Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 42 : Sebagai Permintaan Maaf


__ADS_3

"Sejak dua tahun sebelum masa penjajahan Belanda." jawab Arkha sembari kembali menatap layar ponselnya yang berdering.


Vina yang hendak menjawab pun menjadi tertahan karena mulutnya yang baru terbuka itu sudah di stop oleh Arkha dengan jari telunjuknya.


"Papaaaaaa!" seru Mikhael dari sambungan video call itu.


Vina langsung gagap dan menoleh ke kanan kiri. Sedetik kemudian ia masuk ke kamar untuk segera mencuci wajahnya yang kusam karena baru sampai. Sebelum ke kamar mandi, Vina mengambil pakaian ganti sehari-hari karena dengan pakaian yang sebelumnya sudah sangat tidak nyaman.


"Duuhh, kenapa kamu nelponnya nggak tepat waktu sih, sayang???" gumam Vina.


"Mama tuh mau nanyain maksud itu." sambungnya yang cepat-cepat mencuci wajahnya dan lanjut menggosok gigi.


Sementara itu, Arkha yang sudah memulai obrolan bersama Mikhael terdengar seru. Arkha masuk ke kamar Vina tanpa izin, karena ia memiliki kuasa sehingga tidak perlu meminta izin.


"Oma dimana? kok kayaknya Mikha sendirian?" tanya Arkha.


"Oma lagi di depan ada temannya, tadi sudah izin kok buat video call Papa." jawab Mikha.


"Oohh, oke." balas Arkha percaya.


"Mama kok lama sih, Pa?" tanya Mikhael.


Spontan Arkha menoleh ke arah pintu kamar mandi, dan bertepatan dengan Vina keluar dari sana.


"Itu baru saja selesai." jawab Arkha kembali menatap layar ponselnya.


Sebelum mendekati Arkha, Vina menghentikan langkahnya sejenak sembari menarik napas dalam-dalam.


"Sayang, sini." panggil Arkha yang spontan membuat Vina geli sendiri dengan mengangkat sudut bibirnya.


Dengan senyum kepalsuannya menurut Vina, Arkha menepuk tempat kosong disampingnya dan meminta sang istri untuk duduk di sana.


"Assalamu'alaikum sayang." ucap Vina setelah layar ponsel Arkha diarahkan padanya.


"Wa'alaikumussalam, Mama." jawab Mikhael.

__ADS_1


Obrolan mereka tidak jauh-jauh dari Mikhael yang menagih janji Arkha untuk mengunjunginya.


"Sabar ya sayang, Papa masih harus menyelesaikan tugas-tugas dari opa." jawab Arkha.


Sedangkan Vina tidak mau ikut menambahi, karena ia hanya mengikuti saja.


"Ya sudah, nanti Mikha mau bilang sama opa buat kasih izin libur ke Papa!" ujar Mikhael.


"Jangan dong, kasihan opa kalau tidak Papa banyak izinnya." jawab Arkha.


"Sudaaah, kalau sudah ada waktu yang bisa ditunda, Papa pasti kesana ya." sambungnya.


"Yang penting sekarang Mikha sekolah yang rajin. Tetap semangat belajar mengajinya di sana."


Tidak lama kemudian, tampak Lidya masuk ke sambungan video call itu. Vina langsung mengucap salam pada mertuanya yang hanya mendapatkan jawaban singkat dengan senyum yang dipaksakan karena ada Mikhael.


"Mikha les dulu ya, sudah datang." ujar Lidya pada cucunya.


Terlihat Mikhael mengangguk.


"Iya sayang, semangat terus ya." balas Arkha


"I love you." ucap Vina sembari melambaikan tangan.


Setelah membalas dengan ucapan yang sama, Mikhael langsung mengakhiri komunikasi itu.


Senyum yang sebelumnya lebar saat bertatapan dengan Mikhael, kini senyum itu mengecil. Vina menoleh ke arah suaminya yang masih mengutak-atik ponselnya seperti sedang membalas pesan.


"Itu dari siapa, Tuan? kok sama dengan??" tanya Vina setelah berkali-kali berhasil mengurangi rasa gugupnya.


"Menurutmu?" balas Arkha sembari meletakkan ponselnya.



__ADS_1


(Ceritanya uang lima puluh ribuan, jadi warna biru 🀭)


Vina menatap buket bunga dan buket uang yang berdampingan di atas ranjang. Yang membuatnya lebih terkejut karena buket itu hasil karyanya bersama ketiga seniornya dan di pesan oleh Arkha.


"Bu-bukankah itu pesanan anda tadi?" tanya Vina gugup lagi.


"Hmm." jawab Arkha.


"Kok ada di sini?" tanya Vina.


"Bu-buat sa-saya?" tanya Vina masih dengan rasa gugupnya saat menunjuk dirinya sendiri.


"Ya kali buat pak RT." jawab Arkha.


Jawaban menyebalkan sekali, tapi, Vina menahannya.


"Emm, serius buat saya?" tanya Vina yang masih belum percaya. Antara senang dan juga bertanya-tanya mengenai sikap Arkha yang aneh ini.


Mendengar Vina yang masih belum yakin, Arkha langsung meletakkan ponselnya.


"Kenapa? nggak percaya?" tanya Arkha.


"Yaaa, ya, jelas iya saya tidak percaya." jawab Vina.


"Atas dasar apa dan dengan tujuan apa? nggak ada angin, nggak ada hujan. Kemarin aneh, sekarang lebih aneh lagi." Vina terus nyerocos karena faktor pms-nya sehingga emosinya sedang naik.


Dikatakan aneh oleh istrinya sendiri, Arkha langsung menarik napas panjang. Ingin marah, tapi, kali ini ia bisa menyadarinya.


"Ya, itu sebagai permintaan maaf dari saya." ucap Arkha.


"Yakin abis ini nggak berubah lagi jadi kulkas seratus pintu?" tanya Vina.


Arkha mengangkat kedua bahunya tanpa tidak bisa berjanji.


"Nggak tau, yang penting hari ini." jawab Arkha dengan santainya.

__ADS_1


Suara adzan Maghrib dari ponsel Vina membuat keduanya langsung menoleh. Hunian mereka kedap suara, sehingga Vina tidak mendengar suara adzan. Ia pun akhirnya memasang aplikasi sebagai pengingat agar tidak ketinggalan, apalagi sampai lupa.


__ADS_2