Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 59 : Petunjuk


__ADS_3

Arkha berniat langsung kembali ke apartemen setelah menyelesaikan pekerjaannya. Pulang disaat jam kerja harus berhadapan dengan kemacetan kota.


"Lho? itu Vina? kenapa motornya di dorong?" gumam Arkha yang langsung menajamkan pandangannya saat melihat wanita yang sangat ia kenali tengah mendorong motor di sisi kiri.


Arkha sempat menekan klakson, tetapi ia khawatir membuat pengendara lain terganggu karena Vina sendiripun tidak menoleh. Mungkin Vina juga tidak menyangka kalau suara klakson itu berasal dari mobil Arkha karena jalanan tengah ramai.


Arkha langsung cepat-cepat menepikan mobilnya dan keluar dari mobil dengan buru-buru sebelum kehilangan jejak Vina. Tak lupa ia memberikan isyarat dengan tangannya kepada pengendara lain.


"VINA BERHENTI!" seru Arkha.


Merasa namanya dipanggil, Vina pun langsung menoleh dan mencari sumber suara.


"Tuan Arkha? kok tiba-tiba ada di sini?" tanya Vina saat Arkha sudah berada didekatnya.


"Motornya rusak?" tanya Arkha.


Vina menoleh ke arah motornya lalu kembali menatap Arkha sembari menggelengkan kepala.


"Bukan rusak, tapi, bensinnya habis, hehe." jawab Vina.


"Dimana ada jual BBM?" tanya Arkha.


"Kayaknya pernah lihat ada warung nggak jauh dari sini, kalau ke SPBU, harus putar balik jauh." jawab Vina.


"Biar saya yang bawa." pinta Arkha.


"Eh, jangan Tuan. Biar saya saja." tolak Vina.


"Jangan banyak protes!"


Vina pun dengan terpaksa melepaskan tangannya dari stir motor. Ia khawatir jika ada yang melihat Arkha di sini. Sesuai dengan apa yang ia katakan, mereka tiba di sebuah warung yang juga menjual BBM. Arkha langsung meminta untuk di isi penuh.


"Kamu tunggu di sini, saya ambil mobil dulu." ujar Arkha.


"Baik." jawab Vina.


Sembari menunggu Arkha, Vina membeli es kekinian untuk mengisi tenggorokannya yang kering.


"Bisa-bisa aku jatuh cinta beneran deh kalau kayak gini terus." bathin Vina.


"Oh, sudah ya Kak, terima kasih." ucap Vina lalu menyerahkan uang 10 ribuan setelah menerima satu cup minuman.


Baru sekali Vina menyeruput minumannya, mobil Arkha sudah muncul sehingga Vina cepat-cepat menghidupkan mesin motor.


Karena membawa kendaraan masing-masing, Vina berjalan lebih dulu dan Arkha membuntuti dengan mobilnya di belakang. Jarak tempuh yang sudah tidak jauh membuat mereka tidak memakan waktu yang lama untuk tiba di apartemen.


"Maaf, saya cuma beli satu, hehe." ucap Vina.


Arkha mengangguk kecil lalu menekan tombol nomor untuk apartemen mereka.


"Jangan diulangi lagi, sering-sering di cek kapan harus ganti oli, kapan dicuci." ujar Arkha.

__ADS_1


"Baik Tuan, maaf." ucap Vina.


Vina seperti perempuan lain yang asal pakai kendaraan, sementara untuk perawatannya masih harus diingatkan.


Tiba di apartemen mereka langsung membersihkan badan di kamarnya masing-masing.


Di balkon yang kecil itu, mereka menikmati keindahan sore hari setelah membersihkan badan sembari menikmati jus buah untuk Arkha, sedangkan Vina menghabiskan minuman yang ia beli tadi.


"Vina." panggil Arkha.


"Ha! eh iya?" jawab Vina.


"Kalau seandainya nanti, saya sudah tidak berada di posisi yang sekarang ini, apa kamu masih bisa bertahan?" tanya Arkha.


Vina langsung mengernyitkan keningnya sembari menghentikan seruputannya.


"Maksudnya?"


"Anda sedang ada masalah?" tanya Vina.


Arkha menggeleng kecil lalu menatap Vina.


"Nggak tau, itu hanya seandainya saja. Do'akan ya semoga semuanya baik-baik saja." balas Arkha.


Vina langsung terdiam. Ia meyakini tidak mungkin Arkha berbicara seperti itu tanpa sebab.


"Apapun situasinya, jika bukan kekerasan dalam rumah tangga atau perselingkuhan, saya akan berusaha untuk selalu bertahan, Tuan." ujar Vina.


"Terima kasih, Vina." ucap Arkha.


Tiba-tiba mimpi itu kembali mengingatkan Vina. Masih ada rasa yang mengganjal jika tidak ia bahas.


"Tapi, waktu itu saya mimpi anda bersama dengan wanita di dalam mobil. Bahkan kalian berhubungan badan di sana." ujar Vina.


"Jangan-jangan itu petunjuk?" selidik Vina yang langsung menatap suaminya.


Arkha langsung membalas tatapan mata Vina yang menunjukkan rasa cemburunya itu.


"Iya, itu petunjuk." jawab Arkha santai.


Sementara Vina langsung melotot karena Arkha tidak menunjukkan rasa bersalah.


"Sabaar, mohon jangan emosi dulu." balas Arkha sembari tersenyum santai.


Arkha mulai menjelaskan tentang kejadian malam itu.


"Seperti apa yang kamu bilang, kita tidak boleh berbohong dengan membawa-bawa nama Allah. Dan sekarang saya tegaskan, DEMI ALLAH apa yang saya ceritakan itu benar adanya." Arkha menegaskan.


Vina terdiam, ia langsung membayangkan betapa susahnya mendapatkan restu dari keluarga kaya. Dari penjelasan yang ia dapatkan dari Arkha, Vina langsung membuat kesimpulan bahwa hal itu menjadi titik permasalahan di dalam keluarga tersebut sehingga pertanyaan itu keluar dari mulut Arkha.


"Kalau sampai dalam waktu yang lama, mereka masih sulit untuk memberikan restu dan masih berusaha untuk menjodohkan anda dengan wanita itu, bagaimana?" tanya Vina yang tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa ia khawatir.

__ADS_1


"Saya konsisten dengan apa yang saya katakan." ujar Arkha.


"Tapi, anda nggak konsisten, katanya nggak mau menyentuh saya." balas Vina.


Arkha langsung tertawa lebar.


"Kalau itu sudah beda urusannya." jawab Arkha.


"Yaaa, berarti anda itu nggak konsisten dong orangnya." balas Vina tidak mau kalah.


"Okeee, iya iyaa, saya kalah. Kamu benar-benar pintar ya." balas Arkha.


"Hu'um dong."


.........


"Siap-siap ya, abis ini kita jalan." ajak Arkha setelah mereka selesai shalat Maghrib berjamaah.


"Kemana?" tanya Vina.


"Ya, kemana saja yang penting jalan-jalan." jawab Arkha.


"Oh, iya, baik." jawab Vina.


Mereka melaksanakan shalat Maghrib berjamaah di kamar Vina. Setelah selesai, Arkha masih bertahan di sana sembari melihat Vina masih sibuk memilih mana baju yang akan ia kenakan.


"Boleh saya bantu pilihkan?" tanya Arkha.


"Hehe maaf Tuan, pasti anda pusing ya lihat saya milih."


Arkha tersenyum tipis sembari memilih-milih baju Vina yang masih banyak belum dipakai.


"Pakai ini ya, pasti cocok." ujar Arkha setelah menemukan pakaian yang menurutnya pas.


"Terima kasih.'' ucap Vina sembari menerima.


Setelah keduanya siap, Arkha melajukan mobilnya menuju sebuah resto yang ada di hotel bintang 5.


"Tuan, mau nginap di hotel?" tanya Vina.


"Kalau kamu mau, ayo." balas Arkha.


"Ah, nggak, sayang uangnya." tolak Vina.


"Kita mau makan, masa iya sama perempuan lain makan diluar, sama istrinya sendiri nggak." canda Arkha.


"Soalnya perempuan lain lebih menggoda sih." balas Vina.


"Tapi, tergodanya sama istri sendiri." balas Arkha lalu mencium bibir Vina sekilas sebelum turun dari mobil.


Vina langsung tersenyum lebar, lalu cepat-cepat mengikuti suaminya yang sudah lebih dulu keluar dari mobil.

__ADS_1


"Tuan, jangan pesan yang aneh-aneh dan jangan banyak-banyak ya, lidah saya ini lidah rumahan." bisik Vina.


Arkha mengangguk lalu memanggil pelayan.


__ADS_2