
Meeting hari ini di mulai pukul 13.30 WIB di kantor. Arkha memimpin langsung meeting yang membahas tentang kerjasama dengan pihak asing. Namun, kali ini diwakili oleh wakil CEO dari cabang perusahaan yang ada di Indonesia.
Hari ini merupakan meeting kedua, masih belum menemukan keputusan karena masih ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan.
Sementara di tempat Vina bekerja, mereka sedang makan siang bersama. Vina yang sudah membawa bekal pun memilih untuk dipesankan makanan yang berupa cemilan saja.
"Cakep banget ya tuan Arkha." ujar Mala.
"Emang." jawab Listy setuju.
"Sayangnya nggak tertarik sama kita, hahahaha." timpal Elvy.
Vina yang merasa sebagai istri Arkha dan sudah pernah disentuh, bahkan mendapatkan fasilitas itupun hanya bisa nyengir.
"Vin, kamu baik-baik aja 'kan?" tanya Listy saat menyadari Vina tidak ikut menimpali dengan bahasan ini.
"Alhamdulillah Kak, ehehehe." jawab Vina.
"Kamu masih tersinggung ya dibilang kurang gizi sama tuan Arkha?" tanya Elvy.
__ADS_1
"Nggak kok Kak, sudah biasa." jawab Vina yang langsung berhenti mengunyah sembari menatap seniornya itu.
"Maksudnya sudah biasa dibilang kurang gizi sama orang-orang. Dulu, waktu di kampung, waktu masih sekolah. Jadi, sudah biasa kok Kak." sambung Vina yang tiba-tiba deg-degan karena takut seniornya itu curiga.
"Ya Allah ... Maafkan hamba-Mu yang hampir keceplosan ini." bathin Vina.
"Yaaa, lagian nggak mungkin juga kalau kamu biasa diledek gitu sama tuan Arkha. Masa iya tuan Arkha tinggal di kampung sih, xixixi." balas Mala lalu menyantap makanannya.
"Iya Kak, nggak mungkin." jawab Vina lebih lega meskipun ada rasa tersinggung dengan suara tawa para seniornya itu.
"Bisa kejang-kejang nih mereka pada kalau tau si tuan Arkha adalah suamiku." bathin Vina.
Tepat pukul 15.00 wib, meeting hari ini sudah selesai. Arkha dan Dicky pun melanjutkan pembahasan ini yang tentunya terhubung dengan Leonardo.
"Aku duluan ya ****, ada perlu." ujar Arkha yang langsung buru-buru membereskan perlengkapan kerjanya setelah selesai meeting dengan Dicky dan ayahnya.
"Baik Tuan." jawab Dicky yang sebenarnya penasaran.
Meeting sudah selesai, Arkha sudah membereskan meja kerjanya dan ia pastikan tidak ada yang tertinggal. Ia segera buru-buru ke mobil.
__ADS_1
"Sudah hampir jam 4, semoga dia belum pulang." ujar Arkha sembari menunggu kendaraan lain yang sedang melaju kencang.
Mengingat sebentar lagi akan berada di jam macet, Arkha mempercepat laju mobilnya agar tidak terjebak kemacetan.
"Permisi." ucap Arkha setelah tiba di tempat tujuan.
"Silahkan masuk, Tuan." jawab Mala yang membukakan pintu kaca itu.
Arkha melepaskan kacamata hitamnya dan semakin membuat Mala meleleh. Sementara Vina hanya sesekali melirik suaminya itu.
"Andaikan aku yang dapat hadiah itu." bathin Vina.
Elvy hendak membantu membawakan pesanan Arkha ke mobil. Tetapi Arkha mengangkat tangan tanda menolak.
"Biarkan dia yang bantu, dari tadi saya lihat dia malah diam saja. Suruh dia kerja lebih keras lagi, bukannya malah melamun." ujar Arkha sembari menunjuk pada Vina.
Listy, Elvy, dan Mala langsung menatap Vina. Meskipun mereka tidak setuju dengan apa yang dituduhkan Arkha pada juniornya itu, karena Vina merupakan anak baru yang memiliki semangat tinggi untuk terus belajar. Tapi, ia merasakan bibirnya terkunci sehingga tidak ada yang membela Vina.
Gadis itu pun juga menatap seniornya yang memberi kode sebuah anggukan kepala. Lalu kemudian ia mendekati pesanan Arkha yang sudah siap diatas meja.
__ADS_1
Arkha terlihat menyunggingkan sudut bibirnya melihat Vina yang menyembunyikan rasa kesalnya itu.