Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 22 : Tidak Sepolos Yang Kamu Kira


__ADS_3

Beberapa jam yang lalu, Arkha sudah memiliki agenda bertemu dengan klien di salah satu restoran yang tidak jauh dari tempat tinggalnya, karena restoran tersebut milik rekan bisnisnya itu.


Arkha baru saja datang bersama asistennya. Tak sengaja, dari kejauhan ia melihat sosok yang mirip istrinya keluar dari suatu tempat dengan membawa plastik yang berisi beberapa cup kopi yang terkenal.


''Mari, Tuan.'' ujar Dicky.


''Bentar.'' balas Arkha. Ia memperhatikan dengan seksama, apakah ia sedang salah melihat karena wanita itu tidak berjalan menghadap ke arahnya.


Disaat ia sedang memperhatikan, wanita yang ia duga sebagai istrinya itu menoleh karena dari arah yang berseberangan, ada seorang laki-laki memanggilnya. Dari situlah ia tidak salah lagi, ia langsung menyimpulkan istrinya itu diam-diam bertemu dengan laki-laki lain.


''Tuan, sudah ditunggu.'' ujar Dicky yang juga menyadari hal itu. Jika ia melihat Arkha yang emosi, ia masih bisa berpikir bahwa pertemuan Vina dengan laki-laki itu tidak bisa langsung disimpulkan sebagai perselingkuhan.


''Kamu lihat itu, ****! tidak sepolos yang kamu kira!'' balas Arkha ketus.


''Hah, saya? saya tidak pernah bilang istri anda wanita polos, Tuan.'' bantah Dicky.


Arkha menoleh tajam, meskipun terhalang kacamata hitam, Dicky tetap bisa melihatnya karena sudah paham.


"Anda bilang bahwa dia tidak penting, bukan? jadi, mari kita fokus pada pekerjaan ini, Tuan.'' ujar Dicky setelah melihat Vina berlalu ke tempatnya bekerja.


Arkha melepaskan kacamata hitamnya lalu membenarkan jas. Keduanya langsung masuk ke dalam restoran itu.

__ADS_1


Lebih dua jam kemudian, Arkha dan Dicky keluar dari restoran tersebut.


Arkha langsung mendidih menatap di seberang sana. Laki-laki tak dikenalinya dan perempuan yang berstatus sebagai istrinya itu tengah berduaan sembari tertawa-tawa ringan seolah tanpa beban.


''Kurang ajar!!'' gumamnya.


Arkha yang sudah tersulut emosi pun langsung pulang ke apartemen terlebih dahulu karena sudah sore. Sementara Dicky juga kembali, mereka membawa mobil masing-masing. Sedangkan pak Yanto saat ini tidak dipekerjakan setiap hari oleh Arkha, lebih tepatnya setelah ia pindah ke apartemen baru.


''Dasar perempuan nggak tau diri! sudah pasti ini alasan dia buat kerja! AARRGGHH !!''


Arkha memukuli setirnya yang tidak bersalah itu. Tak lama kemudian, meskipun dengan emosi, Arkha tiba di apartemen dengan selamat.


Arkha menunggu kepulangan Vina yang seharusnya sudah tiba.


Amarah dan tuduhan itu ia keluarkan dihadapan Vina. Hingga ia semakin emosi saat laki-laki tadi menghubungi Vina. Tanpa memikirkan efeknya, Arkha membanting ponsel sang istri.


''Astaga! benar-benar hancur hp dia!'' bathin Arkha dengan menatap Vina yang tengah memunguti ponselnya.


Arkha langsung keluar dari apartemen tanpa meninggalkan pesan apapun.


Arkha langsung menuju ke toko ponsel. Ia memilih-milih type terbaik. Meskipun emosi, ia masih memiliki sisa rasa bersalah didalam hatinya yang terdalam.

__ADS_1


''Dia bisa marah sampai nantang gue buat bunuh dia?!'' bathinnya sambil terbayang kemarahan Vina.


''Ini saja, bungkus nggak pake lama!'' ujar Arkha.


Bukan hanya membelikan ponsel baru untuk Vina, Arkha juga berinisiatif untuk membelikan makanan cepat saji, karena ia yakin, setelah kejadian tadi, Vina enggan keluar kamar jika bukan karena terpaksa.


''Kenapa gue mau banget sampai kayak gini?'' gumam Arkha memandangi kursi disebelahnya.


''Halah, terserah!''


Setelah hampir satu jam, Arkha langsung kembali ke apartemennya. Ia melihat apartemennya yang sunyi dan sepi, seperti tanpa adanya kehidupan didalamnya.


''Jadi horor gini apartemen gue!'' gumam Arkha. Padahal ia sudah terbiasa untuk hidup sendiri. Tapi, kali ini perasaannya ada yang berbeda.


Arkha melihat ke dapur. Semua masih dalam posisi rapi. Diatas meja makan tak ada makanan yang baru dimasak.


"Benar-benar nggak keluar nih dia.'' gumamnya lagi.


Arkha membuka pintu kamar Vina secara perlahan. Kebetulan Vina lupa untuk menguncinya.


''Kirain kalau lagi emosi lupa sama ibadah.'' bathin Arkha sembari melangkah pelan-pelan.

__ADS_1


Arkha meletakkan paper bag dan plastik ke atas meja. Setelah itu ia langsung keluar dari kamar Vina tanpa menunggu istrinya itu selesai dari shalat.


__ADS_2