
"Re, Reza!" pekik Vina lalu celingukan karena tiba-tiba Reza berdiri didepannya sembari melepas kunci motornya.
"Kamu kemana saja, Vin?"
"Kenapa nomor kamu nggak bisa dihubungi lagi?"
"Apa majikan kamu yang melakukan penyiksaan yang kamu sembunyikan?"
"Kalau iya, kamu harus pergi sekarang, Vin! aku akan bantu kamu."
Vina melepaskan helmnya sembari turun dari motor.
"Maaf Za, aku nggak bisa pergi dari tempatku sekarang." ucap Vina.
"Sampai kapanpun itu." sambungnya.
"Kenapa?" tanya Reza khawatir.
"Aku nggak bisa jelasinnya, Za, sorry. Tapi, aku sudah terkontrak yang harus berhubungan dengan anak kecil, dimana dia yatim piatu."
Reza mengernyitkan keningnya, menurutnya jawaban dari Vina tidak masuk akal.
"Itu alibi kamu buat menghindari aku, Vin?"
Vina yang baru saja menarik napas dalam-dalam dan hendak menjawab, tiba-tiba matanya terbelalak saat melihat Arkha yang tiba-tiba muncul dengan kacamata hitam dan menatapnya. Vina yakin, didalam kacamata itu, Arkha pasti menatapnya dengan tajam dan ingin menerkamnya.
Vina tidak bisa berkata-kata lagi, tetapi Arkha juga tidak menegurnya. Pria itu langsung masuk ke dalam tempat kerja Vina.
"Kembalikan kunci motorku!" pinta Vina sembari menyodorkan tangannya pada Reza, sementara matanya fokus pada Arkha.
"Berikan nomor hpmu yang baru." jawab Reza.
__ADS_1
"Ya Allah.. aku nggak bisa, Za. Maaf banget, kali ini aku nggak bisa. Tolonglah! aku harus kerja, itu ada orang datang!''
Pikiran Vina sudah menerka-nerka ke arah yang jauh mengenai kedatangan Arkha ke tempatnya bekerja.
"Tapi, kamu harus janji kita ketemu lagi." pinta Reza.
"Iya! cepetan!" jawab Vina semakin panik, bahkan keringat dinginnya sudah keluar.
Saat Reza hendak mengembalikan kunci motornya itu, Vina langsung merebutnya.
"Kamu harus cepat pergi dari sini, Za!" usir Vina tanpa menunggu jawaban dari temannya itu karena ia langsung buru-buru masuk.
Vina masih tidak habis pikir dengan kedatangan Arkha yang tiba-tiba ini. Apalagi saat ia memperhitungkan dengan waktunya ketika berangkat dan saat itu Arkha sedang memakai celana kolor. Bahkan ditempatnya bekerja baru saja dibuka ketika ia baru datang.
"Maaf Kak, tiba-tiba ada teman." ucap Vina lirih sembari melirik Arkha yang duduk di sofa.
"Oke." jawab wanita itu.
Hal pertama yang Vina lakukan adalah mengecek daftar pesanan yang baru masuk kemarin dan juga pesanan yang sedang tahap pengerjaan.
Namun, rasanya kali ini sangat berbeda. Ia menyembunyikan rasa takut dan gugupnya. Sesekali ia melirik Arkha yang sedang berbicara dengan seniornya. Seniornya yang bernama Listy itu tampak sedang menjelaskan sembari menunjukkan buku yang berisi contoh-contoh karya dari galeri ini.
"Kira-kira bisa selesai kapan? nanti sore?" tanya Arkha yang langsung membuat senior Vina melotot.
"Kenapa? keberatan?" tanya Arkha.
"Apakah ini sangat-sangat urgent, Tuan? karena untuk ukurannya sangat besar."
"Tapi, akan kami usahakan untuk selesai tepat waktu sesuai dengan permintaan anda." sambungnya karena ia tau bahwa Arkha merupakan teman bosnya. Namun, saat Arkha datang mengantarkan izin Vina, ia tidak melihatnya.
"Baik, jam setengah 4 saya ambil." ujar Arkha.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Arkha langsung beranjak dari sofa yang diikuti oleh senior Vina.
"Ini bonus untuk kalian, beli makanan yang enak dan bergizi supaya temanmu itu tidak kurus seperti kurang gizi." ujar Arkha sembari melirik Vina.
Vina dan beberapa lainnya langsung menoleh karena mendengar suara Arkha yang sepertinya sengaja ia keraskan. Sementara seniornya yang berhadapan dengan Arkha hanya bisa mengangguk karena diantara mereka yang paling kecil memang hanyalah Vina. Walaupun sebenarnya Vina tidak terlalu kurus seperti yang dikatakan oleh Arkha.
"Kurang asem ngatain istrinya kurang gizi!" bathin Vina kesal.
Arkha kembali mengenakan kacamata hitamnya sembari keluar dari tempat itu. Ia langsung masuk ke dalam mobil dan menuju ke kantor.
"Masih beraninya dia diam-diam bertemu dengan laki-laki itu!" gumam Arkha sembari memukul stir mobil.
Sementara itu, senior Vina langsung menginformasikan kepada yang lain untuk mengerjakan pesanan Arkha terlebih dahulu karena harus jadi sore hari ini.
"Mana dia mintanya yang model lain, nggak mau bikin yang sudah ada contohnya." ujar Listy yang terpaksa harus mengeluh, tetapi ia tidak berani menolak.
"So sweet banget ya, ini pasti buat pacarnya sampai minta dibuatkan desain model lain." jawab yang lain.
Vina yang masih menyimak hanya bisa nyengir getir.
"Selamat kalau memang anda sudah bisa jatuh cinta yang sesungguhnya." bathin Vina.
Listy memperhatikan Vina yang tiba-tiba melamun.
"Kamu tersinggung ya dibilang kurang gizi?" tanyanya.
"Nggak kok, Kak, santai aja. Aku lagi mikirin gimana menyelesaikan pesanan ini dengan cepat dan tepat." jawab Vina beralasan.
"Astagaaa!! ayo kita mulai pekerjaan ini!" seru Listy yang hampir membuang waktunya.
__ADS_1