
Vina meletakkan perlengkapan shalatnya itu ke tempat semula agar kamarnya tetap rapi.
''Apaan tuh?'' gumam Vina melihat ke arah meja.
Vina mendekati objek yang ia lihat.
''Wow! serius nih hp baru?'' gumam Vina memutar-mutar kotak tersebut sembari melihat ke arah pintu, siapa tau Arkha tengah mengintipnya disana.
Vina manggut-manggut melihat apa yang diberikan oleh Arkha.
''Cukup bertanggungjawab juga atas kesalahannya, kirain mau membiarkan aku mati kelaparan!'' gumam Vina kembali teringat cekcok tadi sore.
''Nanti dulu ah nih hp, perutku sangat lapar.''
Vina langsung membuka makanan tersebut dan langsung menyantapnya. Ia tidak mau gengsi. Lagipula ia yakin, Arkha tidak mungkin peduli lagi setelah ini.
''Alhamdulillah kenyang.'' gumam Vina setelah sepuluh menit kemudian.
Masih enggan untuk keluar dari kamar, Vina membuang sampah itu ke kotak sampah yang ada di sudut kamarnya.
''Kalau nggak salah hp ini harganya lebih dari 15 juta 'kan?'' gumam Vina.
''Atau malah hampir 20 jutaan?''
Vina menghidupkan ponsel tersebut dengan hati-hati karena ia tau harganya yang sangat mahal baginya.
''Eh, ini gimana masang sim card-nya?'' gumam Vina yang selalu mengalami kesulitan ketika harus membuka casing hp.
__ADS_1
''Lho, eh! ada pesan masuk?'' gumamnya lagi lalu membalikkan posisi ke layar karena sebelumnya masih melihat posisi belakang.
Vina mengernyitkan keningnya saat ada pesan yang masuk.
...''Mulai detik ini, kamu pakai hp dan nomor ini!''...
..."Ada hukuman kalau sampai melanggar!''...
Dua buah pesan masuk yang Vina yakini dari Arkha, karena tidak mungkin orang lama akan mengetahui nomor baru itu.
''Yaa, siapa lagi kalau bukan dia?'' gumam Vina.
Nomor tersebut masih belum tersimpan, Vina pun sangat malas menyimpannya. Ia sedih karena kehilangan banyak nomor-nomor dan juga harus ketinggalan informasi tentang grup-grup sekolahannya dulu.
''Dasar egois!'' gerutu Vina.
Setelah berhasil terlelap kurang lebih dua jam, Vina terbangun dan sulit untuk memejamkan matanya lagi.
"Astaghfirullah, mataku ngantuk, tapi, kenapa susah tidur." gumam Vina melihat jam sudah menunjukkan pukul 00.50 WIB.
Vina turun dari ranjang karena hendak ke kamar mandi untuk mencuci wajahnya.
Meskipun sudah terkena air, rasa kantuk itu masih ada. Vina mencobanya lagi untuk melanjutkan tidur, tapi, ternyata masih sulit. Ia hanya berguling-guling dan matanya tetap terbuka.
"Arrghh, mana perutku lapar lagi!" gerutu Vina yang akhirnya kembali duduk.
Setelah mempertimbangkan, melihat jam pun masih pukul 01.15 WIB. Akhirnya Vina ke dapur untuk memasak mie instan dan air putih hangat.
__ADS_1
Tanpa menoleh-noleh, Vina langsung mengambil panci untuk merebus air.
Hoaamm
Beberapa kali Vina menguap, bahkan keduanya matanya sesekali ia pejamkan sembari memegangi gagang panci. Di sebelahnya sudah ada satu bungkus mie instan rebus yang hendak ia masak.
Mie instan pun sudah selesai dimasak dan sudah ia pindahkan ke dalam mangkuk. Vina duduk di kursi meja makan dan menikmati semangkuk mie instan kuah rasa soto, semakin cocok dengan cuaca malam hari yang terasa dingin.
''Palingan manusia satu itu juga lagi ngeluyur! enak-enak minum sama perempuan seksi!'' bathin Vina tidak peduli apa yang akan dilakukan oleh Arkha.
Karena mie tersebut masih sangat panas, Vina memakannya pun dengan pelan-pelan. Hingga tak terasa sudah sampai habis.
''Alhamdulillah perut kenyang, hatipun ikut senang.'' gumam Vina.
Setelah menghabiskan mie-nya, Vina melanjutkan untuk merebus air sedikit dengan teko, karena ia lebih suka dengan air panas yang dimasak, bukan dari dispenser. Air tersebut akan ia bawa ke kamar, sehingga baru ia masak setelah selesai makan mie.
Sembari menunggu airnya mendidih, Vina mencuci panci dan juga mangkuk yang baru ia gunakan. Supaya pagi hari tidak ada benda-benda kotor yang menumpuk.
''Sudah mendidih nih.'' gumamnya lalu mengeringkan tangannya di kain yang menggantung diatas wastafel.
Vina mengambil gelas panjang dan meletakkan di sebelah kompor, karena akan ia isikan air panas.
''AAAA!''
PYAAR
"PANAS PANAS PANAS! HUH HUH HUH''
__ADS_1
''KENAPA? KENAPA? ADA APA?'' tanya Arkha yang langsung berlari ke dapur setelah mendengar suara teriakan Vina dan pecahan, karena ia tengah berbaring disofa ruang tamu sehingga Vina tidak menyadarinya. Apalagi lampu tetap ia padamkan.