
Pagi harinya, Vina beraktivitas seperti biasa. Ia memasak untuk sarapan dan bekal makan siangnya. Setelah semuanya selesai, ia lanjut bersih-bersih.
"Bikinkan saya susu!" ujar Arkha tiba-tiba bersuara.
Vina yang kaget tentu saja langsung menarik napas panjang.
"Baik, Tuan." jawabnya.
"Lah, tumben minta dibuatkan?" bathin Vina.
Meskipun demikian, Vina tetap membuatkan apa yang Arkha minta. Selain itu, Vina juga menyiapkan sarapan Arkha, yaitu roti gandum panggang dan potongan buah.
"Tadi kayaknya ke balkon ya?" gumam Vina berhenti sembari menoleh ke ruang tengah dan pintu balkon yang sebelumnya sudah ia buka.
"Iya deh kayaknya, soalnya nggak ada di sini." sambungnya lagi sembari melanjutkan langkahnya menuju balkon.
Melihat Vina keluar, Arkha langsung menoleh setelah menghisap rokoknya.
"Silahkan, Tuan." ucap Vina setelah meletakkan nampan itu ke meja.
"Hm." jawab Arkha singkat.
Vina hanya menatap suaminya itu sebentar lalu kembali ke dalam. Ia melihat suaminya yang masih merasakan pusing sehingga mengurungkan niatnya untuk bertanya.
"Kalau tadi malam aku nggak nyusul, kira-kira mereka mau kemana ya?"
"Apalagi posisi tuan Arkha yang sudah mabuk berat." gumam Vina bertanya-tanya.
Vina sedikit lega, apapun nanti yang akan terjadi. Kalaupun Arkha akan marah, ia siap menerima karena sudah meyakini keputusannya tadi malam hal yang sangat tepat.
Melihat Arkha yang belum juga masuk, Vina ingin bertanya apakah suaminya itu akan ke kantor atau tidak. Tapi, ia sedikit ragu karena takut mengganggu waktu yang masih Arkha gunakan untuk menenangkan dirinya.
"Nanti aja deh tanyanya sekalian aku pamit berangkat kerja." bathin Vina.
__ADS_1
Vina menyiapkan bekalnya yang akan ia bawa. Setelah siap diatas meja, ia ke kamar untuk ganti pakaian.
"Nggak jelek-jelek amat kok kamu, Vin." puji Vina pada dirinya sendiri di depan cermin.
Sesaat kemudian Vina terkekeh sendiri dengan kepercayaan dirinya.
"Kalau nggak diri sendiri, siapa lagi, ya 'kaaaaaan?? hihihi."
Vina menyudahi berdiri di depan cermin, ia langsung mengambil tasnya dan langsung keluar kamar. Terlihat pintu balkon masih terbuka sehingga ia langsung kesana untuk berpamitan pada suaminya.
"Tu,-"
Vina langsung menghentikan perkataannya saat melihat Arkha memejamkan matanya sembari menghisap rokok.
"Berangkat saja kalau mau berangkat." ujar Arkha.
"Lho, heh? Tuan kok bisa tau ada saya disini?" tanya Vina heran saat Arkha belum juga membuka mata.
"Saya dengar suara kamu." jawab Arkha.
"Oohhhhhh, hehe."
"Oh ya, Tuan, maaf sebelumnya, apa Tuan tidak berangkat ke kantor?" tanya Vina hati-hati.
"Nanti jam 9." jawab Arkha.
"Ohh, oke, baiklah." jawab Vina langsung balik badan. Tapi, belum sempat ia melangkah, Vina kembali balik badan karena melupakan sesuatu.
"Apa?!" tanya Arkha dingin saat melihat Vina kembali menghadapnya.
Tidak langsung menjawab, Vina malah nyengir dan maju satu langkah.
"Saya berangkat dulu, Tuan." ucap Vina sembari mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Seketika Arkha menatap tangan istrinya itu. Dengan terpaksa dan tanpa menatap, ia menerima uluran tangan Vina.
Vina tersenyum manis dan mencium punggung tangan Arkha beberapa detik.
"Saya berangkat dulu ya, Tuan. Assalamu'alaikum." ucap Vina lagi.
"Wa'alaikumussalam." jawab Arkha singkat sembari menatap udara.
Meskipun hanya sekedar hal-hal sederhana, Vina tetap sumringah, karena itu bisa menjadi bekalnya untuk lebih semangat lagi dalam beraktivitas.
"Lho, motorku dimana?" gumam Vina sembari celingukan.
Senyum yang sedari tadi mengembang, kini berganti wajah panik karena tidak menemukan motor fasilitas dari Arkha itu.
"Gawat gawat gawat!!! Astaghfirullah, ya Allah, dimana inii?"
Vina langsung menarik napas panjang. Ia mencoba untuk menenangkan pikirannya dan mengingat hari kemarin.
"Mbak, yang tadi malam motornya ditinggal di depan, 'kan?" tanya seorang pria yang langsung menyadarkan Vina.
"OH! ASTAGHFIRULLAH...."
Vina langsung menepuk keningnya sendiri karena benar-benar lupa.
"Iya Pak, iya, saya benar-benar lupa, Pak. Ya Allah... terima kasih banyak ya, Pak." ucap Vina.
"Waduuh, untung nggak saya jual." canda petugas keamanan itu.
"Untung saya ketemunya sama orang yang super baik banget kayak Bapak, ehehehehe." balas Vina.
"Sekali lagi terima kasih ya, Pak. Maaf saya buru-buru." ucap Vina sembari memberikan satu lembar merah yang ada disaku celananya.
Meskipun awalnya pria itu menolak karena tau kalau pemberi motor itu adalah Arkha. Tapi, karena Vina terus memaksanya, akhirnya ia menerima.
__ADS_1