
Pria itu merupakan salah satu teman dari mendiang kakaknya Arkha. Keluarga mereka juga sudah saling mengenal dan tentunya karena bisnis.
Arkha pun mulai menceritakan titik permasalahan yang terjadi di dalam keluarganya pada penerus Raymond group itu. Edgar Raymond, atau yang biasa dipanggil Edgar itu menyimak dengan baik setiap pembicaraan yang disampaikan oleh Arkha.
"Apa kamu benar-benar nggak mau menikah, Ar?" tanyanya setelah Arkha berhenti bicara.
"Emm, sebenarnya, aku ... aku sudah menikah, Bang." jawab Arkha.
"WHAT? kapan?!" kejutnya.
"Maksudku kenapa nggak ada kabar sama sekali perihal pernikahanmu itu?" sambungnya masih dengan mimik wajah yang terkejut.
"Memang nggak ada perayaan apapun, Bang. Semua itu serba terpaksa karena Mikhael yang memaksa, bahkan mengancam untuk bunuh diri. Mikhael maunya hanya istriku itu yang jadi mamanya." jelas Arkha.
Edgar menggelengkan kepalanya heran dan juga penasaran dengan pernyataan yang disampaikan oleh Arkha mengenai anak kecil itu.
"Bentar, bentar, siapa perempuan itu sampai bisa membuat Mikhael nggak mau orang lain?"
"Pengasuhnya dulu, Bang." jawab Arkha.
Edgar manggut-manggut kecil sembari teringat pertemuan-pertemuan dulu dengan Mikhael bersama kedua orangtuanya saat masih ada, yang tentunya kerapkali ada Vina.
"Oh, ya-ya, aku masih ingat dengan perempuan itu." balas Edgar.
"Sudah lama kalian menikah?" tanya Edgar penasaran.
__ADS_1
"Belum Bang, setengah tahun aja belum ada." jawab Arkha.
Kedua pria itu kembali melanjutkan pembicaraan yang lebih serius. Arkha berniat untuk menjual apartemen mewahnya itu dan membeli yang lebih murah untuk ia tempati bersama keluarga kecilnya. Ia yang sudah terbiasa tinggal di apartemen merasa tidak nyaman saat membayangkan untuk tinggal di perumahan biasa. Selain apartemen, Arkha juga berniat untuk menjual mobilnya dan mengganti dibawah harga itu.
Bagi Arkha saat ini, ia harus memutar otak untuk menambah nominal di tabungannya. Karena dalam hal jual beli tentu saja tidak semuanya langsung jadi. Kalaupun langsung mendapatkan pembeli yang cocok, itu semua karena sudah rezeki.
"Begini Ar, kapan-kapan, ya atur waktu dulu, kita datangi lokasi yang masih kamu bangun itu. Sayang sekali kalau harus mangkrak, jadi kita urus itu dulu ya." ujar Edgar memberi saran.
"Serius, Bang?" balas Arkha antusias.
"Ya, yang penting kamu nggak menggunakan uangmu untuk mabok, apalagi sampai main perempuan lagi." balas Edgar lalu tertawa kecil.
"Astaghfirullah, nggak Bang, nggaaak, sumpah demi Allah sudah taubat." ujar Arkha.
"Tapi, Bang, minggu depan aku mau pulang ke kampung istriku, katanya sih ada acara di keluarganya." ujar Arkha.
"Kalau gitu, setelah kamu pulang dari kampung saja, lagian besok aku mau ke luar negeri sama istri dan anak-anak juga."
"Anggap saja ini waktu untuk kamu berbenah dan memahami keluarga, Ar." sambung Edgar.
"Terima kasih banyak, Bang, terutama sudah meluangkan waktu untuk bertemu ditengah kesibukan yang pastinya luar biasa." ucap Arkha.
Edgar menepuk-nepuk pundak Arkha.
"Aku balik ke kantor dulu." ujar Edgar berpamitan.
__ADS_1
"Sekali lagi terima kasih, Bang." ucap Arkha ikut berdiri.
Akhirnya mereka berpisah setelah selesai membicarakan tentang permasalahan yang terjadi di keluarga Arkha. Arkha pun menjadi lebih lega, setidaknya ada harapan.
Arkha berhenti di samping mobilnya, ia memperhatikan kendaraan kesayangannya itu. Dibenaknya sangat menyayanginya dan sayang untuk dijual. Tetapi, hidupnya sekarang membutuhkan pengorbanan yang lebih, terutama materi.
Setelah bertemu dengan Edgar, Arkha menuju ke supermarket. Ia berniat untuk belanja keperluan rumah. Tetapi, saat tiba diparkiran, Arkha tidak langsung turun, ia menyandarkan kepalanya sembari memejamkan mata. Lama kelamaan, rasa kantuk itu mulai menyerang.
Beberapa jam kemudian
Arkha bangun dengan terkejut, ia langsung menegakkan posisi duduknya.
"Bisa-bisanya tidur di sini! jam berapa sekarang?!" pekik Arkha langsung mencari ponsel.
"Gil4 gil4 gil4!"
Arkha langsung menghubungi sang istri yang sudah mengirimkan pesan padanya 15 menit yang lalu.
"Jangan kemana-mana, ini lagi di jalan!" ujar Arkha.
"Iya, saya tunggu sambil beli es." jawab Vina santai.
"Es lagi, es lagi!" gerutu Arkha sembari meletakkan ponselnya di kursi sebelah.
Dengan kecepatan tinggi, Arkha langsung menuju ke tempat Vina bekerja. Niat untuk belanja pun terpaksa ia tunda, karena yang terjadi malah numpang tidur diparkiran supermarket.
__ADS_1