Dunia Pernikahan Arkha & Ervina

Dunia Pernikahan Arkha & Ervina
Part 64 : Menjadi Suami Pengangguran


__ADS_3

Arkha langsung berdiri di ujung balkon itu. Ia tidak menambah volume suara ponselnya sehingga Vina tidak mendengar dan juga tidak tau siapa yang menghubungi suaminya itu. Namun, dari ekspresi wajahnya sudah menunjukkan bukan percakapan yang santai. Arkha terlihat mengusap wajahnya dengan kasar lalu menekan pelipisnya.


"Siapa? apa yang dibicarakan sama orang itu?" bathin Vina.


Suara angin dan juga kendaraan di jalan raya semakin membuat Vina tidak mendengar pembicaraan itu, apalagi suaminya belum merespon sama sekali, kecuali dengan ekspresi.


Arkha langsung mengusap wajahnya dengan kasar saat Lidya berbicara yang semakin ingin menang sendiri.


"Mama masih nggak yakin kalau kamu benar-benar menjalani pernikahan sama anak kampung itu, Arkha!"


"Sekarang begini saja, kalau sampai Mikhael lulus dan dia belum hamil, berarti dugaan Mama benar. Daaan, setelah itu, kamu harus menceraikan dia tanpa tapi!" tegas Lidya.


Arkha menarik napas kasar.


"Ma, Mama pikir semua itu kita yang nentukan? semua itu sudah diatur sama yang di atas! jangan bikin Arkha makin stress dong!" balas Arkha dengan suara pelan, tetapi ia tekankan.


"Ma?" gumam Vina.


Vina langsung menarik napas panjang saat mengetahui yang menghubungi suaminya adalah Lidya. Ia hanya bisa pasrah dengan keadaan yang ia hadapi.


Di sana Lidya tersenyum licik, ia dihubungi oleh suaminya mengenai Arkha yang benar-benar memilih untuk hengkang dari perusahaan. Lidya begitu yakin, Arkha tidak mungkin mengharapkan memiliki anak, apalagi bersama Vina. Wanita paruh baya itu langsung mendapatkan ide yang menurutnya akan berhasil nantinya.


"Ya sudah, sekarang Mama dan papa lepaskan kamu, sampai mana kamu mampu berjalan tanpa fasilitas yang selama ini kamu dapatkan dari perusahaan!" tutup Lidya.


Tanpa menunggu jawaban dari putranya, Lidya langsung menyudahi panggilan itu sembari tertawa.


Sementara itu, Arkha menunduk di batasan balkon beberapa detik.


"Anda baik-baik saja 'kan?" tanya Vina.


Arkha langsung mengangkat wajahnya dan menghadap ke arah Vina. Ia menggeleng lalu menarik bahu Vina, Arkha memeluk istrinya itu dengan erat.


"Sudah malam, lebih baik kita ngobrol di dalam kamar saja." ajak Arkha sembari mengurai pelukannya.


Vina mengangguk, ia juga merasakan hawa dingin yang melebihi biasanya.

__ADS_1


...


Di kamar


Arkha dan Vina duduk saling berhadapan di sofa yang ada di dalam kamar.


"Kamu akan menepati janjimu untuk tidak pergi 'kan?" tanya Arkha lirih dengan tatapan lekat.


Vina tersenyum tipis sembari meraih tangan suaminya.


"Saya hanya akan pergi meninggalkan anda dan juga Mikhael jika Allah yang memanggil." jawab Vina.


"Sssttt, jangan bicara seperti itu! saya selalu meminta supaya saya yang pergi dulu!" balas Arkha.


"Sudah sudah, kita sedang tidak bersaing untuk itu, Tuan." balas Vina.


Arkha langsung menarik napas dalam-dalam.


"Papa datang ke Indonesia tanpa konfirmasi lebih dulu. Kedatangannya pun hanya untuk memenuhi ambisinya yang ingin menjadi besan temannya itu."


"Tidak ada alasan apapun kecuali saya tidak tertarik sama sekali dengan perempuan itu." jawab Arkha.


Keduanya kembali terdiam sejenak.


"Saya sedang membangun sebuah usaha, dengan berhentinya saya dari perusahaan papa, terpaksa bangunan itu akan saya hentikan sementara waktu, ntah sampai kapan."


"Sementara ini, saya menjadi suami pengangguran, masih ada tabungan saya yang masih cukup untuk biaya sehari-hari."


"Maaf. Saya akan berusaha supaya mempunyai pekerjaan lagi." ucap Arkha.


Mendengar ucapan maaf dari Arkha membuat Vina tersenyum dan juga menitikkan air mata secara bersamaan.


"Kartu yang Tuan berikan ke saya bisa kita gunakan untuk keperluan sehari-hari." ujar Vina.


"Jangan! itu buat kamu, saya berikan itu untuk kamu." tolak Arkha.

__ADS_1


"Tapiii ..," balas Vina yang langsung dipotong oleh Arkha.


"Sudah, do'akan semoga saya segera mendapatkan pekerjaan lagi. Besok rencananya saya akan menemui seorang teman."


"Aamiin." balas Vina sembari menangkupkan kedua telapak tangannya ke wajah.


"Semangat ya." sambung Vina.


"Harus, harus semangat." jawab Arkha.


Arkha mengusap air mata Vina yang sudah menetes di pipi. Ia tidak melepaskan tangannya dari wajah istrinya, justru tatapannya semakin lekat dan semakin dekat.


"Kita bahas besok lagi ya, sekarang waktunya bantu saya untuk menambah energi." bisik Arkha.


Tentu saja Vina langsung paham, meskipun bukan pertama kalinya, ia tetap saja masih merinding dengan kalimat yang dilontarkan oleh suaminya itu, apalagi jika melalui bisikan yang tepat ditelinganya. Dengan malu-malu, Vina mengangguk.


"Di sini ya." ajak Arkha dengan menunjuk sofa yang mereka duduki itu.


Vina kembali mengangguk.


Arkha teringat akan perkataan Lidya sehingga membuatnya semakin semangat melakukan pemanasan itu.


Keduanya sudah sama-sama tanpa sehelai benangpun. Pakaian yang mereka kenakan sudah berhamburan di lantai.


"Saya tidak sabar melihat kamu hamil." tutur Arkha lalu mencium kening Vina setelah mereka selesai.


"Semoga saja." balas Vina sembari tersenyum tipis lalu menutupi wajahnya karena jaraknya dengan Arkha begitu dekat membuatnya salah tingkah sendiri.


Arkha terkekeh gemas.


"Kenapa selalu malu-malu sih, hem?"


"Saya sudah melihat dan merasakan semuanya." goda Arkha sembari meraba-raba tubuh Vina.


"Ihh, jangan begitu ih tangannya! nakal!" balas Vina yang justru membuat Arkha cekikikan.

__ADS_1


__ADS_2