
"Ngomong-ngomong, terima kasih atas perhatian anda, Tuan." ucap Vina setelah dokter itu sudah meninggalkan apartemen Arkha.
Arkha menatap Vina sekilas setelah menutup pintu pasca mengusir dokter yang baru saja memeriksa kondisi kaki dan tangan Vina.
"Hm." jawab Arkha singkat.
Vina membalas jawaban singkat itu dengan senyum manis. Meskipun respon dari Arkha hanyalah wajah datar sembari meninggalkannya di ruang tamu.
Vina melanjutkan masak yang sempat tertunda. Ia hanya masak sedikit seperti hari-hari sebelumnya karena suaminya itu hanya makan nasi satu kali dalam sehari, kecuali jika ada acara keluarga. Ia akan terpaksa menyantap apa yang dihidangkan.
"Nanti nggak usah masak, saya sudah pesankan." ujar Arkha tiba-tiba bersuara.
Lagi-lagi jantung Vina seperti langsung berhenti saat fokusnya memasak dikejutkan dengan suara itu.
"Terima kasih, suamiku." ucap Vina sembari tersenyum lebar. Meskipun balasan Arkha tentu saja tidak ada senyum-senyumnya.
Vina menatap Arkha yang tengah membuat kopi sesuai racikannya. Lalu ia mematikan kompor karena sudah selesai. Setelah itu, ia memindahkan masakannya ke wadah.
"Eh, anu, nggak usah Tuan, biar saya cuci sendiri." tolak Vina saat Arkha tiba-tiba mengambil alih alat masak yang hendak ia cuci.
Arkha langsung menatap tajam pada Vina, sehingga membuat wanita itu menunduk dan melepaskan tangannya.
"Terima kasih." ucap Vina.
Tangan dan kaki Vina masih dalam proses pengobatan, sehingga Arkha tidak ingin hal itu menjadi sia-sia. Meskipun di dalam hatinya ia merasa heran dengan dirinya sendiri yang bisa memiliki empati terhadap orang lain.
Vina duduk lebih dulu menghadap meja makan, tak lama kemudian Arkha menyusulnya sembari membawa roti gandum untuk menu sarapannya.
"Maaf Tuan, ini benar anda mau mengizinkan saya ke tempat kerja saya?" tanya Vina.
"Hm." jawab Arkha singkat.
"Serius 'kan, Tuan? saya takut diberhentikan." ujar Vina yang suaranya terdengar lirih diujung kalimat.
"Kamu nggak percaya sama saya?" tanya Arkha.
"Ma-maaf.'' ucap Vina.
Keduanya langsung diam dan fokus pada makanannya masing-masing.
__ADS_1
..
Sesuai dengan janjinya, sebelum berangkat ke kantor ia berhenti terlebih dulu ditempat Vina bekerja. Saat tiba di sana, bertepatan dengan pemilik tempat tersebut juga datang.
Keduanya berbincang-bincang sebentar karena mereka sudah saling kenal lama.
"Baiklah, nanti aku sampaikan surat izin ini ke karyawanku." ujar orang itu menerima amplop yang berisi surat keterangan dari dokter.
"Terima kasih, aku duluan ya karena ada meeting." ucap Arkha.
Arkha langsung bergegas menuju mobilnya untuk segera ke kantor.
Setibanya di kantor pun ia langsung pada intinya. Tadi malam ia meminta sekretarisnya untuk mengatur jadwal meeting pagi hari karena beralasan memiliki acara menjelang siang.
"Sepertinya acara yang anda maksud itu pergi honeymoon." celetuk Dicky saat keduanya memasuki lift setelah baru kembali dari meeting.
"Sudah bosan hidup kah?!" balas Arkha.
"Emm, belum sih, Tuan. Belum kesampaian punya bini 5." jawab Dicky.
Arkha mendengus dingin. "Bocah edan!"
Dicky terkekeh sendiri.
Leon yang berada di waktu yang berbeda terlihat kantung matanya yang besar. Sepertinya pria itu sudah tidur terlebih dahulu sebelum menerima sambungan video ini.
"Ok, bagus ya. Saya sudah memahami kerjasama ini. Selanjutnya kita persiapkan semuanya dan saya tegaskan sekali lagi siapapun yang berani-berani curang dalam kerjasama ini, saya tidak segan-segan untuk membawa ke jalur hukum!" tegas tuan Leon.
Beberapa waktu yang lalu, seseorang yang pernah mendapatkan kepercayaan mengenai keuangan pernah melakukan kecurangan sehingga membuat Leon murka. Hal itu pun berhasil diselesaikan oleh Arkha dan pelaku kecurangan itu sudah mendekam di penjara. Aset-aset yang ia dapatkan dari kecurangan itupun sudah ditarik kembali. Tidak heran jika Leon memiliki kepercayaan terhadap putranya yang memang mampu dan terbukti bekerja dengan baik.
Meeting hari ini selesai, Arkha langsung bergegas membereskan meja kerjanya.
"Pulang dulu, ****." pamit Arkha.
"Baik Tuan, hati-hati dijalan ya." jawab Dicky.
Arkha menatap Dicky dengan tatapan risih karena suaranya yang terdengar meledeknya.
"Kesurupan lu!" protes Arkha langsung mendahului Dicky.
__ADS_1
Dicky terkekeh kecil sembari menatap langkah bosnya yang buru-buru itu.
"Oh ****! hampir lupa ambil pesanan!" gerutu Arkha pada dirinya sendiri.
Arkha melihat dari kaca spionnya untuk memastikan keadaan jalan bisa untuk memutar arah.
Setelah sudah dipastikan, Arkha langsung menuju ke restoran untuk mengambil pesanan makan siang untuknya dan juga Vina.
"Apa lagi ya?" gumam Arkha ketika baru masuk ke dalam mobil. Ia menoleh ke makanannya.
"Stok buah-buahan atau kebutuhan dapur lainnya masih ada nggak ya?"
Tanpa sadar, Arkha mengambil ponsel dan mencari nomor seseorang.
"Dih! ngapain nelpon anak itu! ogah!" gerutunya lagi.
Arkha sudah membatalkan rencana untuk menghubungi nomor Vina. Ia pun mampir ke supermarket untuk membeli buah-buahan.
Tidak sampai tiga puluh menit, Arkha sudah tiba di apartemennya. Ia melihat jam di pergelangan tangan, masih belum ada jam 12. Ia mengitari pandangannya, tidak ada sosok Vina. Arkha meletakkan bawaannya ke meja dapur.
"Anak itu pasti habis ngepel sama nyuci! awas aja kalau sampai kenapa-napa!" gerutu Arkha.
Terlihat lantai yang bersih dan juga pakaian yang sudah dijemur di balkon. Arkha mendengus kesal lalu ke kamarnya terlebih dahulu untuk mengganti pakaiannya.
Lima menit kemudian, Arkha kembali keluar dari kamarnya. Ia sudah berganti pakaian sehari-hari yaitu kaos oblong dan celana pendek.
"Sepi sekali, apa dia masih tidur?" gumam Arkha menatap pintu kamar Vina.
Menunggu sepuluh menit, Vina belum menunjukkan batang hidungnya. Arkha pun menjadi tidak sabar dan juga penasaran.
"Aku cek aja deh dikamarnya."
Arkha langsung membuka pintu kamar Vina dengan pelan. Pandangannya langsung tertuju pada kasur, disana tidak ada Vina. Arkha langsung melanjutkan langkahnya untuk melihat sofa. Dan sesuai dengan tebakannya, Vina disana dalam keadaan memejamkan matanya sembari memegang remote.
"Drakor terus nih anak!" bathin Arkha lalu mengambil remote dari tangan Vina.
Arkha mengambil remote tersebut tanpa mematikan tayangan yang ada di layar. Ia memastikan apakah Vina benar-benar tidur atau tidak dengan melambaikan tangannya di depan wajah Vina, dan perempuan itu masih tidak bergerak, hanya terdengar suara napasnya yang teratur. Akhirnya Arkha menonton drama itu.
"Ck ck! tontonannya orang ciuman mulu." bathin Arkha lalu melirik Vina.
__ADS_1
Drama Korea pada umumnya yang selalu menampilkan adegan kissing jika genre romantis. Vina memang menyukai drama ataupun buku yang memiliki genre romantis dan komedi. Tapi, meskipun demikian, Vina tidak melakukannya di dunia nyata saat memiliki kekasih.
"Eh, Tuan, kok disini? sudah pulang?" tanya Vina yang terbangun lalu terkejut melihat Arkha tengah berada di sofa yang sama.