ingin mengucapkan terima kasih pun langsung bergegas berdiri dan memeluk Arkha dari belakang. Ia menenggelamkan pipinya di punggung Arkha yang nyaman itu. Wanita mana yang tidak akan bahagia jika mendapatkan kejutan seperti ini. Apalagi Vina dan Arkha memiliki hubungan yang aneh.
"Ya Allah, semoga nggak dibanting yaa." bathin Vina.
"Terima kasih untuk hadiah ini, Tuan. Saya pikir anda pesan untuk pacar anda yang saya tidak tau dia siapa. Saya pikir, dialah wanita beruntung itu karena sudah berhasil membuat anda bersikap romantis seperti itu. Ternyata, sayalah yang sudah salah menebak dan buru-buru mengambil kesimpulan, maaf." ucap Vina.
"Kali ini, saya merasa menjadi wanita yang beruntung itu." imbuhnya.
Arkha belum bergerak, ia menatap tangan Vina yang melingkar di perutnya. Tak sadar, ia tersenyum dan nyaman. Perlahan, ia menumpukkan tangan kanannya di atas tangan Vina, lalu balik badan.
"Apa kamu benar-benar terkejut dan suka?" tanya Arkha.
Vina langsung mengangguk cepat.
"Sangat suka, terima kasih." jawab Vina.
Arkha tersenyum, begitu juga dengan Vina. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Kalau kamu penasaran atas tujuan apa saya memberikan itu, jawabannya adalah karena itu sebagai ucapan terima kasih, kamu sudah berani dan menolong saya sampai nekat keluar tengah malam." jelas Arkha.
Kalau saja Vina sedang sendiri, sudah pasti ia akan jingkrak-jingkrak karena sangat senang.
__ADS_1
"Ehm, sudah Maghrib, anda harus shalat dulu." suruh Vina kembali bersikap kalem.
"Shalat bareng yuk." ajak Arkha.
"Hah?" balas Vina kaget. Dihatinya sangat merasakan bahagia. Namun, kali ini dengan terpaksa ia harus menolaknya.
"Emm, ini, saya lagi datang bulan." jawab Vina
Sebenarnya Arkha sangat senang saat melihat ekspresi wajah Vina yang terlihat gugup, menurutnya tampak menggemaskan. Tapi, rasa gengsi itu masih sering tinggi, sehingga ia sering mengalihkan pembicaraan ataupun pandangan.
"Ya sudah kalau gitu." ujar Arkha.
Vina mengangguk. Sedangkan Arkha langsung kembali ke kamarnya.
Namun, Vina tetap nekat untuk mandi karena tidak nyaman meskipun sudah berganti pakaian bersih.
Sepuluh menit kemudian, Vina berdiri di depan ranjang sembari menatap dua buket yang belum ia pindahkan ke tempat lain. Ia menatapnya dengan senyuman yang lebar.
Muaah muaahh muaahh muaahh
Vina menciumi dua buket itu sembari memeluk keduanya. Ia menatapnya secara bergantian.
"Aku super happy banget.'' gumamnya.
__ADS_1
Sudah beberapa foto ia ambil secara selfie. Setidaknya ia memiliki kenangan di galeri ponselnya.
Ekspresi Vina yang merasa sendirian di kamar itu semakin tidak terkontrol lagi. Jingkrak-jingkrak yang sudah ia tahan sejak tadi pun akhirnya ia lakukan, lalu menciumi dua buket itu lagi.
"Terima kaciiiih suamiku ... kalau kayak gini terus manisnya, aku bisa beneran jatuh cinta deh sama kamu."
"Jangan kumat lagi dong anehnya!"
Vina tidak menyadari ada yang sudah beberapa menit memperhatikannya.
Vina yang sudah merasa pegal karena posisi jongkok, ia hendak berdiri dan akan ke dapur untuk menyiapkan makan malamnya.
"AAAAAA!!! AA!!"
"Astaghfirullah..... kenapa sih anda hobi sekali bikin jantung orang nggak tenang?" protes Vina.
"Oh ya?" balas Arkha santai.
"Termasuk membuatmu jatuh cinta?" imbuhnya.
"Eeeeeee, i-itu, anu, saya mau makan, lapar." jawab Vina yang bingung harus melakukan apa.
Menoleh ke kanan dan ke kiri dengan bingung. Akhirnya Vina menemukan tujuan utamanya yaitu keluar dari kamarnya dan bergegas ke dapur.
__ADS_1
"Hufttt, kenapa dia jadi terlihat menggemaskan sekali." gumam Arkha lalu menyusul Vina ke dapur.