Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 33 : Apa Aku Berani?


__ADS_3

"Kamu ganti nomor?" tanya ibu Vina saat mengetahui yang menelponnya adalah putrinya itu.


"Iya Bu, sama suamiku disuruh ganti karena kadang-kadang ada yang ngirim pesan gitu." jawab Vina berbohong.


"Maa syaa Allah, perhatian sekali suami kamu. Namanya pasangan harus bersyukur kalau ada rasa cemburunya." balas ibu.


Vina tersenyum tipis. Ia melakukan panggilan video itu ke nomor kakaknya karena kedua orangtuanya masih belum bisa menggunakan ponsel android.


"Gimana?" tanya ibu dengan senyuman yang penuh arti.


"Gimana apanya, Bu?" tanya Vina masih belum mengerti.


"Sudah berhenti apa belum bulanannya?" tanya ibu lagi.


Vina langsung terdiam sembari berpikir.


"Ohh, hehehe, belum Bu ... masih lancar nih datang bulannya." jawab Vina sembari membayangkan kejadian beberapa hari yang lalu.


Tiba-tiba Vina menunduk sembari menatap perutnya. Ia menerka-nerka dan juga cemas jika setelah kejadian itu akan membuatnya hamil. Tapi, ia lebih meyakini bahwa kejadian itu tidak akan langsung jadi, karena ia tidak merasakan tanda-tanda yang muncul selain rasa sakit.


"Do'akan saja ya Bu, Pak, Mbak ... semoga Bapak dan juga Ibu, semuanya pada sehat." ucap Vina.


"Aamiin, kami selalu mendo'akan untuk kalian." jawab mereka serempak memenuhi layar ponsel Vina.


Vina dan keluarganya saling bertukar cerita, serta canda tawa yang cukup mampu menutupi kesedihan Vina kali ini.

__ADS_1


...


Setelah shalat isya, Vina keluar dari kamarnya. Ia menyantap makanan yang sudah dimasaknya sore tadi. Sekilas ia menoleh ke arah sofa dan pintu kamar Arkha, tidak terlihat pria itu.


"Hmmm, serumah seperti beda benua." gumam Vina lalu setelah menghela napas panjang.


Tak mau terus dibuat sedih, ia memilih fokus menjaga kesehatannya sendiri. Menghabiskan makanan dan juga mengkonsumsi buah.


Untuk mengisi waktunya agar tidak terlalu larut dalam kesedihan, Vina menyetrika pakaian. Tak terasa waktu selesai sudah hampir jam setengah 11 malam. Ia memisah-misahkan pakaiannya dan pakaian Arkha. Setelah pakaian Arkha sudah terpisah, ia menempatkan ke keranjang lalu membawanya ke depan pintu kamar suaminya itu dengan menaruhnya diatas kursi.


Vina masih takut untuk mengetuk pintu kamar Arkha, ia masih belum memiliki keberanian yang konsisten. Bagaimana pun ia masih mengingat jelas bagaimana ia menyaksikan tingkah laku Arkha yang belum diketahui oleh orangtuanya.


"Maaf Tuan, bajunya saya taruh di sini, saya takut ketemu anda." gumam Vina lalu menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada Arkha.


Di tempat lain, Arkha kembali mencari hiburan diluaran sana bersama teman-temannya. Ia sudah dihadapkan dengan beberapa botol miras dan disampingnya ditemani oleh seorang wanita yang berpakaian kurang bahan.


"Berisik lu pada!" protes Arkha.


Arkha masih dihantui oleh rasa penyesalan setelah hari itu. Meskipun ia merasa puas dan senang karena sudah mendapatkan mahkota seorang perempuan yang terjaga, tapi, ia tersadar dari efek jangka panjang karena permainan yang ia lakukan tanpa pengaman.


"Aargghhh!"


Seketika orang-orang disebelah Arkha langsung kaget mendengar teriakannya itu.


"Kenapa?" tanya wanita disebelahnya.

__ADS_1


"Minggir minggir!!" usir Arkha.


Wanita itu pun langsung menyingkir dan berganti dengan temannya yang heran.


"Kenapa sih lu, Ar?" tanya temannya.


Arkha tidak menjawab, ia hanya memijat pelipisnya yang semakin berat itu.


"Kayaknya kali ini minum lu kebanyakan deh, Ar. Sudahlah buruan booking kamar aja daripada pingsan di sini, bikin repot lu!" protes temannya.


Bukannya menjawab dan menyudahi, Arkha justru kembali menenggak minuman itu.


Sementara Vina memiliki perasaan tidak enak sedari tadi. Setelah mengantar pakaian Arkha yang sudah ia setrika, ia tidak langsung ke kamar. Karena perasaannya itu, ia duduk di sofa hanya untuk memastikan kalau Arkha ada di rumah.


Sudah satu jam ia menunggu, Arkha tidak muncul. Kalau sedang tidak kemana-mana dan tidak hujan, biasanya pria itu sesekali keluar untuk menikmati udara di balkon. Vina juga sudah memastikan bahwa balkon dalam keadaan kosong, pintu pun juga masih tertutup rapat.


"Apa aku cari aja?" gumam Vina sembari melihat jam di dinding.


"Sudah tengah malam? apa aku berani?" gumamnya lagi.


Untuk memudahkan keduanya dalam mengakses apartemen, tentu saja Arkha tidak menguasainya sendiri. Ia sudah lebih percaya untuk sekedar membuka pintu. Apalagi mereka memiliki kegiatan yang sama-sama keluar dan memiliki jam pulang yang tidak sama.


"Ohhh, aku lihat alas kakinya, lengkap apa nggak." lanjut Vina yang langsung memeriksa rak sepatu milik Arkha.


Sudah cukup waktu baginya untuk menghafal, termasuk alas kaki. Vina membuka pintu rak tersebut dan memastikannya satu persatu.

__ADS_1


"Benar nih, nggak salah lagi! tuan Arkha pasti keluar dan perasaanku sekarang benar-benar nggak enak! aku harus nyari tau untuk memastikan dia baik-baik saja!"


__ADS_2