
Arkha tersenyum menaikkan sudut bibirnya. Senyum yang membuat Vina semakin bergidik ngeri. Apalagi Arkha yang kembali naik ke atas ranjang.
"Aaaa!! apa ini?!" seru Vina saat Arkha tiba-tiba menggenggamkan tangan kiri Vina ke panah pusakanya.
Vina yang terkejut pun hendak melepaskan tangannya, tetapi Arkha justru menggenggamkan erat dan ia menikmatinya sampai bersuara aneh di telinga Vina.
"Kamu harus siap!" bisik Arkha yang langsung melepaskan celana pendeknya.
Vina sangat shock, kedua matanya terbelalak saat melihat seluruh bagian tubuh Arkha tanpa sensor.
Pikiran yang sudah dipenuhi oleh rasa inginnya, Arkha juga langsung menurunkan celana Vina.
Permohonan Vina tidak digubris oleh Arkha. Ia terus menguasai tubuh istrinya itu. Meskipun tangisan Vina terus mengiringi permainan Arkha, pria itu tetap melanjutkan.
"TUAN ARKHAAA!" seru Vina.
Arkha langsung mendongak.
"Belum masuk." jawab Arkha.
Spontan Vina menghentikan tangisannya.
"Hah? apanya?" balas Vina mendadak linglung.
Arkha tidak menjawab, ia menelusuri permukaan goa yang akan dipastikan masih alami atau sudah tidak. Ia tersenyum simpul bahwa apa yang ia terima ini benar-benar masih dalam keadaan terjaga.
Vina meremas bantal saat rasanya bercampur aduk. Ia takut dan bingung dengan apa yang dilakukan oleh Arkha. Ia sudah tau bagaimana hidup liarnya suaminya itu. Ia khawatir setelah ini, ialah yang akan menjadi korban. Karena yang dicemaskan adalah kehamilan tanpa seorang pendamping hidup yang baik. Apalagi hubungan tiba-tiba ini dilakukan tanpa pengaman, resikonya tentu saja hamil.
"Tuan, hp anda bunyi." ujar Vina membuat Arkha terhenti.
"Oh ****!! siapa ini siang-siang malah telpon." gerutu Arkha.
Dengan santainya ia bergeser ke samping untuk mengambil ponsel yang berada diatas meja. Saat ia mengambil, telpon masuk itu sudah mati.
"What? Mikhael?" gumamnya.
"Mikha?" balas Vina yang mendengar suara Arkha dengan jelas.
"Hm." balas Arkha sembari mengusap wajahnya yang sudah berkeringat meskipun terdapat AC.
"Bagaimana ini?" tanya Vina bingung.
"Biarin saja, nanti telpon balik." jawab Arkha.
Sebelum semuanya menjadi hambar, apalagi setelah memastikan bahwa semua yang ada ditubuh Vina masih sangat terjaga. Ia langsung kembali pada posisi yang sempat terhenti.
"Tidak perlu takut, hanya sakit sebentar." bisik Arkha lalu mengunci bibir Vina sembari ia bersiap melakukan aksinya dibawah sana.
Vina membalasnya karena sudah mendapatkan bimbingan terlebih dahulu dari ahlinya, yaitu Arkha.
__ADS_1
"Awas kakimu, jangan sampai bergerak berlebihan." bisik Arkha yang melepaskan bibirnya sesaat, lalu kembali melanjutkan.
"Aaaaaaaaa!"
Kedua matanya langsung mengeluarkan airmata secara spontan saat merasakan tusukan yang benar-benar terasa sakit.
"Jangan dilepas, cuma sebentar sakitnya." bisik Arkha lagi saat Vina menangis dan berusaha untuk lepas.
Ditengah proses penyusuran goa, ponsel Arkha kembali berdering panggilan masuk.
"Hp anda bunyi lagi." ujar Vina.
Vina spontan melirik ponsel Arkha, tetapi tidak terlihat.
"Mikhaaaa, kenapa kamu tidak tepat nelponnya." gerutu Arkha yang masih terus melangsungkan aksinya.
Arkha mengambil kaos Vina yang tidak jauh, dan langsung memakaikannya.
"Bilang saja saya baru masuk ke kamar mandi. Dan itu, tutupi lehermu pakai selimut." suruh Arkha.
Vina langsung mengernyitkan keningnya.
"Tapi, emmmh..," Vina mau bertanya tetapi tercekat karena hampir saja mengeluarkan lenguhan.
Tentu saja Arkha semakin semangat.
"Itu jawaban kenapa saya masih harus menuntaskan ini." balas Arkha.
"Telpon balik saja, nanti keburu dia marah karena pasti tau kalau ini waktunya saya istirahat." suruh Arkha.
''Tapi, bagaimana ini?" tanya Vina bingung dengan segala yang ada dirinya.
"Sudah, yang penting kameranya fokus ke muka kamu terus. Jangan sampai kemana-mana, dan jangan lupa kontrol ekspresi wajah kamu." jawab Arkha memberikan ide karena ia masih belum mau melepaskan apa yang sudah terlanjur masuk.
"Dih! enak aja main nyuruh orang lain buat fokus." omel Vina dalam hati.
Arkha langsung menyodorkan ponselnya ke wajah Vina setelah melakukan panggilan kembali ke Mikha.
"Lho, kok Mama?" tanya Mikhael dari sambungan video call itu.
"Assalamu'alaikum, Mikhaa." ucap Vina.
"Hehehe, wa'alaikumussalam, Mama." balas Mikha.
"Papa tadi ada kerjaan dekat apartemen, jadinya pas istirahat sekalian pulang." jawab Vina membuat alasan. Padahal ia juga tidak tau alasan sebenarnya mengapa Arkha pulang lebih awal. Atau memang sesuai dengan jawaban asalnya itu.
"Ohh, gitu? sekarang papa dimana?" tanya Mikha.
"Emm, masih di kamar mandi." jawab Vina sedikit menekan karena hampir saja ia mengeluarkan suara aneh.
__ADS_1
Vina menatap tajam pada Arkha, sedangkan pria itu hanya tersenyum licik.
"Mama kenapa sih? lagi lihat apa?"
"Eh, itu ... tadi lupa tv-nya belum dimatikan." jawab Vina berbohong.
Bermain sendiri membuat Arkha akhirnya menyerah, apalagi Vina sudah beberapa kali hampir bersuara yang memang ia harapkan. Tetapi karena posisinya masih berkomunikasi dengan Mikha membuatnya menyudahinya untuk saat ini.
Arkha turun dari ranjang lalu mengenakan semua pakaiannya dengan santai di depan Vina. Setelah itu, ia langsung mengenakan celana Vina sebelum khilafnya kembali membara.
Di jauh sana, Lidya yang mendampingi cucunya melakukan video call itu mencurigai apa yang terjadi pada anaknya, Arkha. Sebagai seseorang yang bukan anak kecil lagi, ia tentu sudah paham.
"Apa itu maksudnya? apa mereka sedang berhubungan badan?" bathin Lidya geram.
"Kalau sampai mereka benar-benar sudah melakukan itu, aku tidak bisa tinggal diam!"
"Pasti anak kampung itu sudah melakukan semua upaya, termasuk menurunkan harga dirinya supaya anakku mau menyentuhnya."
"ARKHAAA! kamu benar-benar membohongi Mama!"
Melihat bagaimana Vina di layar laptop, membuat Lidya benar-benar ingin menyingkirkan gadis itu. Pikiran dan bathinnya langsung menjadi sibuk.
"Halo sayang, ini Papa." ucap Arkha
"Papa kok dirumah?" tanya Mikha.
"Seperti yang dikatakan mama tadi, sayang. Ini abis makan, Papa mau siap-siap kerja lagi." jawab Arkha berbohong.
"Ya sudah, Mikha juga mau sekolah." balas Mikha.
"Mikha tunggu kedatangan Papa sama Mama." sambung Mikha penuh harap.
Lidya langsung menarik napas panjang menatap cucunya itu. Begitu juga dengan Arkha dan Vina yang langsung melempar pandangan.
"I-iya, Papa usahakan untuk kesana ya." jawab Arkha menjadi gugup ketika berhadapan dengan Mikha.
"Iya Papa ... Mama mana?" tanya Mikhael sebelum mengakhiri komunikasi itu.
"Mama ke kamar mandi, mau bab katanya." jawab Arkha berbohong lagi.
"Ya sudah kalau begitu, nanti siang Mikha telepon lagi, daaaaa."
Siang hari di tempat tinggal Mikha, maka, malam hari di Indonesia. Arkha pun langsung mengiyakan.
"Sakit?" tanya Arkha setelah meletakkan ponsel ke atas meja.
"Banget lah!" jawab Vina sembari meringis kesakitan saat hendak turun dari ranjang.
"Terima kasih sudah memberikan mahkotamu untuk saya." ucap Arkha.
__ADS_1
Vina menatap Arkha yang duduk disebelahnya, lalu ia menoleh ke belakang, ada darah yang keluar. Vina kembali menangis tak percaya dengan semua ini.