Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 68 : Bahagia Versi Kita


__ADS_3

Melihat kedatangan mobil Arkha, Vina yang masih duduk di teras sembari minum es dengan sedotan pun langsung berlari, apalagi saat melihat pintu mobil itu dibuka. Vina tidak ingin Arkha keluar dari mobil karena takut ada yang diam-diam mengintai.


"Sudah-sudah, jangan dibuka, jangan keluar!" seru Vina sembari menahan pintu mobil.


"Ya sudah buruan masuk." suruh Arkha.


Tanpa menoleh ke kanan kiri, Vina langsung masuk ke dalam mobil.


"Maaf nunggu lama ya?" ucap Arkha.


"Nggak kok, cuma lumayan." jawab Vina lalu kembali menyeruput es itu.


"Maaf, tadi ketiduran." ucap Arkha lagi.


"Syukurlah kalau anda bisa tidur siang, Tuan." balas Vina yang mengira Arkha tidur di apartemen.


"Iya sih, tapi, kamu tau saya tidurnya dimana?" tanya Arkha sembari melanjutkan laju mobilnya menuju apartemen.


"Dimana emangnya?" tanya Vina yang beralih menghadap Arkha.


"Di parkiran supermarket, niatnya mau belanja, haha." jawab Arkha lalu tertawa.


Vina pun langsung ikut tertawa.


"Kok bisa sih?"


"Ya bisaa, tapi, nggak jadi belanja, malah numpang tidur." balas Arkha masih dengan tawanya.


"Untungnya tidak diusir, hihi." canda Vina.


Gelak tawa itu melupakan sejenak permasalahan yang tengah terjadi.


"Eh, belum salim tadi."


Vina langsung mengulurkan tangannya, Arkha pun menyambutnya hangat. Dengan percaya diri, Arkha mendekatkan wajahnya ke Vina.

__ADS_1


"Fokus nyetir ih, jangan gitu." tolak Vina.


"Sebentar aja, ayo buruan." paksa Arkha.


Vina langsung mencium pipi Arkha, dan dengan cepat Arkha mencium bibir Vina sebagai balasannya.


.........


Setelah shalat isya, Arkha dan Vina duduk di sofa. Mereka menunggu waktu Mikhael melakukan panggilan video.


Rutinitas itu terus berjalan, untuk jadwal Mikhael yang padat membuatnya melakukan komunikasi dengan Arkha dan Vina maksimal hanya satu jam saja. Ia juga harus berkomunikasi dengan kakek dan neneknya yang sudah pasti selalu merindukan cucunya itu.


"Em, Tuan, dengan permasalahan yang terjadi, nggak papa kok kalau saya pulang kampung sendiri." ujar Vina setelah selesai berkomunikasi dengan Mikhael.


Arkha langsung menutup ponselnya.


"Nggak! pokoknya kamu pulang kampung harus sama saya!" jawab Arkha tegas.


"Tapii ...,"


"Kamu nggak perlu khawatir soal uang, masih banyak uang saya." jawab Arkha dengan nada sombong.


"Haha, iya iya, bercanda. Pokoknya kamu nggak boleh pulang sendiri." balas Arkha sembari tertawa kecil.


Setelah tawa kecil itu, wajah Arkha berubah serius. Ia meraih tangan Vina dan menggenggamnya.


"Maaf ya, untuk sekarang kita sedang di uji. Dan sekarang ada hal yang harus saya sampaikan." ucap Arkha.


"Ada apa, Tuan?" tanya Vina.


"Saya terpaksa memiliki rencana untuk menjual apartemen dan mobil. Tapi, akan saya belikan lagi dengan harga yang lebih murah, jadi sisanya bisa untuk kebutuhan yang lain." ungkap Arkha.


"Seharusnya saya yang meminta maaf, Tuan. Ini semua karena kehadiran saya didalam keluarga anda. Seharusnya anda tidak perlu repot-repot menjual semua itu." balas Vina sembari menunduk dalam. Tak lama, airmatanya mengalir.


"Sssttt, sudah saya bilang, ini bukan kesalahan kamu. Sudah, jangan bahas ini lagi, intinya sudah saya sampaikan. Saya tidak mau kamu menangis dan terus menyalahkan diri kamu sendiri."

__ADS_1


Arkha memeluk Vina sembari mengusap air mata itu.


"Gimana saya tidak menyalahkan diri sendiri, Tuan?"


Vina menarik napas dalam-dalam karena isak tangisnya yang menyesakkan dada.


"Seharusnya keluarga kalian tetap harmonis. Kalau tidak ada saya, pasti anda sudah bersama dengan wanita terbaik dan selevel dengan anda. Kalian pasti sudah semakin bahagia."


"Sedangkan bersama saya? permasalahan itu langsung muncul dan membuat keluarga kalian pecah." pungkas Vina sembari melepaskan dirinya dari pelukan Arkha.


Sengaja Arkha membiarkan Vina untuk berbicara.


"Sudah selesai?" tanya Arkha.


Vina mengangguk sembari membersihkan cairan dihidungnya dengan tisu.


"Terus mau kamu gimana? kamu mau pergi, gitu?"


"Saya tanya, apa itu solusi yang efektif, hem?"


Vina terdiam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan tersebut karena sudah pasti harus tersambung dengan Mikhael.


"Sekarang begini, saya mohon sama kamu, kita hadapi semua ini, kita bangkit bersama. Kita positifkan pikiran dan hati kita, ya."


Arkha kembali menggenggam tangan Vina.


"Kita bangun keluarga bahagia versi kita." tuturnya sembari menatap kedua mata Vina yang masih berkaca-kaca.


Dengan isak tangisnya yang masih ada, Vina hanya menjawab dengan anggukan kecil dan juga senyum tipis.


Di waktu yang sama, tiba-tiba Arkha mengusap perut Vina yang masih rata itu.


"Saya benar-benar sudah tidak sabar melihat kamu hamil, Vina." ujarnya.


Vina tersenyum tipis lalu ikut mengusap perutnya.

__ADS_1


"Tapi, sampai sekarang masih belum ada tanda-tanda, Tuan." ujar Vina merasa bersalah lagi.


"Semua akan tiba, yang penting kamu harus bahagia dulu." balas Arkha.


__ADS_2