Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 63 : Kamu Bukan Sumber Masalah


__ADS_3

Setelah menyiapkan baju ganti untuk Arkha, Vina beralih ke dapur untuk menyiapkan makan malam suaminya, yaitu buah. Sesekali Vina menoleh ke arah pintu kamar Arkha, ia menarik napas dalam-dalam lalu kembali melanjutkan memotong buah bentuk dadu.


"Nggak mungkin kalau nggak ada apa-apa." tebak Vina.


Di dalam kamar, Arkha baru saja selesai shalat isya. Perlahan ia sudah melaksanakan kewajibannya tanpa harus diajak oleh Vina.


Di atas sajadahnya yang berwarna cokelat itu, Arkha terdiam sejenak setelah menyampaikam do'a-do'anya. Ia mengedarkan pandangannya sembari membuat perhitungan tentang perekonomiannya ke depannya nanti setelah keluarnya ia dari perusahaan ayahnya sendiri.


"Aku harus membuktikan!" gumam Arkha lalu beranjak dari sajadah itu.


Baru selesai Arkha melipat sajadahnya, ia mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Ia tersenyum tipis karena sudah pasti itu dilakukan oleh Vina.


"Kenapa harus ketuk dulu? 'kan bisa langsung masuk." tanya Arkha.


"Takut mengganggu anda, hehe."


"Saya suka kalau kamu ganggu." balas Arkha lalu mengedipkan matanya.


Dengan spontan Vina langsung tertawa geli melihat kedipan mata Arkha.


"Itu sudah siap buahnya." ujar Vina mengalihkan pembahasan.

__ADS_1


"Terima kasih." ucap Arkha.


"Sama-sama." balas Vina.


Pasangan suami istri yang masih belum saling mengungkapkan rasa cinta itu langsung ke dapur untuk makan malam. Mereka menyantap makanan yang berbeda, karena Vina dengan nasi, sedangkan Arkha cukup makan buah.


Tiga puluh menit mereka menikmati makan malam, saat ini keduanya pindah tempat ke balkon kecil.


Detik-detik pertama mereka di sana, tidak ada obrolan apapun. Arkha selalu menatap lurus ke depan sembari menghisap rokok. Sementara Vina sesekali mencuri pandang untuk menerka-nerka apa yang terjadi pada suaminya itu.


"Saya minta maaf." ucap Arkha setelah menyudahi hisapan rokoknya.


"Maaf? untuk apa?" tanya Vina.


"LOH? KENAPA?" tanya Vina terkejut.


"Eh, maaf, Tuan." ucap Vina setelah menyadari caranya tidak terkontrol dengan baik.


Arkha hanya tersenyum tipis.


"Saya sedang tidak baik-baik saja dengan papa dan mama. Dan, saya memilih untuk keluar dari perusahaan." jawab Arkha.

__ADS_1


Vina semakin shock. Ia berpikir, sebesar apapun konflik di keluarga suaminya, perpecahan seperti ini tidak akan pernah terjadi.


"Pasti sumber utama dalam masalah ini gara-gara saya 'kan?" balas Vina sembari tersenyum kecut.


Arkha menggeleng kecil lalu meraih tangan Vina dan menggenggamnya.


"Bukan, kamu bukan sumber masalah. Ini pilihan hidup saya, Vina." balas Arkha memberikan senyuman.


Vina menunduk, ia tidak menyangka suaminya yang merupakan putra satu-satunya harus memilih hidupnya seperti ini.


"Boleh anda ceritakan pada saya apa yang terjadi?" pinta Vina dengan bola matanya yang sudah berkaca-kaca.


"Tentu saja, tidak mungkin saya menutup mulut untuk kamu."


Arkha menceritakan tentang kedua orangtuanya yang berambisi untuk berbesanan dengan temannya yang juga pengusaha sukses. Sudah berkali-kali upaya itu dilakukan, namun, Arkha tetap saja menolak.


"Puncaknya memang pas saya ke sana terakhir itu, mereka sudah merencanakan sedemikian rupa. Tapi, ternyata ada do'a seseorang yang akhirnya saya tidak terperangkap dalam rencana itu." ujar Arkha.


"Maksudnya?" tanya Vina.


Arkha baru saja membuka mulutnya, tiba-tiba ponselnya berdering. Ia menatap layar ponselnya dan menampilkan nama kontak ibunya. Terpaksa Vina harus menahan rasa penasarannya itu.

__ADS_1


"Jawab dulu telponnya, Tuan." suruh Vina yang juga tidak melirik siapa yang menghubungi suaminya itu.


Arkha mengangguk, ia menjawab panggilan masuk itu sembari menatap Vina yang juga menatapnya. Wajah cantik yang sederhana itu menunjukkan kecemasan, dan akhirnya menunduk karena Arkha memberikan senyuman sembari mengusap rambutnya.


__ADS_2