
Meskipun dalam keadaan mabuk berat, Arkha masih tetap memiliki tenaga yang kuat. Sekuat tenaga Vina untuk melepaskan diri, tangan Arkha masih sulit ia lepaskan. Sementara dipikiran dan hatinya sudah ingin mengomel karena situasi sedang tidak tepat.
"Apa aku cinta, ha?"
Hahahaha
"Cinta?"
"Ckckckck! aku nggak percaya lagi apa itu cinta. Aku hanya tau menikmati tubuh yang menggodaku, hahaha"
Arkha terus berbicara semakin tidak terkontrol. Di saat yang bersamaan, tangannya dengan cepat mencengkram dagu Vina dan menyatukan bibir mereka.
PLAK!
Vina yang dibuat terkejut itupun langsung menampar pipi Arkha. Meskipun sesaat kemudian ia sangat menyesali apa yang baru saja ia lakukan.
Dokter Zayn menatap dua orang itu dengan kedua matanya yang terbelalak, ia semakin pusing karena terus menerus bertambah daftar pertanyaan di dalam benaknya. Saat melihat Arkha tiba-tiba menarik lengan Vina, dan tak lama kemudian menciumnya membuatnya hampir pingsan.
"Ma-maaf, Tuan." ucap Vina yang berhasil melepaskan diri, namun merasa bersalah karena sudah berani menamparnya.
Bukannya marah, Arkha justru tertawa sembari memegangi pipinya.
__ADS_1
"Kamu menamparku, sayang? haha."
"Apa kamu ku-,"
Belum selesai Arkha melanjutkan kalimatnya, Vina yang semakin geram dan waspada dengan kata-kata Arkha selanjutnya itu tanpa pikir panjang langsung membungkam mulut Arkha dengan telapak tangannya. Arkha masih tertawa-tawa tidak jelas.
"Dokter, tolong bantu saya untuk menyadarkan tuan Arkha, ya. Dia benar-benar sudah dalam kondisi mabuk berat, saya takut kenapa-kenapa." pinta Vina tanpa melepaskan bungkaman tangannya itu.
Dokter yang tiba-tiba seperti menjadi manusia tak berpendidikan karena plonga plongo itupun langsung mengiyakan dengan anggukan kepala. Sedari tadi ia masih sangat shock dengan pemandangan malam ini.
"Baik, saya bantu." jawab dokter Zayn.
Arkha masih berbicara yang tak terarah, sesekali diiringi gelak tawa.
Pukul 02.45 dinihari, dokter Zayn akhirnya pamit setelah memastikan kondisi aman. Arkha sudah terlelap setelah drama yang ia perbuat sendiri.
"Terima kasih banyak, Dok." ucap Vina.
"Tapi, sekali lagi saya mohon, tolong jangan berpikir yang tidak-tidak tentang kami, ya. Kami hanya antara majikan dan pembantu. Tuan Arkha hanya sedang tidak sadar saja." sambungnya, karena ia benar-benar khawatir.
Dokter Zayn mengangguk.
__ADS_1
"Baik, hati-hati dirumah ya, Mbak. Kalau Mbaknya sudah cukup lama bersama Arkha, pasti sudah paham." jawabnya.
"Iya, Dok." jawab Vina.
Setelah dokter itu meninggalkan apartemen Arkha, Vina tidak tau harus berbuat apa setelah ini. Karena pikirannya sedang kacau memikirkan bagaimana respon Arkha nantinya setelah sadar, ditambah dengan adanya pihak lagi dalam kejadian ini.
Vina duduk di sofa ruang tamu sembari menyandarkan kepalanya dan menatap ke langit-langit.
"Aku benar-benar nggak tau harus gimana. Ku pikir rasa cinta itu akan tumbuh setelah kejadian itu, apalagi dia sendiri yang bilang akan bertanggungjawab atas apa yang terjadi setelah itu. Ternyata, malah aku membuktikan sendiri kalau jangan mudah percaya dengan janji manis apapun dari mulut manusia." gumam Vina.
Vina beranjak ke kamar Arkha untuk melihat kembali apakah suaminya itu sudah benar-benar tidur dengan nyenyak.
"Astaghfirullah, ternyata belum tak pakaikan selimut."
Vina langsung mempercepat langkahnya dan menarik selimut tebal itu sampai menutupi dada Arkha. Ia tak langsung keluar karena ingin menatap suaminya itu lebih dalam dari samping.
"Semoga nakalmu ini yang terakhir ya, Tuan ... jangan pernah membuat rugi diri kamu sendiri nantinya. Kamu nggak akan pernah tahu apa yang akan terjadi setelah kesadaranmu hilang."
"Bukan mau berburuk sangka, tapi, kadang-kadang kejahatan itu muncul karena adanya kesempatan."
Vina mengusap kening Arkha dengan lembut. Tiba-tiba ia teringat saat tidur malam dan ibunya mengontrol apakah anaknya itu benar-benar sudah tidur atau belum. Vina kecil kerap pura-pura tidur saat mendengar langkah kaki menuju kamarnya. Ia yang belum tidur pun merasakan ibunya mengusap keningnya, dan memakaikan selimut yang sering tidak ia gunakan karena merasa tidak nyaman.
__ADS_1
"Tidur yang nyenyak, suamiku." ucap Vina lalu mencium kening Arkha sebelum keluar dari kamarnya.