
Vina sedang istirahat sembari makan siang setelah shalat dzuhur. Namun, rasanya nafsu makannya sedang tidak baik-baik saja karena sedari tadi belum ada kabar dari suaminya.
Jangankan kabar terbaru, pesan yang ia kirimkan tadi pagi pun belum ada tanda dibaca oleh pemilik nomor. Berkali-kali Vina membuka percakapannya dengan Arkha, ia kembali menarik napas panjang untuk berpikir positif.
"Woy, Vina!"
"Eh, Kak." balas Vina langsung tersadar.
"Jangan ngelamun aja, kapan makannya?"
"Hehe iya Kak, maaf." ucap Vina.
"Lah, jangan minta maaf sama kita, minta maaf tuh sama nasi." balas teman Vina dengan nada candaan.
Dengan polosnya Vina menatap wadah bekalnya.
"Nasi, maafkan aku ya." ucap Vina dengan wajah memelas.
Seketika teman Vina pun langsung nyengir sembari menggelengkan kepalanya.
"Agak laen nih bocah." gumamnya lalu meninggalkan Vina.
Sementara itu, Arkha masih memijat keningnya sendiri karena sedang terasa berat. Ia memikirkan kejadian semalam ketika mengantarkan Rachel.
"Untung saja tidak sampai terjadi yang macam-macam." gumamnya.
Kejadian tak terduga sudah diantisipasi oleh Arkha. Karena ia sudah memahami tentang rencana orangtuanya dan orangtua Rachel, yang tentu saja sudah dalam persetujuan perempuan itu. Arkha sangat mewaspadai aksi nekat dari Rachel itu sendiri ketika upaya halus sudah ia tolak.
Arkha tidaklah tinggal diam, setelah selesai menghubungi Vina di toilet, ia menghubungi seseorang untuk menunggunya sampai keluar dari resto tempat ia dan Rachel bersama. Ia meminta seseorang itu untuk mengikutinya kemanapun mobil yang ia kendarai itu melaju.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan kesempatan ini kalau memang kamu masih berharap!"
Pesan itu yang Arkha tegaskan untuk seseorang yang ia hubungi.
Begitu tiba di tempat tujuan, Arkha yang meminta Rachel untuk segera turun pun ditolak oleh wanita itu. Rachel justru menahan lengannya yang hendak keluar, namun, pandangan keduanya langsung teralihkan saat ada sorot lampu dari depan dan membuat keduanya silau. Perlahan tangan Rachel melemas saat melihat sosok pria yang tengah berdiri di depan mobil Arkha. Kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Arkha, ia langsung cepat keluar dari mobil.
"Marvin!" pekik Rachel.
Arkha yang sudah lebih dulu berada diluar mobil pun langsung mendekati pria itu.
"Sudah ku bantu, terserah apa yang terjadi setelah ini. Yang penting jangan bunuh dia!" ujar Arkha.
"Terima kasih." ucap pria itu.
Arkha mendekati pintu mobil dan langsung membuka lebar. Rachel masih bengong karena pertemuan dengan mantan kekasihnya itu begitu diluar dugaannya.
"Arkha, apa ini maksudnya?!" tanya Rachel setelah menyadarinya.
Arkha hanya menaikkan kedua bahunya dengan santai.
"Tanya saja sama dia." jawab Arkha enteng dan langsung masuk ke dalam mobil.
"Kamu tega, Ar!" seru Rachel. Namun, Arkha tidak peduli.
Arkha menarik napas panjang, ia memikirkan konsekuensi yang akan ia terima nantinya. Resiko terburuk tentu saja kehilangan semua fasilitas dan ia harus memulai hidup dari bawah.
.........
Vina tertidur ketika masih menonton drama, headset pun masih terpasang dan layar ponselnya masih menyala.
__ADS_1
Bibir itu tersenyum tipis melihat wanitanya sudah tidur nyenyak. Ia langsung melepaskan headset itu dengan hati-hati agar tidak mengganggu.
"Maaf hari ini aku tidak memberimu kabar." lirihnya sembari mendaratkan kecupan di kening Vina.
Setelah mendapatkan kecupan, Vina menggeliat sampai selimutnya itu merosot.
Jiwa laki-laki Arkha langsung bergetar saat melihat istrinya itu hanya mengenakan daster berbahan kaos dan hanya mengenakan underwear segitiga berwarna biru tanpa tambahan celana.
Arkha sudah tiba di apartemen tiga puluh menit yang lalu. Ia tidak mendapati istrinya di luar kamar, apalagi dikamarnya. Ia langsung membersihkan badannya sebelum menemui sang istri untuk memberikan kejutan. Namun, ternyata Vina sudah tertidur.
Arkha hendak melakukan aksi untuk mencuri-curi kesempatan, tapi, ia teringat saat berangkat Vina masih dalam keadaan datang bulan.
"Masih apa sudah ya?" bathin Arkha.
Karena cahaya di kamar Vina masih terang, Arkha langsung tersenyum lebar ketika melihat tumpukan lipatan sajadah dan mukena yang ada di atas sandaran sofa.
"Waktu yang tepat." gumam Arkha sembari naik ke atas ranjang setelah meletakkan ponsel Vina ke atas nakas.
Vina merasa langkahnya berat, seperti ada yang menahan tubuhnya dari belakang. Ia sudah berusaha berlari, tapi, pertahanan itu jauh lebih kuat darinya.
Tak lama kemudian, Vina membuka matanya perlahan, ia tersadar dari mimpi. Namun, ia sekarang terkejut dengan kenyataan bahwa ada tangan yang sudah berada didalam bajunya sembari memainkan bukit kembarnya.
Seketika mata Vina langsung terbelalak dan menyikut seseorang yang dibelakangnya itu dengan kuat.
"Aww!"
"MALING!!" seru Vina sembari lompat turun dari ranjang.
"TUAN ARKHA!" pekik Vina terkejut melihat suaminya ada di sana.
__ADS_1