Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 54 : Mimpi Buruk


__ADS_3

Sementara di tanah air, Vina sedang menenangkan pikirannya sendiri untuk tidak berpikir yang macam-macam. Sedari tadi ia belum menghabiskan makanannya yang masih setengah.


"Ayolah Vin, tidur, jangan begadang! jangan mikir yang macam-macam! jangan bikin penyakit hati!"


Vina kembali menyuap makanan itu, pelan-pelan akhirnya habis. Ia hampir memutuskan untuk tidak menghabiskan makanannya, tetapi ia kembali diingatkan bahwa diluar sana banyak orang yang kelaparan.


...


Kini, Arkha dan Rachel sudah menuju lantai dimana mobil Leon diparkirkan. Rachel masih terus berusaha untuk membuka obrolan, sedangkan Arkha hanya menjawab sekedarnya saja.


Arkha mengakui keindahan yang tampak ditubuh perempuan itu. Teman-temannya pun sudah banyak yang berhasil mendekati Rachel. Tapi, ia tidak tertarik sama sekali untuk mendekatinya. Arkha lebih memilih untuk mendekati wanita yang tidak ia kenali dari keluarganya.


"Aura kamu sekarang terlihat jauh lebih berwibawa, dan pastinya kamu semakin tampan, Ar." puji Rachel ketika mereka berada di lift.


"Thank you." jawab Arkha tanpa menatap wanita itu.


Rachel menceritakan teman kuliah mereka yang sudah menikah. Perempuan itu menceritakan betapa serunya melihat pernikahan dari teman-temannya itu.


"Waktu tau mereka kencan pertama kali, asli aku nggak nyangka banget. Finally, mereka berjodoh juga. Kamu masih ingat 'kan sama mereka?" seru Rachel.


"Oh, syukurlah. Aku belum pikun, Chel." balas Arkha.


Rachel terlihat nyengir tipis, lalu masuk ke dalam mobil.


Sebelum masuk ke dalam mobil, Arkha membuang napas kasar ke udara.


Ketika Arkha masuk ke dalam mobil, Rachel yang sudah masuk lebih dulu menatap pria itu dengan senyuman. Sebagai pria yang normal, Arkha pun langsung tertuju pada bukit kembar yang Arkha yakini sudah tidak original itu.


"Kamu nggak kangen sama tempat-tempat yang dulu suka kamu kunjungi, Ar?" tanya Rachel yang masih ingin menikmati waktu bersama Arkha.


"Sama sekali nggak." jawab Arkha sembari menghidupkan mesin mobil.


"Kamu pakai itu blazer, AC sudah on." suruh Arkha.


Mendengar itu, Rachel justru tersenyum senang karena artinya Arkha memperhatikan tubuhnya. Bukannya dipakai, justru ia menyerongkan duduknya menghadap Arkha.

__ADS_1


"Aku salah satu manusia yang sangat mudah gerah, Ar. AC ini belum bikin aku kedinginan." balas Rachel.


Arkha mulai melajukan mobil tanpa menatap wanita disebelahnya itu.


Sudah lima belas menit perjalanan, Arkha lupa belum menanyakan alamat kediaman keluarga Rachel. Selama ini ia tidak pernah berkunjung, sekalipun bersama keluarganya, karena keluarganya berteman baik hanya untuk sekedar bisnis. Menyadari belum memiliki alamat kediaman Rachel, Arkha pun langsung menepikan mobilnya.


"Tunjukkan alamat rumah kamu." suruh Arkha.


"Ini, aku mau menginap di apartemen saja." balas Rachel sembari menunjukkan layar ponselnya.


Arkha pun langsung mengikuti penunjuk arah itu tanpa menjawab apapun.


Cukup memakan waktu ketika harus putar balik. Rachel menikmati perjalanan dengan Arkha, sementara Arkha tidak merasakan hal yang sama.


"Jangan tanya kenapa kalau aku semakin jarang bertemu dengan kalian. Kalian sudah membuatku kesal!" bathin Arkha sembari membayangkan kedua orangtuanya.


Setelah melewati jalanan, akhirnya Arkha tiba di apartemen yang ditunjukkan oleh Rachel.


"Kita sudah lama nggak ketemu, Ar. Ayolah kita minum dulu di apartemen aku, aku tinggal sendirian kok." ajak Rachel.


"Thanks, sekali lagi aku tegaskan, aku sudah nggak minum." jawab Arkha.


"Kalau gitu, kamu nginap saja di sini. Sebelum kamu pulang ke Indonesia." bujuk Rachel masih belum menyerah.


"Nggak Chel, anakku akan nyari." tolak Arkha.


Rachel langsung mengernyitkan keningnya.


"Anak?" balasnya.


Arkha hanya mengangguk.


Rachel tertawa kecil dan menganggap perkataan Arkha hanyalah lelucon. Ia tau soal mendiang kakak Arkha yang memiliki seorang anak.


"Ya sudah, nunggu apa lagi, Chel?" tanya Arkha sudah tidak sabar untuk segera pergi.

__ADS_1


Rachel langsung melepaskan safety belt, tapi, bukannya langsung keluar dari mobil, ia justru naik ke atas pangkuan Arkha dengan cepat sehingga membuat pria itu sangat terkejut. Bahkan Rachel dengan cepat menekan tombol untuk merubah tempat duduk Arkha agar tidak tegak lagi.


"APA YANG KAMU LAKUKAN, RACHEL! TURUN!" seru Arkha.


Rachel tersenyum nakal sembari membelai wajah Arkha.


"Apa kamu nggak tertarik sama aku, Ar?"


"Kamu boleh menikmatiku, begitupun sebaliknya. Ayo kita buat kesan yang indah malam ini." goda Rachel mulai meraba bagian dada Arkha.


"RACHEL! KELUAR KAMU!"


"GUE NGGAK TERTARIK!" seru Arkha yang hanya mendapatkan balasan tawa kecil dari Rachel.


Arkha berusaha mengusir Rachel yang menindihnya, tetapi Rachel juga berusaha untuk menahan diri dengan kuat agar tidak lepas. Dengan sengaja Rachel pun menempelkan bukit kembarnya di dada Arkha.


"Arkha sayang, mari kita lihat seberapa besar pertahanan kamu, haha." bisik Rachel.


"Tidak ada yang bisa menolak seorang Rachel, termasuk kamu, sayang." sambungnya sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Arkha yang berpaling.


Rachel langsung meraih bibir Arkha lalu mengunci bibir tebal itu dengan rakus dan tangannya mencari posisi senjata Arkha. Arkha yang sudah berusaha keras untuk menolak pun akhirnya kalah dengan keagresifan Rachel. Wanita itu tersenyum puas melihat kekalahan Arkha.


"TUAN ARKHA!!" seru Vina yang langsung terduduk dengan napas tersengal-sengal.


Vina menoleh ke sekelilingnya, tidak ada siapapun. Tidak ada orang lain yang ia lihat.


"Astaghfirullahal'adziim, aku mimpi buruk, ya Allah." gumam Vina sembari mengusap wajahnya.


AC dikamar itu sudah hidup, tetapi ia berkeringat. Vina menerima mimpi yang buruk mengenai suaminya.


"Ya Allah, ada apa ini? kenapa harus mimpi suamiku sama wanita lain berbuat itu?"


Vina menarik napas panjang sembari mengucapkan istighfar berkali-kali.


"Ini pasti karena aku terus memikirkan tuan Arkha dan takut yang berlebihan, jadinya mimpi kayak gitu."

__ADS_1


Vina terus menenangkan pikirannya dan menyimpulkan bahwa mimpi itu hanyalah bunga tidur.


Vina yang belum lama berhasil tidur pun akhirnya memutuskan untuk beranjak dari ranjang karena ia sudah kehilangan rasa kantuknya.


__ADS_2