Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 46 : Lagi-lagi Dia Modus!


__ADS_3

Vina langsung memejamkan matanya, meskipun rasa kantuknya sudah hilang semenjak Arkha memintanya untuk menemani tidur. Dibenaknya kini sedang membayangkan bagaimana Arkha saat itu. Bagaimana hari-hari pria yang kini sudah menjadi suaminya itu menghadapi seseorang yang dicintainya benar-benar tidak akan bisa menjadi miliknya lagi.


"Tidurlah, jangan membayangkan apapun yang sudah terlewati." ujar Arkha tiba-tiba.


Dengan spontan, Vina langsung membuka matanya.


"Tu-Tuan kok tau kalau saya belum tidur?" tanya Vina gugup.


Arkha tersenyum tipis sembari merebahkan tubuhnya dengan posisi menyamping dan menggunakan satu tangan untuk menopang sisi kepalanya.


"Kamu terlalu kuat memejamkan mata, sampai-sampai alis kamu hampir tempur." ujar Arkha.


Vina langsung membuang pandangannya sembari menutupkan selimut sampai ke wajahnya karena malu.


"Duh! bisa-bisanya nih komuk nggak terkondisikan!" gerutu Vina dalam hati.


Vina kembali membuka selimutnya dengan menatap Arkha yang masih menatapnya sembari tersenyum. Andaikan saja Vina adalah sebuah es batu, ia sudah meleleh melihat senyuman manis dari jarak yang sangat dekat ini.


"Good night, semoga mimpi yang bagus." ucap Vina sembari nyengir.


"Saya belum ngantuk." balas Arkha.


"Hehe," Vina membalas dengan memperlihatkan giginya karena tidak tau harus bagaimana.


Hal yang sama juga dirasakan oleh Vina, namun, meskipun rasa kantuknya sudah hilang, ia tetap mengatakan sudah mengantuk, karena tidak tau apa yang hendak dilakukan, selain mengontrol detak jantungnya yang berdegup kencang.


"Sejak kapan kamu pms?" tanya Arkha yang langsung membuat Vina membuka matanya lagi.


"Ha-hari ini, Tu-Tuan." jawab Vina.


Arkha terkekeh kecil mendengar jawaban Vina yang gugup.


"Masih lama ya." balas Arkha.


"Biasanya satu Minggu." jawab Vina.

__ADS_1


"Tapi, kalau mau megang yang lain, boleh 'kan?" tanya Arkha.


"Boleh." jawab Vina cepat, namun, sedetik kemudian ia langsung menutup mulutnya karena menyadari jawabannya.


"Eh, itu, astaghfirullah."


Vina menepuk keningnya sendiri karena pikirannya sedang tidak fokus. Sedangkan Arkha hanya terkekeh kecil. Tanpa disadarinya, malam ini ia lebih banyak tersenyum bersama Vina meskipun dengan kesederhanaan ini.


"Kita akan mengantuk setelah saling menerima sentuhan ini." bisik Arkha yang membuat Vina merinding.


"Kamu sudah bilang boleh, 'kan?" tagih Arkha.


"Tapi, janji nggak maksa buat masukin itu?!" balas Vina spontan duduk.


"Iya." jawab Arkha.


Arkha menarik napas dalam-dalam sembari ikut duduk kembali. Lalu keduanya saling bertatapan mata. Perlahan kepala Arkha semakin maju, begitu juga dengan Vina. Arkha menahan tengkuk Vina, sementara Vina langsung mengalungkan kedua tangannya di leher Arkha.


Hawa dingin pun berubah menjadi panas ketika permainan semakin memanas. Arkha melepaskan pakaian atasnya dan membuangnya ke sembarang arah, lalu melepaskan milik Vina yang langsung disambut dengan pemandangan tanpa penghalang lagi, seketika senyumnya semakin lebar.


"Baiklah, kali ini saya ingin kamu yang gantian menikmati tubuh saya." balas Arkha.


Vina langsung melotot, karena ia tidak tau harus berbuat apa.


Disaat Vina masih bengong, Arkha mengambil ponselnya dan mencari sesuatu.


"Sepertinya kamu harus mempelajari hal ini lebih dulu." ujar Arkha sembari menyodorkan ponselnya


Vina semakin shock melihat video itu. Ia menatap wajah Arkha yang tampak santai.


"Apakah semua laki-laki suka mengoleksi video seperti itu?" bathin Vina.


"Kita lihat dulu, dan kamu wajib memperhatikan. Karena di video ini khusus buat wanita yang memegang kendali." ajak Arkha sembari merengkuh tubuh Vina supaya pandangan wanita itu tidak dialihkan ke hal lain.


Dengan rasa malu, Vina terpaksa harus memelototi video itu. Sementara Arkha dengan santainya memainkan boba miliknya dengan tangan kiri.

__ADS_1


"Ish! lagi-lagi dia modus!" gerutu Vina dalam hati.


"Kita akan saling membalas pas kamu sudah selesai nanti." ujar Arkha sedikit berbisik.


Vina tidak menjawab, ia mengembalikan ponsel Arkha yang sudah selesai menayangkan sebuah video. Arkha menerimanya dan langsung meletakkan diatas nakas.


"Tapi, jangan menghilang setelah mendapatkan apa yang anda mau." ujar Vina.


Arkha mengangguk.


"Saya sudah siap." bisik Arkha lalu mencium bibir Vina sekilas.


Vina langsung menelan salivanya saat menatap roti sobek milik suaminya. Ia benar-benar masih tidak menyangka akan sedekat ini.


Mengingat apa yang sudah ia tonton sebelumnya, Vina mulai melakukan.


Baru dua puluh menit, Vina sudah mengeluh perutnya sakit, sehingga ia langsung menghentikan.


"Maaf Tuan, perut saya benar-benar sakit." ucap Vina.


Arkha pun langsung tampak khawatir.


"Di bawa ke dokter, biar diperiksa." ujar Arkha.


"TIDAK! TIDAK!"


"Maaf, maksud saya tidak perlu. Ini sakit yang memang wajar kalau lagi seperti ini, Tuan. Kalau sudah tidak sederas hari pertama dan kedua, sakitnya juga nggak seberapa." jelas Vina.


"Maaf karena saya sudah memaksa tanpa mempedulikan kondisi kamu." ucap Arkha.


Vina terharu mendengar ucapan maaf dari Arkha yang terdengar tulus.


Tanpa menjawab dengan suara, Vina hanya tersenyum sembari mengangguk.


Mereka pun akhirnya memutuskan untuk berusaha tidur. Setelah berusaha hampir satu jam, dengan posisi berpelukan membuat keduanya sama-sama terlelap dalam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2