
Seharusnya galeri ini berisi 7 karyawati, tetapi karena belum lama ini peresmian pembukaan cabang, 3 seniornya berada di sana untuk membimbing anggota baru.
Vina menarik napas panjang, ia menyembunyikan rasa kesalnya pada suaminya itu.
"Bisa-bisanya sengaja melibatkan aku buat kasih surprise ke pacarnya!" bathin Vina kesal.
Meskipun kesal dan terasa nyeri didadanya karena sudah memastikan dugaannya itu, Vina tetap menjalani pekerjaannya dengan profesional. Ia membawakan pesanan Arkha yang satu, sementara satunya dibawa sendiri oleh Arkha menuju mobilnya.
"Maaf Tuan, saya pulangnya agak terlambat karena harus menyelesaikan pesanan yang tadi tertunda demi mengutamakan pesanan anda." ucap Vina tanpa menoleh, ia tetap berjalan lurus ke depan supaya tidak ada tatapan yang mencurigainya.
"Kerja atau ketemu laki-laki tadi?" balas Arkha sembari membuka pintu mobilnya dengan lebar.
"Kalau Tuan tidak percaya, anda boleh tetap berada di sini dan melihat saya bekerja sungguh-sungguh atau ketemu laki-laki itu." jawab Vina santai.
"Oh ya, soal tadi pagi, saya benar-benar tidak sengaja ketemu. Tiba-tiba dia menghadang saya saat saya baru saja datang." jelas Vina buru-buru.
"Hm, ya sudah." jawab Arkha.
Di dalam kacamata hitamnya, sorot mata Arkha menurun pada leher Vina yang mengeluarkan keringat. Sedetik kemudian ia langsung membuang pandangannya sembari menghembuskan napas karena otaknya sudah traveling jauh.
"Saya permisi kembali bekerja, Tuan." ucap Vina sembari membungkukkan sedikit badannya supaya tidak ada kata curiga dan melihatnya yang sedang melayani customer dengan baik.
__ADS_1
"Ya." jawab Arkha yang lebih dulu masuk ke dalam mobil.
Setelah Arkha meninggalkannya, Vina langsung kembali ke dalam.
"Kamu nggak diapa-apain 'kan, Vin?"
"Kamu masih utuh 'kan, Vin?"
"Nggak ada yang berkurang 'kan?"
"Kaki? hidung? telinga? jari-jari?"
Semua senior Vina itu terlihat sangat berlebihan sehingga membuat Vina tertawa.
Mereka pun juga langsung menyadari bahwa sikap mereka sangatlah berlebihan.
Melupakan kelelahan gara-gara pesanan Arkha, mereka melanjutkan untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus diselesaikan sore ini juga.
Pukul 17. 45 WIB, Vina yang baru saja pulang itu terlihat sangat lesu. Penampilannya sudah semakin kusut, apalagi ini hari pertamanya sedang datang bulan. Dan kebetulan ia selalu menyediakan roti tawar itu di dalam tasnya untuk berjaga-jaga.
Saat mengetahui tamu bulanannya itu datang, Vina langsung spontan bernapas lega karena mengingat sikap Arkha yang masih belum bisa konsisten apakah sudah serius dengan pernikahan ini.
__ADS_1
Sebagai perempuan normal, tentu saja Vina berharap dan memiliki impian, ketika dipercaya untuk mengandung, ia ingin disayangi, diperhatikan, dan tentu saja dimanjakan oleh suaminya. Tetapi, ternyata setelah yang mereka lakukan itu, Arkha yang sempat melontarkan sebuah kalimat cukup membuat Vina tersenyum, pada kenyataannya Arkha berubah pikiran.
"Alhamdulillah akhirnya sampai juga." gumam Vina setelah keluar dari lift.
Vina mengucapkan salam setelah berhasil membuka pintu.
"Assalamu'alaikum." ucap Vina.
Terlihat Arkha yang sudah santai dengan celana kolornya dan kaos oblong polos. Di tangannya sedang memegang ponsel sembari bermain game online.
"Wa'alaikumussalam." jawab Arkha tanpa menatap istrinya.
Vina melanjutkan langkahnya dan mendekati Arkha, ia langsung mengulurkan tangannya. Sementara itu, Arkha langsung menatap tangan tersebut dan menerimanya tanpa ekspresi.
"Nggak sopan banget kakinya di meja!" gerutu Vina sembari meninggalkan Arkha yang masih di sofa.
Vina hanya bisa mendengus kesal, lalu ke kamar. Dalam keadaan seperti ini membuat Vina mudah lelah, badannya juga terasa pegal-pegal.
"Kalaupun aku mau marah-marah ke tuan Arkha buat pelampiasan, yang ada dia malah marah balik dan lebih serem! hih nyebelin!" gerutu Vina sembari membuka pintu kamar.
Badan lelah dan mata lelahnya itu tiba-tiba tidak bergerak sama sekali ketika melihat sesuatu yang ada di kamarnya. Vina yang masih memegangi pintu hanya bisa melongo
__ADS_1
"Apa itu maksudnya?" gumam Vina. Ia yang sudah bisa menggerakkan tubuhnya langsung menoleh ke belakang.
"Astaghfirullah!! sejak kapan anda ada di sini?!" pekik Vina terkejut melihat Arkha yang sudah ada di belakangnya.