
Berada di jarak yang tidak jauh, Arkha tersenyum melihat motor yang dikendarai oleh Vina ia pastikan belok ke apartemen. Ia pun langsung menambah kecepatan laju mobilnya supaya sampai bersamaan.
"Lah, beneran 'kan itu mobilnya tuan Arkha." gumam Vina saat melirik pada kaca spionnya.
"Hmmm, dasar!"
Vina sudah lebih dulu memarkirkan motornya, dan tak lama kemudian mobil Arkha juga masuk. Arkha memang meminta tempat khusus untuk kendaraannya supaya tidak harus berebut dengan penghuni lain.
Tin
"Masuk!" seru Arkha sembari membuka setengah kaca mobilnya.
Vina yang tadinya hanya diam mematung sembari menunggu Arkha turun dari mobil pun langsung menghampiri suaminya itu dan masuk ke dalam mobil.
"Ini pesanan anda." ujar Vina sembari menyodorkan paper bag itu.
Arkha hanya melirik sekilas tanpa mengambil.
"Kenapa nomornya nggak aktif? kemana? ngapain aja?!" selidik Arkha.
"Dari dzuhur tadi wiFi di sana lagi gangguan, saya 'kan tidak pernah isi paket data biasa. Sedangkan di apartemen juga pakai wifi." jawab Vina.
"Memangnya Tuan nelpon saya? atau kirim pesan?" sambungnya dengan pertanyaan.
"Nih! bisa-bisanya cuma centang 1!" protes Arkha.
Vina menarik napas dalam-dalam sembari berkata sabar dihatinya.
"Kita kenapa di sini, Tuan?" tanya Vina mengalihkan pembahasan.
Arkha langsung menatap sekitarnya, ia juga heran kenapa masih di dalam mobil, bukannya langsung naik ke atas.
__ADS_1
"Ayo keluar!"
Arkha keluar dari mobil lebih dulu, sementara Vina langsung mengikuti dengan buru-buru sembari membawa paper bag itu.
"Dasar orang kaya! suka banget buang-buang uang cuma buat hal nggak penting kayak gini." gerutu Vina.
"Dikiranya aku ini budeg apa gimana!" bathin Arkha.
Sepanjang langkah dari sebelum masuk lift sampai tiba di depan apartemen, tidak ada percakapan sama sekali diantara mereka.
Dug
"Aduh!"
"Anda ini kenapa tiba-tiba berhenti jalannya? jadi nabrak 'kan kepala saya!" protes Vina sembari mengusap keningnya sendiri dengan bibirnya yang reflek cemberut.
Arkha langsung balik menghadap Vina dan langsung mengusap kening istrinya itu dengan lembut.
"Sudah ya cemberutnya, saya minta maaf." ucap Arkha.
Vina sedikit menatap sekilas.
"Iya, saya juga tidak marah kok." jawab Vina.
"Ini pesanan anda, tolong diterima dong." sambungnya.
Arkha hanya menatap paper bag itu.
"Buat kamu." jawab Arkha.
"Hmm, terima kasih." ucap Vina.
__ADS_1
"Sudah 'kan? yang penting saya sudah pulang 'kan?" tanya Vina.
"Pinter!" seru Arkha lalu tertawa kecil.
"Ya memang saya pinter." balas Vina sembari meninggalkan Arkha dan masuk ke kamarnya.
...
Setelah membersihkan badannya, Arkha mengajak Vina untuk duduk di balkon sembari menikmati pemandangan sore hari yang cerah.
Sebelumnya Arkha minta untuk dibuatkan kopi, dan Vina cukup tertarik untuk mencoba. Sehingga ia membuat untuk dua gelas.
"Kamu bisa pindah ke sini?" suruh Arkha sembari menepuk kursi yang ia duduki.
Vina menatap Arkha, suaminya itu meminta Vina untuk duduk di kursi yang sama.
"Tukeran kursi?" tanya Vina saat ia sudah berdiri.
Arkha langsung menarik tangan Vina agar duduk di pangkuannya dan membuat Vina spontan mengalungkan tangannya di leher Arkha.
"Kamu sengaja memancing?"
"Hah? apanya yang mancing?" tanya Vina bingung.
Arkha mengalihkan pandangannya ke leher Vina karena rambutnya dikuncir. Sementara hal itu sudah pasti membuat jiwa laki-laki bergetar.
"Kenapa harus bertepatan pas kamu lagi pms." gerutu Arkha.
"Tanya sama Allah, Tuan." jawab Vina santai dan membuat Arkha hanya bisa mengomel tanpa bersuara.
"Ya sudahlah, untuk sekarang ini ya yang bisa dilakukan aja. Selanjutnya nanti nunggu saya sudah pulang." ujar Arkha.
__ADS_1
''Persiapkan dirimu." bisiknya.