
"Ada apa, ****?" tanya Arkha.
Arkha menyanggupi permintaan Dicky untuk datang ke apartemennya pagi ini. Mantan asistennya itu mengirimkan pesan pada Arkha tadi malam, tapi, Arkha yang sedang menikmati momen bersama Vina membuatnya tidak membuka ponsel.
"Anda benar-benar sudah yakin melepaskan pekerjaan ini, Tuan?" tanya Dicky.
"Kamu pikir saya suka main-main dan hanya sedang membuat gertakan di dalam keputusan yang sudah saya ambil?" balas Arkha.
Dicky terlihat menarik napas dalam-dalam. Ia juga merasa kasihan pada Arkha, terlebih lagi pada Vina yang menjadi kambing hitam dalam permasalahan ini.
"Kalau anda benar-benar sudah yakin, saya juga akan mundur, Tuan.'' ujar Dicky sembari menunduk.
Seketika Arkha langsung menatap tajam pada Dicky.
"TIDAK! kamu harus tetap berada di sana, ****. Saya percaya bahwa kamu bisa mengatasi semuanya! banyak sekali manusia munafik yang ingin merusak perusahaan papa. Untuk itu, saya percaya sama kamu agar papa masih ada yang melindungi." pinta Arkha.
"Saya mohon, ****." sambungnya.
"Tapi, saya merasa tidak pantas, Tuan, seharusnya posisi itu tetap ada ditangan anda." ujar Dicky sembari mengangkat wajahnya.
"****, sekali lagi saya mohon." pinta Arkha.
Dicky terlihat menunduk lagi, ia terdiam cukup lama. Setelah kepergian Arkha kemarin, ia langsung melakukan negosiasi dengan Leon, tetapi pria itu tetap bersikeras.
"Lalu, bagaimana dengan kehidupan anda, Tuan?"
"Ya, mungkin tabungan anda sekarang masih sangat cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Tapi, kita harus memikirkan jangka panjangnya. Sedangkan anda masih membangun juga." terang Dicky.
__ADS_1
"Kamu tidak salah, ****. Tapi, karena keadaan begini, ya dengan terpaksa bangunan itu akan saya hentikan dulu, ****. Sampai keuangan saya benar-benar ada jaminan dalam kondisi stabil lagi." balas Arkha.
Dicky kembali terdiam.
"Apa rencana anda sekarang?" tanya Dicky.
"Do'akan saja, saya akan bertemu dengan salah satu kenalan saya. Semoga saja ada solusi untuk hidup saya kedepannya, termasuk melanjutkan bangunan itu." balas Arkha.
"Maaf Tuan, apakah istri anda sudah tau?" tanya Dicky.
Arkha mengangguk.
"Vina sudah mengetahui semuanya karena saya bercerita. Dia tetap berdiri di samping saya dan yakin bahwa semuanya akan baik-baik saja." jawab Arkha dengan senyum yang manis ketika membayangkan sosok Vina.
"Syukurlah." ucap Dicky ikut tersenyum.
"Kalau tidak ada yang mau dibicarakan lagi, saya pergi dulu. Kamu juga harus segera ke kantor 'kan." ujar Arkha.
"Anda jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi saya kalau perlu bantuan." balas Dicky.
"Terima kasih, ****. Tolong jaga kepercayaan ini ya."
.........
Meskipun semuanya tampak baik-baik saja, Vina tetap saja kepikiran. Berkali-kali ia menarik napas panjang agar fokusnya terus terjaga saat sedang bekerja.
"Apa jangan-jangan kehadiranku ini memang petaka buat keluarga Leonardo?" bathin Vina.
__ADS_1
"Seharusnya mereka harmonis tanpa adanya perpecahan seperti ini."
Sedangkan di tempat lain, waktu pun sudah menunjukkan jam makan siang. Arkha memiliki janji bersama seseorang yang ia kenal baik. Nama itu yang langsung terbersit di dalam benak Arkha saat permasalahan ini terjadi.
"Maaf sudah lama menunggu." ujar pria itu sembari melepaskan kacamata hitamnya.
"Oh, tidak kok, Bang. Baru lima menit yang lalu." jawab Arkha.
Kedua pria itu saling berjabat tangan dengan akrab.
Tanpa menunggu lama, mereka memesan makanan untuk makan siang. Pria itu datang seorang diri karena telah mencerna dari perkataan Arkha yang sepertinya tidak hanya membahas tentang pekerjaan, tetapi juga membahas hal pribadi.
"Kebetulan aku sudah lapar, nggak papa 'kan?" tanya pria itu.
"Aman Bang, santai saja." balas Arkha.
Dua pria itu menikmati makan siang di sebuah restoran yang ada di tengah kota. Dengan meja yang memiliki jarak jauh dengan pengunjung lain, membuat Arkha lebih leluasa untuk berbicara nantinya.
Setelah makanan sudah tersaji di meja, kedua pria itu langsung menyantap tanpa bersuara.
Dua puluh menit kemudian
"Kamu sedang ada masalah apa, Ar?"
"Maaf Bang, aku sudah mengganggu waktunya. Aku memang sedang lagi ada masalah, sebenarnya masalah keluarga yang merembet ke pekerjaan." terang Arkha.
"Santai saja, kamu tenang dan jelaskan apa yang terjadi di keluargamu." balasnya.
__ADS_1