Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 25 : Anda Cemburu Ya?


__ADS_3

Vina pun langsung mengernyitkan keningnya. Ia masih belum memahami sebenarnya apa yang menjadi alasan Arkha untuk marah seperti ini. Untuk menebak sebagai sikap cemburu tentu saja hal yang tidak masuk akal. Tapi, ada rasa penasaran yang terbersit di benak Vina.


"Oh, tentu. Kalau Tuan tanya apa saya bahagia bertemu dengan teman lama saya. Saya sangat bahagia sekali dan saya hanya ngobrol biasa sewajarnya teman. Apa itu salah, Tuan? sementara anda bebas bermain-main diluaran sana, bukankah yang terpenting kita tampak baik-baik saja didepan Mikhael?" jawab Vina setelah beberapa detik.


Sorot mata Arkha langsung menajam menerima keberanian Vina.


"Anda cemburu ya?" tanya Vina lirih.


"CEMBURU?!" balas Arkha dengan bibir yang terangkat.


"Untuk apa saya cemburu sama kamu?"


"Nggak usah kepedean jadi orang!"


Arkha langsung mengalihkan pandangannya sembari mengomel tidak jelas. Sedangkan Vina menatap Arkha sembari senyum-senyum sendiri.


"Kalau memang tidak cemburu, daaann, pernikahan kita juga 'kan sebatas pura-pura, boleh dong saya punya teman diluar sana?" tanya Vina yang semakin ingin mengetahui respon dari Arkha.


Arkha langsung kembali menatap Vina dengan tajam.


"Jangan melotot gitu, Tuan. Saya hanya ingin bertanya dan meminta kepastian. Masa iya cuma berteman aja nggak boleh?"


"AWALNYA TEMEN, LAMA-LAMA JADI DEMEN! NANTI KETAGIHAN, LUPA SAMA KODRAT WANITA YANG SUDAH MENJADI ISTRI!"


Vina menempelkan kedua telapak tangannya ke telinga karena Arkha yang ada dihadapannya itu dan bersuara keras tentu saja membuat pendengarnya terasa mau pecah.


"Demi Allah saya tidak budeg, Tuan. Tolong kurangi volume suaranya. Saya bisa dengar suara anda dengan jelas." pinta Vina.


Arkha hanya menarik napas panjang. Keduanya langsung sama-sama diam sembari sesekali mencuri lirikan mata.


"Saya tetap boleh bekerja 'kan, Tuan?" tanya Vina.


Arkha hanya menoleh sekilas tanpa menjawab.


"Kalau gue larang, gue takut nih anak stres, depresi, terus bunuh diri, yang rugi juga gue. Tapi, kalau dikasih izin, nanti dia benar-benar keluar batas." bathin Arkha bingung.


"Suamikuu." panggil Vina dan langsung membuat Arkha tersadar.


"Terserah kamu ajalah!"


"Tapi, INGAT! kalau sampai terulang lagi, awas aja kamu!" ancam Arkha.


Ancaman yang membuat Vina terheran-heran, karena seharusnya yang lebih berhak melontarkan ancaman adalah dirinya.


"Orang kaya memang aneh!" gerutu Arkha dalam hati.


Vina langsung menampilkan senyum terbaiknya.


"Terima kasih, suamiku. Saya akan selalu fokus untuk bekerja demi masa depan kita bersama. Jangan berpikir yang tidak-tidak, karena memang tujuanku hanya satu." ucap Vina dengan tawa yang ia tahan karena merasa geli dengan ucapannya sendiri.


Arkha pun mendesis mendengar ucapan Vina.

__ADS_1


"Masa depan masa depan! meremehkan gue nih anak!" bathin Arkha kesal.


"Maaf Tuan, tolong boleh geser sedikit, saya mau ke toilet dulu." ucap Vina.


Tanpa menjawab, Arkha langsung berdiri. Ia juga sudah siap untuk membantu langkah Vina.


"Sepertinya saya bisa pelan-pelan kok, Tuan. Anda disini saja nungguin kasurnya, takut hilang." ujar Vina.


"Dasar aneh!" protes Arkha.


Vina mulai melangkahkan kakinya pelan-pelan karena jalannya pincang. Meskipun demikian, Vina cekikikan kecil karena geregetan dengan suaminya yang aneh itu. Apalagi saat mengingat kata-katanya sendiri yang menggelikan.


"Suami istri macam apa ini, nggak jelas banget!" gumam Vina lalu menutup pintu kamar mandi.


Mendengar Vina sudah menutup pintu kamar mandi, Arkha segera mendekati pintu. Ia menunggu istrinya itu selesai. Meskipun kesal, ia tetap waspada.


"Ck! kurang ajar! Kenapa gue jadi ketawa sendiri!" gumam Arkha kesal.


Menyadari sudah tertawa sendiri meskipun kecil, Arkha langsung kembali memasang raut wajah cool-nya.


Tidak sampai lima menit, Vina keluar dari kamar mandi. Ia terkejut saat melihat Arkha berdiri tepat disisi pintu.


"Astaghfirullah, anda bikin saya kaget saja." ujar Vina.


"LEBAY!" protes Arkha.


Vina hanya mendengus kesal sembari meninggalkan Arkha.


Melewati malam yang dramatis, Vina bangun lebih awal seperti biasanya. Ia melihat Arkha masih terlelap di sofa bed.


"Jam berapa sih ini?" gumam Vina sembari mengerjabkan matanya.


Pandangannya menatap ke jam yang ada di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 04.55 WIB. Vina bergegas turun dari ranjang, ia menghentikan langkahnya sejenak saat melihat Arkha tidak memakai selimut.


"Full AC, apa dia ini titisan beruang kutub?" bathin Vina.


Seperti hari-hari biasanya, ketika dirumah, Arkha sering mengenakan kaos tanpa lengan atau lengan pendek, dan juga celana kolor pendek.


Vina kembali mendekati kasur, ia mengambil selimut.


"Mana auratnya kelihatan lagi." gumam Vina.


Setelah Vina menutupi sebagian tubuh Arkha dengan selimut, ia langsung keluar. Ras nyeri ditangannya sudah semakin membaik. Ia yakin sudah bisa dipakai untuk beraktivitas.


Hal yang dilakukan Vina langsung menuju ke dapur terlebih dahulu untuk mengambil air minum. Setelah itu ia ke kamarnya untuk shalat subuh.


"Haduh ya Allah, kenapa di kaki masih ada nyeri-nyerinya sih." gumam Vina sembari meringis saat keluar dari kamar mandi.


Waktu terus berjalan, Vina sudah berada di dapur untuk mempersiapkan keperluan memasak pagi ini. Ia juga sudah berganti celana yang panjang.


"Sebentar lagi dokternya datang, kamu nggak usah berangkat kerja dulu." ujar Arkha tiba-tiba.

__ADS_1


Meskipun Vina sangat kaget, tapi, ia hanya terdiam sejenak sembari menarik napas panjang.


"Dokter? Dokter apa?" tanya Vina.


"Dokter buat meriksa kamu lah, biar bisa dipastikan parah atau nggaknya." jawab Arkha.


"Saya merasa tidak kenapa-kenapa kok, Tuan. Yang ditangan juga Alhamdulillah sudah lebih enakan." jelas Vina.


Arkha menoleh dan menatap Vina.


"Emm, iya, baik, saya siap diperiksa." ujar Vina takut dengan tatapan tajam itu.


"Tapi, saya gimana izinnya ke tempat saya bekerja, Tuan? saya merasa tidak enak karena baru masuk."


"Dan, juga, nomornya tersimpan di hp yang anda banting." sambung Vina dengan suara yang semakin pelan.


"Itu urusan saya! kamu cukup nurut." jawab Arkha.


Vina pun mengangguk daripada debat.


Dokter yang ditunggu pun sudah datang. Dokter yang sudah dihubungi oleh Arkha semalam tersebut tidak bisa langsung mendatangi apartemen Arkha karena sedang berada diluar kota. Pagi ini ia datang setelah baru dua jam yang lalu tiba di rumahnya.


Arkha memilih untuk menghubungi temannya saja daripada harus membawa Vina ke rumah sakit secara langsung. Ia tidak ingin terjadi hal-hal yang tidak ia inginkan.


"Dokter banyak, rumah sakit banyak!" omel dokter tersebut pada Arkha.


"Dikasih rezeki kok ngomel!" balas Arkha.


"Dia siapa? ART lu ya?" tanya dokter itu.


"Hm." jawab Arkha singkat.


"Sudah buruan!" suruh Arkha.


Dokter itu langsung meminta Vina untuk duduk di sofa. Ia memeriksa kondisi kaki dan tangan Vina yang terkena air panas tadi malam.


"Nggak perlu tindakan operasi ya, semua aman, karena sudah mendapatkan penanganan pertama dengan cepat." ujar dokter itu yang berhasil membuat Vina melotot karena ada kata operasi.


"Sefrekuensi nih kayaknya mereka berdua." bathin Vina.


Dokter itu sudah menjelaskan lebih detail lagi. Setelah memberikan obat dan Vina pun sudah paham, ia langsung pamit.


"Terima kasih, Dokter." ucap Vina.


"Sama-sama, Mbak. Yang sabar ya punya majikan yang galak macam dia." balas dokter itu sembari melempar lirikan pada Arkha.


Vina hanya nyengir.


"Sudah-sudah, buruan pulang sana!" usir Arkha pada dokter yang juga teman nongkrongnya itu. Hanya saja, profesinya sebagai dokter membuatnya semakin jarang ikut berkumpul akhir-akhir ini karena kegiatan diluar kota.


"Jangan kejam-kejam lu!" ujar dokter itu pada Arkha.

__ADS_1


"BERISIK!" usir Arkha lagi.


__ADS_2