
Vina langsung menutup mulutnya sembari menoleh ke arah sekitarnya. Ia terkejut dengan kehadiran Arkha yang menurutnya ini masih dalam mimpi. Sedangkan Arkha terlihat meringis sambil mengusap dadanya yang disikut oleh Vina dengan cukup keras.
"Kuat juga kamu." ujar Arkha.
"A-apa ini beneran anda, Tuan?" balas Vina masih ragu dengan pandangannya.
Arkha terkekeh, lalu maju dan duduk di sisi ranjang. Ia menarik pinggang Vina yang masih shock sehingga tidak ada penolakan.
"Apakah rasanya berbeda sehingga kamu masih ragu?" tanya Arkha sembari menempelkan telapak tangan Vina ke pipinya.
"Boleh saya cuci muka dulu?" balas Vina.
Arkha menjawab dengan anggukan kecil.
Vina bergegas ke kamar mandi, ia berdiri terdiam di depan cermin beberapa detik sembari mencerna kepulangan Arkha.
"Nggak ada kabar, tiba-tiba muncul, dasar aneh!" gerutu Vina sembari menoleh ke arah pintu yang ia tutup.
Vina langsung mencuci wajahnya dan kembali ke kamar untuk menemui suaminya.
"Sudah datang dari jam berapa? kok nggak ada kabar dulu?" tanya Vina yang duduk di sebelah Arkha. Sebelum mendapatkan jawaban, Vina lebih dulu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan suaminya.
"Mungkin, sekitar satu jam yang lalu. Sengaja mau kasih surprise, hehehe." jawab Arkha.
"Sudah makan buah?" tanya Vina.
Arkha mengangguk.
"Sekarang tinggal makan kamu, yuk gas." bisik Arkha yang langsung membuat Vina merinding dan spontan memperlebar jarak duduknya.
Akhir-akhir ini, Arkha merasa sudah tidak memiliki hasrat untuk mencari kepuasan diluar sana. Ia sekarang selalu merindukan tubuh Vina. Meskipun kata cinta masih enggan ia akui, tapi, ia tidak bisa memungkiri kalau rasa puas itu sekarang ia dapatkan bersama Vina. Apalagi saat melihat Vina yang masih malu-malu, justru membuatnya semakin tertantang untuk menjadi pelatih sekaligus pemain.
"Aku sangat ingin, lihatlah dia yang mencari rumahnya selama semingguan ini." bisik Arkha sembari menunjuk ke senjatanya.
__ADS_1
"Biasanya 'kan suka dimasukkan ke banyak rumah." jawab Vina dengan suara pelan.
Meskipun pelan, ternyata Arkha mendengarnya.
"Saya minta maaf." ucap Arkha. Baginya ia tidak perlu mencari pembelaan, karena itu memang kesalahan yang fatal.
Vina hanya menarik napas dalam-dalam lalu tersenyum tipis.
"Ya sudah, Tuan pasti lelah, silahkan kembali ke kamar." ujar Vina.
"Bukannya ini sudah di kamar?" balas Arkha.
Vina yang semula tidak menghadap Arkha pun langsung menghadap suaminya.
"Iyaa, maksudnya ke kamar anda sendiri." jawab Vina.
Arkha langsung mendekatkan jaraknya dengan Vina.
"Yuk bikin adik untuk Mikhael." bisik Arkha lalu membelai wajah Vina.
"A-anda pasti lelah, Tuan. Beristirahatlah dulu." balas Vina merinding.
Arkha terkekeh kecil melihat kegugupan yang tampak jelas di wajah Vina. Ia langsung turun dari ranjang dan berdiri didepan istrinya itu.
"Eh eh mau ngapain?" protes Vina saat Arkha tiba-tiba melepaskan kaos.
Arkha mencondongkan tubuhnya ke depan yang spontan membuat Vina condong ke belakang. Satu persatu Arkha menaikkan kakinya ke ranjang, sedangkan Vina reflek semakin naik ke tengah. Saat melihat Vina sudah di tengah, Arkha semakin mencondongkan tubuhnya sehingga membuat Vina jatuh ke bantal.
"Kamu bertanya saya mau ngapain?" bisik Arkha yang sudah mengurung tubuh Vina.
"Mau menanam benih." lanjut Arkha.
Tidak perlu menunggu jawaban dari Vina, Arkha yang sudah tidak bisa menahan diri pun langsung mengunci bibir sang istri dengan rakus. Setelah merasa napas Vina mulai sesak karena belum mampu mengimbanginya, ia mengangkat tubuhnya lalu melepaskan celana pendek yang belum ia lepas, termasuk pakaian Vina. Senyum itu semakin lebar setelah satu minggu menahan diri.
__ADS_1
Lampu dikamar itu masih belum dipadamkan sehingga Vina melihat jelas warna kulit Arkha yang lebih putih darinya. Tubuhnya sangat sempurna, wajar saja kalau banyak perempuan tertarik.
Ditengah pikirannya yang tidak fokus pada apa yang dilakukan oleh Arkha, Vina tiba-tiba mengeluarkan suara karena Arkha sudah mulai beraksi sehingga pikirannya itu langsung buyar. Seketika Vina langsung menutup mulutnya, namun, Arkha justru tersenyum lebar dan memintanya untuk terus mengeluarkan suara itu.
Beberapa saat kemudian, keduanya sama-sama sudah lelah. Arkha dan Vina masih terjaga sembari menatap lurus ke depan tanpa berbicara. Mereka masih sama-sama duduk bersandar dengan kain selimut yang menutup sampai ke dada, sementara Arkha hanya di perut.
"Terima kasih ya karena kamu sudah memberikan segalanya untuk saya." ucap Arkha.
Vina menoleh, membalas tatapan mata Arkha yang lekat.
Vina mengangguk sembari tersenyum. Tiba-tiba ia teringat lagi dengan mimpinya tentang Arkha.
"Kenapa?" tanya Arkha saat melihat ekspresi wajah Vina berubah.
"Nggak papa kok." jawab Vina.
Arkha meraih bahu Vina lalu ia bawa ke dalam pelukannya. Arkha memberikan ciiuman di rambut Vina berkali-kali tanpa rasa risih.
Tiga puluh menit mereka masih terjaga, waktu ke pagi hari pun masih cukup lama.
"Saya mau lagi." bisik Arkha.
Vina menatap jam di dinding, lalu balik menatap suaminya, ia mengangguk kecil sembari tersenyum malu-malu.
"Pindah kamar ya." ajak Arkha.
Vina mengangguk lagi.
Arkha langsung semangat, ia mengangkat tubuh Vina untuk pindah kamar.
"Ih, ditutup dulu biar nggak kayak tuyul!" protes Vina saat Arkha langsung berjalan tanpa memakai pakaian atau penutup lain.
Arkha terkekeh mendengar kata tuyul, "Biarin." balasnya tak peduli dibilang seperti tuyul.
__ADS_1