Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 6 : Dasar Bocil


__ADS_3

''Terima kasih sudah ajak Bapak sama Ibu makan di restoran yang bagus, ini pertama kalinya lho, hehe.'' ucap bapak jujur pada Arkha.


Arkha mengangguk.


''Kapanpun Bapak sama Ibu mau liburan kemari, bilang saja ya, tidak perlu sungkan.'' ujar Arkha dengan nada dan senyum yang meyakinkan.


Vina langsung melirik dan berdesis pelan.


''Pasti dalam hati dan pikirannya juga kebalikan dari apa yang dia katakan itu.'' bathin Vina.


''Kalau gitu kita duluan ya, kasian Mikhael sepertinya sudah ngantuk.'' pamit Arkha.


''Oh, iya-iya, sekali lagi terima kasih ya.'' ucap Dewi.


"Sama-sama Bu, maaf sudah merepotkan beberapa hari ini.'' balas Arkha.


"Tidak merepotkan, kamu juga anak saya, Ar." balas Dewi.


Arkha membalas dengan senyum dan anggukan kecil.


Mikha sudah tidak banyak bicara, ia sudah kekenyangan sehingga membuat matanya terasa sangat berat, apalagi ini sudah lebih dari jam setengah 10 malam. Ia pun hanya mengangguk setuju saat Arkha mengajaknya pulang ke apartemen.


Keluarga itupun berpisah, keluarga Dewi dan keluarga Vina kembali ke rumah Dewi, sementara Arkha, Vina, dan Mikha kembali ke apartemen.


Benar saja, saat masih di perjalanan menuju apartemen, Mikhael sudah terlelap tidur. Vina menopang kepala Mikha agar tidak membentur kaca mobil.


Beberapa menit perjalanan mereka tiba di apartemen, seperti yang pernah terjadi sebelumnya, Arkha turun lebih dulu untuk mengambil alih Mikha, karena ia tau sudah pasti Vina tidak kuat menggendong Mikha yang semakin berat itu.


''Kamu bawa keperluan Mikha.'' suruh Arkha.

__ADS_1


''Baik.'' jawab Vina sembari mengangguk.


Vina langsung sigap mengambil dua tas milik Mikha yang berada di kursi belakang. Setelah itu, Arkha mengunci mobil.


Vina berjalan di belakang Arkha, ia tidak berani berbicara satu katapun pada pria yang sudah sah menjadi suaminya itu. Berkali-kali ia menarik napas panjang. Waktu menuju tempat tinggal mereka terasa begitu lama karena tidak ada obrolan sama sekali.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai.


''Buka pintu kamarmu.'' suruh Arkha.


''Baik.'' jawab Vina.


Vina langsung bergegas membuka pintu kamar dengan lebar, Arkha pun langsung masuk dan menurunkan tubuh Mikha di atas ranjang. Setelah itu, ia meregangkan otot-otot tangannya.


''Walaupun rajin olahraga dan tampak berotot, ternyata tetap keberatan juga, xixixi.'' bathin Vina cekikikan sendiri.


Vina langsung menyalakan lampu dan juga menghidupkan pendingin ruangan karena tentu saja hal itu sudah hal wajib bagi mereka.


''Oh, iya Tuan, baik.'' jawab Vina.


Arkha langsung meninggalkan kamar tersebut tanpa permisi. Vina menatap kepergian suaminya itu dengan hati yang sedih.


''Aku belum bisa berpikir jernih. Masih terlalu dini untuk memikirkan cara bagaimana membuat dia bisa menerimaku menjadi istri sungguhannya.'' gumam Vina lalu berjalan menuju pintu yang masih terbuka.


Vina menuju ke kamar mandi setelah menutup pintu kamar. Ia akan membersihkan wajahnya sebelum tidur, selain itu juga, ia belum melaksanakan shalat Isya karena ia keluar sebelum waktu Isya.


Pukul 22.45 WIB, Vina ikut merebahkan tubuhnya di sebelah Mikha.


''Benarkah kamu sekarang adalah anakku, Mikha?'' gumamnya.

__ADS_1


''Mikha anaknya Mama Vina?''


Vina menatap wajah polos Mikha yang tidur nyenyak dengan perasaan yang campur aduk. Percaya atau tidak, semua itu memang masih membutuhkan waktu agar terbiasa.


Vina langsung terdiam dan mengunci bibirnya rapat-rapat saat Mikha menggeliat untuk menghadapnya.


Sementara itu di kamar Arkha, pria itu masih terjaga. Ponselnya sejak tadi sudah sangat berisik.


''Sialan berisik terus!'' seru Arkha yang langsung mengubah mode ponselnya agar tidak bisa menerima notifikasi masuk.


Arkha pindah ke kursi kerjanya, ia kepikiran Mikha sejak tadi.


''Mikha sudah kebangun apa belum ya?'' gumam Arkha.


''Dih! ngapain malah kebayang anak kampung itu!" gerutu Arkha saat wajah Vina muncul.


Arkha melirik jam yang sudah semakin larut, ia ingin keluar dan berkumpul bersama teman-temannya, tetapi ia juga khawatir Mikha akan memergokinya.


''Oh s*tan! bisakah kau jangan pengaruhiku dulu!!'' seru Arkha.


Memang sangat sulit untuk menghilangkan kebiasaan. Arkha pun dibuat mondar mandir di dalam apartemennya itu. Perdebatan antara bathin dan pikirannya sendiri semakin menjadi-jadi.


Arkha memutuskan untuk keluar dari kamar, ia ingin melihat keadaan Mikha apakah sudah benar-benar tidur atau belum. Ia pun berjalan dengan sedikit mengendap-endap.


''Dikunci nggak ya?'' gumam Arkha.


Ceklek


Pintu tersebut ternyata tidak di kunci, Arkha langsung membukanya pelan-pelan agar tidak membangunkan penghuni kamar tersebut, terutama Mikhael.

__ADS_1


Arkha tidak bisa mendekat, ia melihat Vina dan Mikha yang begitu mesra karena posisi tidur mereka saling berpelukan.


''Dasar bocil tau aja mana yang empuk!'' gerutu Arkha.


__ADS_2